Posted by: majalahopini on: October 20, 2008

MEMBENARKAN SEKOLAH-Siswa-siswi yang baru kali pertama memasuki bangku SMA berlari dilapangan dalam kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang didakan di SMA 1 Temanggung. Model MOS yang memberikan hukuman fisik seperti ini masih terjadi di berbagai sekolah di indonesia (Rr. Anggita/OPINI)
PRIT, prit. Bunyi peluit dari satpam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kimia Industri Theresiana Semarang itu terdengar setiap pagi. Anak-anak sekolah dasar (SD) yang berlari kecil, siswa-siswi SMK Kimia Industri dan bahkan mahasiswa Universitas Diponegoro kemudian menyeberang selagi mobil-mobil di kanan kiri mereka berhenti. Beberapa langsung menuju sekolah, beberapa memilih pergi ke tempat lain alias membolos sekolah. Beberapa belajar dengan tekun di sekolah, beberapa nongkrong di pinggir jalan sambil merokok. Read the rest of this entry »
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
APA yang dimaksud dengan pendidikan karakter?
Pendidikan merupakan proses membantu generasi muda untuk menjadi manusia yang utuh dan penuh. Utuh dan penuh berarti menyangkut semua aspek dalam hidup manusia seperti: intelektualitas (kognitif), sosialitas, moralitas, emosi, afeksi, estetika, religiusitas, kepribadian, dan juga fisik. Semua aspek itu dalam pendidikan perlu dikembangkan. Pendidikan karakter lebih membantu mengembangkan aspek kepribadian, sosialitas, moralitas, emosi, afeksi, estetika, religiusitas yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berkarya. Read the rest of this entry »
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
Oleh : Lailatul Qomariyah
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah OPINI
ADA realitas tak terbantahkan yang menunjukkan tidak semua mahasiswa memiliki ketersadaran akan perannya di masyarakat, terutama bangsa ini. Memprihatinkan sekali ketika penulis melihat seorang mahasiswa yang kembali ke dalam masyarakat, tapi merasa terasing dengan lingkungan yang telah membesarkannya.
Mereka hidup dengan status sosial baru yang tidak lagi menyentuh masyarakat, terutama kelas bawah. Masyarakat yang seharusnya mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan dari mereka para golongan terpelajar. Mereka hidup di menara gading tanpa memahami keadaan masyarakatnya. Akibatnya, masyarakat kita menjadi terkotak-kotak antara rakyat biasa dengan golongan terpelajar, antara yang modern dengan yang tradisional. Read the rest of this entry »
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
”Jika Anda mengira bahwa film ini akan berkisah tentang karya pelukis ternama Leonardo Da Vinci, maka Anda salah”
JUDUL Monalisa Smile dalam film ini hanya-lah penganalogian dari tokoh utama yang selalu tersenyum meskipun sebenarnya setumpuk masalah selalu datang melandanya, seperti lukisan karya Leonardo Da Vinci yang berjudul Monalisa Smile. Meskipun di bibir Sang Monalisa dihiasi dengan seulas senyum, kedua matanya menyiratkan kese-dihan yang mendalam. Read the rest of this entry »
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
Oleh : Rahmi Nuraini
Litbang Opini 2008/2009 dan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi
SEMESTER lalu penulis mengikuti kuliah Komunikasi Gender sebagai mata kuliah pilihan. Yang menarik adalah mata kuliah ini dianggap sebagai mata kuliah yang sulit. Hingga tidak banyak mahasiswa yang berniat untuk mengambilnya. Dalam perkuliahan pun banyak hal menarik yang membuat penulis menjadi lebih tertarik untuk mendalami masalah gender. Masalah yang seringkali dianggap sebagai ancaman karena berani mempertanyakan sebuah kemapanan. Read the rest of this entry »
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
Oleh : Nuriyatul Lailiyah*
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2003, Pernah menjadi delegasi kunjungan mahasiswa ke Malaysia
DI era 1970-an Malaysia me-ngirimkan pelajar, guru dan teknisinya untuk belajar ke Indonesia dan Indonesia mengirimkan guru-gurunya untuk mengajar ke Malaysia. Pada masa tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan Malaysia masih berada jauh di bawah Indonesia. Read the rest of this entry »
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
PADA awalnya aku tak menyukai pagi dan sedikit membenci senja. Saat aku kecil, pagi seperti bel yang memaksaku terjaga dari kenikmatan bermimpi. Jika aku memilih bertahan buat bermalasan, maka ibuku akan segera menyanyikan nada sumbang. Kalau sedang beruntung ditambah khotbah singkat bapakku.
Sementara senja selalu memupus kesenanganku bersama kawan-kawan sepermainan. Orang-orang tua selalu bilang, ”Hampir malam waktunya sambikala!” Senja saatnya setan-setan mulai keluar dari sarang. Karenanya kami harus segera pulang, tak boleh lagi berkeliaran. Maka siapakah yang keliru, ketika kemudian kita takut pada gelap malam? Sejak kecil kita dihadapkan pada bayang-bayang yang menakutkan di balik kelam malam. Tapi bukankah memang demikian sifat manusia? Selalu takut pada hal yang tidak kita mengerti dan tidak bisa kita kuasai. Read the rest of this entry »
Apa Kata Pembaca