<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Majalah OPINI</title>
	<atom:link href="http://majalahopini.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalahopini.wordpress.com</link>
	<description>Media Kritis dan Obyektif Mahasiwa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Oct 2008 12:22:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='majalahopini.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Majalah OPINI</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://majalahopini.wordpress.com/osd.xml" title="Majalah OPINI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://majalahopini.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Membenarkan Sekolah</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/membenarkan-sekolah/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/membenarkan-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 11:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[PRIT, prit. Bunyi peluit dari satpam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kimia Industri Theresiana Semarang itu terdengar setiap pagi. Anak-anak sekolah dasar (SD) yang berlari kecil,  siswa-siswi SMK Kimia Industri dan bahkan mahasiswa Universitas Diponegoro kemudian menyeberang selagi mobil-mobil di kanan kiri mereka berhenti. Beberapa langsung menuju sekolah, beberapa memilih pergi ke tempat lain alias membolos [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=401&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_361" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/membenarkan-sekolah.jpg"><img class="size-full wp-image-361" title="membenarkan-sekolah" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/membenarkan-sekolah.jpg?w=300&#038;h=225" alt="MEMBENARKAN SEKOLAH-Siswa-siswi yang baru kali pertama memasuki bangku SMA berlari dilapangan dalam kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang didakan di SMA 1 Temanggung. Model Orientasi yang memberikan hukuman fisik seperti ini masih terjadi di berbgai sekolah di indonesia" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">MEMBENARKAN SEKOLAH-Siswa-siswi yang baru kali pertama memasuki bangku SMA berlari dilapangan dalam kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang didakan di SMA 1 Temanggung. Model MOS yang memberikan hukuman fisik seperti ini masih terjadi di berbagai sekolah di indonesia (Rr. Anggita/OPINI)</p></div>
<p><strong>PRIT</strong>, prit. Bunyi peluit dari satpam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kimia Industri Theresiana Semarang itu terdengar setiap pagi. Anak-anak sekolah dasar (SD) yang berlari kecil,  siswa-siswi SMK Kimia Industri dan bahkan mahasiswa Universitas Diponegoro kemudian menyeberang selagi mobil-mobil di kanan kiri mereka berhenti. Beberapa langsung menuju sekolah, beberapa memilih pergi ke tempat lain alias membolos sekolah. Beberapa belajar dengan tekun di sekolah, beberapa nongkrong di pinggir jalan sambil merokok. <span id="more-401"></span></p>
<p>Sekolah dipercaya masyarakat se-bagai tempat dimana anak-anak dididik menjadi ’orang yang benar’. Namun, kenyataannya masih banyak anggota masyarakat yang mendapat gelar berpendidikan menjadi pelaku kejahatan.  Bagaimana hal ini bisa terjadi?</p>
<p>”Karena di sekolah kita cuma diajarin hitung-hitungan secara eksak, tidak pernah diajari cara berperilaku yang benar, etika yang benar seperti apa,” jawab Fertilina Hardiyani, siswi kelas 3 IPA SMAN 3 Semarang, ketika ditanyai pendapatnya apa penyebab banyaknya orang berpendidikan yang terlibat kejahatan. ”Hasilnya, manusia punya daya saing, tetapi belum tentu bermoral,” tambahnya.</p>
<p>Pendapat Fertilina ini didukung oleh Singgih Tri Hatmodjo, siswa kelas VII SMPN 10 Semarang. Menurut Singgih, pendidikan Indonesia telah berhasil menghasilkan manusia yang pintar. ”Namun sayang, banyak juga yang menyalahgunakan kepintarannya buat hal-hal yang nggak baik, ” ujarnya lemah.</p>
<p>Mendengar jawaban kedua siswa-siswi ini membuat kita bertanya-tanya? Apa sajakah yang diajarkan di sekolah? Listya Herawati, guru Bahasa Inggris SD N Jombang Semarang, menjelaskan bahwa sekolah mengajarkan bermacam-macam pengetahuan dan pendidikan budi pekerti. ”Namun terkadang siswa mengabaikan pelajaran tentang budi pekerti,” tambahnya.</p>
<p>Singgih membenarkan ucapan Listya ini. ”Kita dapat pelajaran tentang moral pas pelajaran agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Kadang-kadang di pelajaran lain guru juga ngasih nasihat biar jadi orang baik,” ujarnya. ”Kita dapat pelajaran agama 2 jam, PPKn 2 jam,” lanjut Singgih.</p>
<p>Namun, Fertilina menjawab ia merasa tidak mendapat pelajaran moral di sekolah. ”Soalnya selama ini kita tahu pelajaran PPKn cuma pada pilihan a,b,c,d, dan benar semua. Kita tahu teorinya, tapi tidak bisa prakteknya,” ujarnya memberikan alasan.</p>
<p>Dr. Endang Widyorini MS, psikolog, mempunyai pendapat yang sama dengan Fertilina. Ia menyatakan bahwa tujuan pendidikan kita telah melenceng. Menurutnya, tujuan pendidikan formal adalah pembentukan kognisi, afeksi dan psikomotor. Namun, saat ini pendidikan Indonesia hanya menekankan  segi kognisinya dan cenderung mengabaikan yang lain, termasuk moral. ”Di sekolah ada pelajaran tentang moral. Namun, pelajaran moral, seperti PPkn pun, juga cuma hafalan, nggak masuk ke pemahaman,” ujarnya.</p>
<p>Pernyataan Dr. Endang ini tampaknya memang benar. Bila dihitung, total jam yang dijalani siswa-siswi dalam enam hari sekolah sekitar 30 jam. Dari total seluruh jam pelajaran tersebut, porsi pelajaran PPKn dan Pendidikan Agama hanya sekitar 4 jam atau sekitar 1,4%. Jadi, bukanlah hal mustahil seorang siswa atau ketika siswa tersebut setelah dewasa ia menjadi tidak bermoral.</p>
<p>Menurut Endang, kesalahan sistem pendidikan yang terjadi disebab kan oleh adanya modernisasi di Indonesia. ”Pendidikan harusnya tidak lepas dari nilai-nilai budaya kita. Namun, karena ada modernisasi kita jadi seperti kehilangan identitas,” ungkap Endang. ”Pendidikan, dilihat dari kajian psikologi pendidikan, seharusnya membentuk kepribadian yang kuat sebagai manusia dan mempunyai nilai-nilai moral yang baik. Dia (peserta didik, red) juga punya nilai religius yang baik, dan ini bisa dibentuk dengan pendidikan karakter. Dengan begitu dia bisa menentukan harus melangkah kemana, tahu bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain dan tidak merugikan dirinya sendiri.”</p>
<p>Ketika ditanya pendapat mereka bagaimana bila diterapkan pendidikan karakter di sekolah, baik Singgih maupun Fertilina menyambut positif. ”Jadi orang-orang nanti nggak cuma pintar, tetapi juga bermoral baik,” jawab Singgih menyatakan persetujuannya.</p>
<p>Endang menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak bisa terbentuk begitu saja. Ada halangan-halangan yang bisa menghambat terbentuknya pendidikan karakter. ”Orang tua juga berperan membentuk karakter. Begitu juga dengan lingkungan. Jika orang tua dan lingkungan tidak mendukung, akan sulit jadinya. Anak belajar de-ngan mengadopsi perilaku. Apa yang ia lihat, sedikit banyak akan mempengaruhi perilakunya,” jelas Endang.</p>
<p>Fertilina dan Singgih mempunyai pendapat yang sama. Kedua pelajar ini mengaku bahwa perilaku mereka juga dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan. Bahkan keduanya berpendapat bahwa jika seorang anak melakukan kejahatan, itu akibat pengaruh lingkungan bukan Cuma sekolah.</p>
<p>Meski setuju dengan penerapan pendidikan karakter, Fertilina meng-ungkapkan bahwa ia pesimis hal itu bisa dilakukan. ”Harapannya sih penerapan pendidikan karakter itu bisa dilakukan. Tapi kita juga nggak tahu pasti. Sumber daya manusianya sendiri saja berbeda-beda. Bisa saja yang diterapkan sama. Tapi sambutannya beda-beda. Ada yang berpikir ”oh, aku harus kayak gini”, tapi ada juga yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” jelasnya.</p>
<p>”Sebenarnya pendidikan karakter nggak harus secara eksplisit diberikan secara materi. Namun dengan contoh saja. Dengan contoh, siswa akan ikut melakukan. Misalnya, buang sampah di tempatnya, sebelum belajar dimulai berdoa. Itu saja sudah cukup,” Endang menanggapi kecemasan Fertilina.</p>
<p>”Lagipula, sebenarnya pendidikan karakter sudah ada dalam kurikulum pendidikan kita, yang mana ia menjadi kurikulum tersembunyi. Seharusnya, pendidikan karakter menjadi nafas semua kurikulum. Dan inilah yang tidak dilakukan selama ini. Untuk itulah pemerintah perlu melakukan perubahan,” lanjutnya.</p>
<p><strong>(Penulis : Ayu, Reporter : Sina, Gendis, Santy, Editor : Lailatul, Sita)</strong></p>
<p>Berikut Halaman Rubrik liputan utama yang bisa didownload*</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-9.pdf">majalah-opini-35-hal-6</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-9.pdf">majalah-opini-35-hal-7</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-9.pdf">majalah-opini-35-hal-8</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-9.pdf">majalah-opini-35-hal-9</a></p>
<p>*karena ukuran yang cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in Liputan Utama, MAJALAH OPINI 35  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/401/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=401&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/membenarkan-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/membenarkan-sekolah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">membenarkan-sekolah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara Eksklusif: Pendidikan Karakter Solusi Kemerosotan Moral Bangsa</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/wawancara-eksklusif-pendidikan-karakter-solusi-kemerosotan-moral-bangsa/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/wawancara-eksklusif-pendidikan-karakter-solusi-kemerosotan-moral-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara Eksklusif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[APA yang dimaksud dengan pendidikan karakter? Pendidikan merupakan proses membantu generasi muda untuk menjadi manusia yang utuh dan penuh. Utuh dan penuh berarti menyangkut semua aspek dalam hidup manusia seperti: intelektualitas (kognitif), sosialitas, moralitas, emosi, afeksi, estetika, religiusitas, kepribadian, dan juga fisik. Semua aspek itu dalam pendidikan perlu dikembangkan. Pendidikan karakter lebih membantu mengembangkan aspek [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=357&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_358" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/paulus.jpg"><img class="size-full wp-image-358" title="paulus" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/paulus.jpg?w=200&#038;h=188" alt="" width="200" height="188" /></a><p class="wp-caption-text">Dr. Paul Suparno, S.J., M.S.T. (ist)</p></div>
<p><strong>APA</strong> yang dimaksud dengan pendidikan karakter?</p>
<p>Pendidikan merupakan proses membantu generasi muda untuk menjadi manusia yang utuh dan penuh. Utuh dan penuh berarti menyangkut semua aspek dalam hidup manusia seperti: intelektualitas (kognitif), sosialitas, moralitas, emosi, afeksi, estetika, religiusitas, kepribadian, dan juga fisik. Semua aspek itu dalam pendidikan perlu dikembangkan. Pendidikan karakter lebih membantu mengembangkan aspek kepribadian, sosialitas, moralitas, emosi, afeksi, estetika, religiusitas yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berkarya.<span id="more-357"></span></p>
<p>Bagaimana sejarah pendidikan karakter?</p>
<p>Sebenarnya pendidikan zaman dulu selalu menyertakan pendidikan karakter. Misalnya, guru dalam mengajar matematika juga menanamkan semangat daya juang, mengajar siswa menghargai orang lain, melatih siswa mengerjakan matematika dengan kejujuran dan lain-lain. Namun, akhir-akhir ini kentara bahwa sekolah formal terlalu menekankan segi kognitif saja, hanya mencari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan ijazah, sehingga mengesampingkan pendididikan nilai. Salah satu tanda pendidikan nilai atau karakter kurang terwujud adalah adanya praktek tawuran, korupsi, nyontek, seks bebas, narkoba, dan kurangnya daya juang, yang akhir-akhir ini sangat menonjol. Oleh karena itu, dipandang penting menekankan kembali pendidikan karakter.</p>
<p>Bukannya dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan Agama juga diajarkan pendidikan karakter?</p>
<p>Memang pendidikan karakter dapat diajarkan lewat PPKn dan pelajaran agama, tetapi tidak hanya lewat dua pelajaran di atas. Bahkan bila hanya lewat PPKn dan Agama, guru-guru lain nantinya tidak ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan pendidikan karakter. PPKn dan pendidikan agama oleh siswa malah sering dianggap pelajaran sampingan dan kurang dihargai. Maka pendidikan karakter seharusnya diajarkan dan dibantukan lewat semua pelajaran, mulai dari pelajaran Olah Raga, Seni, sampai dengan Fisika. Dengan demikian, semua guru ikut bertanggung jawab membantu siswa dalam mengembangkan karakter</p>
<p>Mengapa pendidikan karakter adalah hal yang penting untuk sistem pendidikan Indonesia sekarang?</p>
<p>Pendidikan karakter di zaman ini semakin penting dan mendesak karena beberapa situasi yang dihadapi zaman ini. Misalnya, pengaruh globalisasi yang menawarkan, di samping sesuatu yang baik, juga nilai yang tidak baik seperti: konsumerisme, seks bebas, narkoba, pelampiasan nafsu manusiawi dengan melupakan hidup imani dan rohani. Kemerosotan karakter berbangsa kita; konflik antarsuku, agama, ras, kepentingan kelompok. Pasar bebas yang menyebabkan hanya orang yang bermutu dan kuat dapat menang sedangkan yang lemah dan tidak bermutu akan mati. Lapangan kerja yang makin sempit, persoalan hidup yang makin kompleks, dan membutuhkan semangat dan daya juga dalam hidup ini. Kepekaan sosial masyarakat yang makin berkurang dan perkembangkan individualisme yang makin tinggi di zaman ini .</p>
<p>Lalu, idealnya Pendidikan karakter diajarkan lewat mana?</p>
<p>Yang ideal pendidikan karakter diajarkan dan dibantukan secara sinergis lewat semua pelajaran, lingkungan sekolah, orang tua, media, dan masyarakat. Tanpa kerja sama semua pihak tersebut, maka pendidikan karakter akan sulit berhasil, bahkan bisa gagal.</p>
<p>Seperti apa penerapannya di sekolah?</p>
<p>Misalnya, kita mau menekankan nilai kejujuran agar korupsi dapat makin dikurangi. Maka suasana sekolah termasuk aturan sekolah juga harus menekankan kejujuran ini, bukan hanya guru lewat pelajaran. Kalau ada karyawan atau guru korupsi juga harus ditindak, bukan hanya siswa.</p>
<p>Bagaimana dengan peran orang tua dalam hal ini?</p>
<p>Orang tua menjadi pendidik karakter yang pertama dan utama bagi siswa. Maka nilai karakter mana yang mau ditekankan sekolah, perlu dikomunikasikan dengan orang tua sehingga ada kerja sama. Misalnya, sekolah menekankan nilai penghargaan kepada orang lain tanpa diskriminasi. Orang tua juga diajak untuk menanamkan nilai ini kepada anaknya. Maka kalau di rumah anaknya diskriminatif, perlu diingatkan. Kalau sekolah menanamkan nilai antinarkoba, maka orang tua juga harus mengerti itu dan membantu suasana di rumah untuk antinarkoba, bukan sebaliknya malah orang tua mengajari anak menjadi narkobais.</p>
<p>Bagaimana dengan masyarakat?</p>
<p>Masyarakat juga menjadi pendidik yang penting. Bila sekolah menekankan pendidikan karakter, tetapi masyarakat luas tidak mendukung, maka pendidikan menjadi berat atau bahkan akan gagal. Misalnya, sekolah menekankan nilai persaudaraan sebagai warga Indonesia, tetapi bila di masyarakat selalu dilihat antarsuku konflik dan saling membunuh, anak akan sulit mengembangkan persatuan. Terutama para pejabat tinggi, wakil rakyat, perlu membantu dalam penegakan nilai ini. Mereka harus menjadi contoh. Di sini banyak soal terjadi, siswa di sekolah dibantu baik, tetapi karena masyarakat masih jelek, anak lalu meniru masyarakat yang jelek.</p>
<p>Bagaimana media bisa berperan dalam pendidikan karakter?</p>
<p>Publikasi atau media sangat penting dalam pendidikan karakter. Acara TV yang isinya melemahkan pendidikan nilai, akan menghambat tertanamnya karakter yang ditekankan. Misalnya, sekolah selalu mengajarkan pentingnya usaha keras dalam hidup ini dan tanggung jawab. Kalau setiap hari anak melihat acara TV dimana tanpa usaha keras, orang berhasil dan yang usaha keras malah gagal hidup, anak akan tergoda untuk tidak mau berusaha. Di sekolah dididik antiseks bebas, tetapi di TV dan media, selalu memperlihatkan orang tua berseks bebas atau gambar porno, akan membuat siswa sulit.</p>
<p>Dari mana pendidikan karakter harus dimulai?</p>
<p>Kalau memang mau ditangani secara baik, maka harus dimulai dari semua sudut. Ini berarti bahwa harus mulai dari sekolah formal, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT), sekolah agama yang ada di masyarakat, orang tua, lingkungan masyarakat, pemerintah, dan lewat media.</p>
<p>Apakah mulai dari generasi muda? Atau generasi tua juga harus paham agar dapat mendidik yang muda?</p>
<p>Sebagaimana pendidikan sendiri adalah proses seumur hidup, yaitu tidak akan berhenti sebelum orang mati, demikian juga pendidikan karakter. Orang harus terus mengembangkan karakternya terus-menerus sampai mati. Maka yang perlu mengalami pendidikkan karakter adalah mulai anak sampai dengan orang dewasa. Apalagi dalam nilai karakter tertentu, ternyata banyak contoh jelek dari orang dewasa. Lihat saja, banyak orang dewasa yang melakukan korupsi di negara ini, juga yang main seks bebas dan kecanduan narkoba. Bangsa ini tidak maju sebenarnya bukan pertama-tama karena anak-anak tidak baik, tetapi karena banyak orang tua dan orang dewasa, termasuk banyak pimpinan yang tidak berkarakter baik. Maka ini menjadi contoh tidak baik dalam pengembangan karakter orang muda.</p>
<p>Apakah pendidikan karakter bisa memengaruhi keberhasilan akademik?</p>
<p>Kalau memang pendidikan karakter menjadi berkembang, dapat dipastikan bahwa akan mempengaruhi peningkatan pendidikan akademik siswa. Misalnya, bila siswa memang selalu jujur dalam tingkah lakunya, dalam penelitian ia akan jujur dengan data penelitian, sehingga analisisnya lebih benar. Kalau anak sungguh disiplin maka akan mempengaruhi kerajinannya belajar sehingga tingkat akademiknya meningkat. Kalau orang punya daya juang yang kuat, maka dalam belajar dan menekuni bidang ilmu, ia tidak akan cepat mundur bila gagal, tetapi akan mencari jalan dan terus melakukan penelitian sehingga berhasil. Banyak sekolah yang menekankan disiplin, kerja keras, kejujuran, daya juang menjadikan kelulusan sekolah itu meningkat tinggi.</p>
<p>Lalu bagaimana caranya mengevaluasi pendidikan karakter yang mengajarkan hal-hal yang tidak bisa diberi nilai secara mutlak?</p>
<p>Dalam konteks sekolah, dapat dilihat pada praktek hidup anak-anak apakah nilai yang ditanamkan berkaitan pengembangan karakter terjadi. Misalnya, nilai kejujuran. Apakah semakin sedikit yang menyontek, semakin sedikit yang menipu, semakin sedikit yang dalam praktikum mengganti data dan lain-lain. Dalam konteks masyarakat, memang lebih sulit dievaluasi. Tetapi akan nampak bahwa suasana hidup bersama, kerja, dan sosial makin baik.</p>
<p>Apa hambatan yang dihadapi dalam menerapkan pendidikan karakter?</p>
<p>Ada banyak hambatan yang terjadi yang perlu dihadapi bila kita ingin menanamkan pendidikan karakter. Hambatan utamanya adalah pendidikan karakter hanya berhenti pada teori, dan tidak sampai pada praktek dan  kebiasaan hidup. Misalnya, hanya mengajarkan kejujuran, tetapi tidak ada aturan atau pelaksanaannya di sekolah. Kemudian, tidak semua warga sekolah terlibat. Guru, kepala sekolah, yayasan, dan pegawai seluruh sekolah tidak terlibat dalam pendidikan karakter. Orang tua tidak diikutkan dan orang tua malah mengajarkan nilai lain. Lingkungan masyarakat dan pimpinan masyarakat yang hidup bertentangan dengan nilai karakter yang ditekankan. Misalnya, diajarkan kerukunan dan persaudaraan di sekolah, tetapi di masyarakat para pimpinan saling berperang dan membunuh.</p>
<p>Apakah pendidikan karakter mendukung pembangunan atau kemajuan bangsa? Dalam wujud apa?<br />
Kemajuan bangsa Indonesia tergantung banyak hal dan sangat kompleks. Banyak unsur mempengaruhi seperti karakter orang-orangnya, inteligensi dan keunggulan berpikir warganya, sinerginya para pimpinan dan warga dalam menghadapi persoalan bangsa, aturan hukum yang benar dan ditaati, kerelaan untuk saling membantu demi kepentingan warga keseluruhan, pengelolaan kekayaan negara, dan lain-lain. Pendidikan karakter merupakan salah satu segi yang membantu perkembangan, tetapi tidak dapat sendirian. Maka dalam pendidikan semua segi perlu diperhatikan. Namun, pendidikan karakter dapat menjadi pendukung yang mendalam bagi segi yang lain, karena menyangkut semangat, hati, dan sikap hidup seseorang.</p>
<p>Seperti apa karakter yang penting bagi bangsa ini?</p>
<p>Dalam konteks karakter berbangsa Indonesia, menurut saya ada beberapa isi yang perlu mendapatkan tekanan, sehingga bangsa ini dapat semakin berkembang dan maju. Pertama, penghargaan kepada manusia, pribadi lain, Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga orang rela hidup bersama dan bekerja sama meski berlainan iman, ras, suku, serta tingkat ekonomi. Kedua, tanggung jawab terhadap kehidupan berbangsa. Ini penting bila negara ini masih mau dipertahankan sebagai kesatuan. Ketiga, nilai demokrasi yang menekankan semangat nondiskriminasi dan nonopresif. Keempat, kejujuran, sehingga mengurangi persoalan korupsi di berbagai segi kehidupan. Kelima, kekritisan dalam menerima informasi dan pengaruh globalisasi. Keenam, daya juang dalam hidup sehingga tidak mudah putus asa bila ada persoalan dan tantangan. Dan terakhir, moralitas yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah antinarkoba, antiseks bebas, dan antikonsumerisme .<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>(Penulis : Ayu, Editor : Lailatul, Sita)</strong></p>
<p>Berikut Halaman Rubrik ini yang bisa didownload*</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-11.pdf">majalah-opini-35-hal-10</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-12.pdf">majalah-opini-35-hal-11</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-13.pdf">majalah-opini-35-hal-12</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-14.pdf">majalah-opini-35-hal-13</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-14.pdf">majalah-opini-35-hal-14</a></p>
<p>*karena ukuran yang cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in Liputan Utama, MAJALAH OPINI 35, Wawancara Eksklusif  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=357&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/wawancara-eksklusif-pendidikan-karakter-solusi-kemerosotan-moral-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/paulus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">paulus</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Versus Masyarakat</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/mahasiswa-versus-masyarakat/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/mahasiswa-versus-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Lailatul Qomariyah Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah OPINI ADA realitas tak terbantahkan yang menunjukkan tidak semua mahasiswa memiliki ketersadaran akan perannya di masyarakat, terutama bangsa ini. Memprihatinkan sekali ketika penulis melihat seorang mahasiswa yang kembali ke dalam masyarakat, tapi merasa terasing dengan lingkungan yang telah membesarkannya. Mereka hidup dengan status sosial baru yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=324&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Lailatul Qomariyah<br />
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah OPINI</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 122px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/lailatul-qomariah-2.jpg"><img class="size-full wp-image-500" title="lailatul-qomariah-2" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/lailatul-qomariah-2.jpg?w=112&#038;h=168" alt="Lailatul Qomariah (dok/opini)" width="112" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">Lailatul Qomariah (dok/opini)</p></div>
<p><strong>ADA </strong>realitas tak terbantahkan yang menunjukkan tidak semua mahasiswa memiliki ketersadaran akan perannya di masyarakat, terutama bangsa ini. Memprihatinkan sekali ketika penulis melihat seorang mahasiswa yang kembali ke dalam masyarakat, tapi merasa terasing dengan lingkungan yang telah membesarkannya.</p>
<p>Mereka hidup dengan status sosial baru yang tidak lagi menyentuh masyarakat, terutama kelas bawah. Masyarakat yang seharusnya mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan dari mereka para golongan terpelajar. Mereka hidup di menara gading tanpa memahami keadaan masyarakatnya. Akibatnya, masyarakat kita menjadi terkotak-kotak antara rakyat biasa dengan golongan terpelajar, antara yang modern dengan yang tradisional.<span id="more-324"></span></p>
<p>Hal ini disebabkan mahasiswa Indonesia terhinggapi virus pragmatisme dan apatisme. Di sisi lain, sistem pendidikan yang berlaku cenderung mendukung tersebarnya virus pragmatisme dan apatisme karena sepertinya hanya membentuk mahasiswa yang pintar dan terampil serta berorientasi kerja untuk memenuhi permintaan pasar.Virus ini telah sukses menggiring mahasiswa ke sisi tragis mahasiswa. Tragis karena virus ini telah berhasil “membunuh” atau setidaknya “membonsai” karakter khas mahasiswa, yakni idealisme dan daya kritis.</p>
<p>Kita menyaksikan mahasiswa yang terasing dari masyarakatnya. Mereka berusaha lulus cepat, tetapi hanya untuk mengisi barisan pencari kerja, tidak peduli dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, individualis bahkan hedonis. Mahasiswa seperti inilah yang disebut oleh Hariman Siregar dengan mahasiswa mental kerupuk.</p>
<p>Mereka mungkin tercerahkan secara akademis atau intelektual, tetapi mereka belum tercerahkan secara moral dan politik. Mereka bukannya tak bermoral atau tak berpolitik. Namun moralitas tersebut pasif, tidak memiliki elemen vital yang melahirkan gerak. Kalau pun mereka berpolitik, aktivitas politiknya didasari anggapan bahwa politik itu 100% kotor, jijik, dan tidak mungkin ada politik yang bersih.</p>
<p>Dari sinilah dibutuhkan sebuah rekayasa sosial yang konseptual dan sistematis untuk melakukan pencerahan moral dan politik terhadap mahasiswa, sehingga mereka menyadari tanggung jawabnya yang bukan sekedar tanggung jawab akademis, namun juga tanggung jawab sosial, moral, politis serta kesejarahan. Keseluruhan tanggung jawab tersebut inheren dalam diri mahasiswa seiring dengan berubahnya status dan identitas menjadi mahasiswa. Keseluruhan tanggung jawab tersebut merupakan konsekuensi identitas mahasiswa.</p>
<p>Yang Tercerahkan</p>
<p>Mahasiswa adalah generasi pemimpin yang akan menjalankan negeri ini. Mereka yang menciptakan gagasan-gagasan besar, menjadi motor penggerak dan menggulirkan perubahan di negeri ini. Merujuk pendapat Ali Syari’ati, kepemimpinan suatu bangsa harus dipegang oleh orang-orang yang tercerahkan (rau-syanfikr). Siapa yang tercerahkan itu? Dialah orang yang sadar akan keadaan kemanusiaan (human condition) di masanya, serta setting kesejarahannya dan kemasyarakatannya. Kesadaran tersebut dengan sendirinya akan memberi tanggung jawab sosial. Jika ia seorang mahasiswa maka ia akan menjadi golongan yang berpengaruh terhadap lingkungannya.</p>
<p>Orang yang tercerahkan bukanlah golongan ilmuwan, filsuf, seniman, mistikus, pendeta, ustad, ataupun ulama yang terbelenggu dalam konsep-konsep abstrak dan tenggelam dalam penyelidikan-penyelidikan dan penemuan-penemuan ilmiah atau batiniah mereka sendiri.</p>
<p>Mereka adalah individu-individu yang sadar dan bertanggung jawab, untuk membangkitkan karunia Tuhan yang mulia, yaitu kesadaran diri dari masyarakat. Hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi kekuatan dinamis dan kreatif. Perubahan itu, pada akhirnya, akan melahirkan jenius-jenius besar yang kelak akan menciptakan peradaban, kebudayaan, dan tokoh-tokoh yang besar.</p>
<p>Orang yang tercerahkan harus bertindak layaknya nabi bagi masyarakatnya. Dia harus menyerukan kesadaran, kebebasan, dan keselamatan bagi rakyat yang tuli dan tersumbat, menggelorakan suatu keyakinan baru di dalam hati mereka dan menunjukkan kepada mereka arah sosial dalam masyarakat mereka yang mandeg.</p>
<p>Mereka mempunyai tanggung jawab yang pasti: memahami status quo, menemukan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam dan daya manusia untuk memperbaiki kehidupan material rakyat. Mereka mengajarkan kepada masyarakat bagaimana caranya berubah dan akan ke mana perubahan itu. Mereka menjalankan misi ‘menjadi’ dan merintis jalan dengan menjawab pertanyaan, ‘ akan menjadi apa kita ini?’</p>
<p>Orang yang tercerahkan bukanlah seorang ilmuwan yang telah belajar ke luar negeri, yang dengan pengetahuannya bisa mengisi kuliah di mana-mana, bukan pula seorang yang ahli dalam berbagai bidang keilmuan, tetapi tidak memahami kondisi masyarakatnya. Dengan keahlian yang mereka tidak dengan sendirinya membawanya ke titik pemahaman akan penderitaan batin masyarakatnya atau memungkinkannya untuk melahirkan kesadaran diri pada rakyat, mengarahkan tujuan dan cita-cita bersama mereka.</p>
<p>Orang yang tercerahkan bukan pula seorang ulama yang hanya berlindung di balik eksistensi keyakinan agamanya. Mereka melakukan upacara-upacara keagamaan, memberi slogan-slogan, dan melakukan indoktrinasi kepada masyarakat sehingga masyarakat tenggelam dalam keadaannya sendiri. Orang-orang yang menindas rakyat atas nama agama, membenarkan pemerintahan yang korup atas nama agama, dan meraih kekuasaan atas nama agama juga.</p>
<p>Tanggung jawab besar orang yang tercerahkan adalah menentukan penyebab keterbelakangan, kebobrokan, dan kemandegan masyarakatnya. Mereka harus mampu mendidik masyarakatnya yang bodoh dan masih tertidur, mengenai alasan-alasan dasar bagi nasib sosiohistoris mereka yang tragis. Dengan mengetahui kondisi masyarakatnya, ia harus mampu menentukan pemecahan-pemecahan rasional yang akan memungkinkan rakyatnya membebaskan diri dari status quo.</p>
<p>Berdasarkan pemanfaatan yang tepat atas sumber-sumber daya terpendam di dalam masyarakatnya dan diagnosis yang tepat pula atas penderitaan rakyat. Dia harus bisa menemukan hubungan sebab-akibat antara kesengsaran, penyakit sosial, kelainan-kelainan serta berbagai faktor internal maupun eksternal lainnya. Akhirnya, orang yang tercerahkan harus mengalihkan pemahaman, tidak hanya dalam komunitasnya saja, tetapi juga  ke dalam masyarakat secara keseluruhan.</p>
<p>Peran rausyanfikr dalam perubahan masyarakat dalam pemikiran Ali Syari’ati, sebangun dengan apa yang pernah dibayangkan oleh Antonio Gramsci tentang intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual menjadi dua kategori, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi. Sebaliknya, intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili.</p>
<p>Intelektual organik itu, menurut Gramsci, tidak harus mereka yang fasih berbicara dan berpenampilan seorang intelektual, tetapi lebih dari itu, yaitu mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasehat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak. Dari mana kita harus memulai? <strong>(*)</strong></p>
<h5>berikut halaman rubrik ini yang bisa didownload*</h5>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-43.pdf">majalah-opini-35-hal-43</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-43.pdf"></a><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-44.pdf">majalah-opini-35-hal-44</a></p>
<h5>*karena ukuran yang cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</h5>
<br />Posted in Kolom, MAJALAH OPINI 35  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=324&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/mahasiswa-versus-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/lailatul-qomariah-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lailatul-qomariah-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resensi Film : Monalisa Smile</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/resensi-film-monalisa-smile/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/resensi-film-monalisa-smile/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[”Jika Anda mengira bahwa film ini akan berkisah tentang karya pelukis ternama Leonardo Da Vinci, maka Anda salah” JUDUL Monalisa Smile dalam film ini hanya-lah penganalogian dari tokoh utama yang selalu tersenyum meskipun sebenarnya setumpuk masalah selalu datang melandanya, seperti lukisan karya Leonardo Da Vinci yang berjudul Monalisa Smile. Meskipun di bibir Sang Monalisa dihiasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=271&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong>”Jika Anda mengira bahwa film ini akan berkisah tentang karya pelukis ternama Leonardo Da Vinci, maka Anda salah”</strong></p>
<div id="attachment_497" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/mona-lisa-smiles.jpg"><img class="size-full wp-image-497" title="mona-lisa-smiles" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/mona-lisa-smiles.jpg?w=300&#038;h=274" alt="Para Pemeran Wanita dalam film Monalisa Smile (ist)" width="300" height="274" /></a><p class="wp-caption-text">Para Pemeran Wanita dalam film Monalisa Smile (ist)</p></div>
<p><strong>JUDUL </strong>Monalisa Smile dalam film ini hanya-lah penganalogian dari tokoh utama yang selalu tersenyum meskipun sebenarnya setumpuk masalah selalu datang melandanya, seperti lukisan karya Leonardo Da Vinci yang berjudul Monalisa Smile. Meskipun di bibir Sang Monalisa dihiasi dengan seulas senyum, kedua matanya menyiratkan kese-dihan yang mendalam. <span id="more-271"></span></p>
<p>Perempuan berhak untuk mengejar impiannya sendiri, tanpa harus ada paksaan dari orang lain. Perempuan juga bebas menentukan jalan yang akan dilalui dalam hidupnya, tanpa harus terjebak dalam tradisi yang berlaku dalam masyarakat. Intinya, apa pun yang kelak dipilih oleh seorang perempuan, entah menjadi ibu rumah tangga, wanita karier atau bahkan keduanya, hal tersebut seharusnya merupakan keputusan yang ia pilih atas kesadarannya sendiri. Tanpa paksaan dari siapa pun dan tanpa dikekang oleh apa pun.</p>
<p>Kurang lebih seperti itulah tema yang ingin diangkat oleh sutradara Mike Newell dalam film garapannya yang berjudul Monalisa Smile. Film yang dibintangi oleh artis kawakan Julia Roberts ini bercerita tentang perjuangan seorang guru untuk merubah tradisi yang berlangsung. Tradisi yang menempatkan perempuan sebagai individu nomor dua setelah laki-laki. Tradisi yang mengharuskan seorang perempuan untuk “rela” menyerahkan seluruh  hidupnya demi meng-abdi pada laki-laki yang menjadi suaminya. Dan tradisi yang seolah memaksa seorang perempuan untuk mengubur dalam-dalam seluruh impiannya di depan gerbang pernikahan.</p>
<p>Kisah yang berlatar belakang tahun 1953-1954 ini berawal dari kedatangan Katherine Watson (Julia Roberts), seorang lulusan University of California Los Angeles (UCLA), di sebuah kampus bernama Wellesley College di daerah New England. Di kampus khusus wanita inilah kemudian ia diterima sebagai pengajar mata kuliah sejarah seni.</p>
<p>Pada awalnya, Watson yang memang berpikiran maju, merasa sangat antusias untuk mengajar. Dia berharap bahwa di kampus tersebut ia akan bertemu dengan siswa-siswa cerdas dan modern yang juga berpikiran maju sepertinya.</p>
<p>Namun ternyata,  kenyataan yang terjadi sedikit di luar dugaan. Siswa-siswa di kampus tersebut memang cerdas, bahkan bisa dikatakan sangat cerdas. Saking cerdasnya, sehingga di hari pertama Watson mengajar, ia harus rela salah tingkah dan berkeringat dingin. Pasal-nya, seluruh siswa di kelasnya telah mempelajari dan menghafalkan seluruh bahan kuliah yang tertera dalam silabus. Watson yang masih tercengang akan kecerdasan siswa-siswanya tersebut dibuat makin salah tingkah ketika salah satu siswanya dengan angkuh mengatakan, ”Kalau memang tak ada lagi yang diberikan, kami bisa pulang kan?”.</p>
<p>Berawal dari situlah Watson menyadari bahwa perjuangannya di kampus tersebut tidak akan berjalan dengan mudah. Namun, bukan Katherine Watson namanya kalau kemudian ia menyerah pada keadaan. Dihadapkan dengan kenyataan yang pelik itulah yang kemudian mendorongnya untuk melakukan sebuah perubahan.</p>
<p>Setelah mengetahui bahwa seluruh siswanya telah menghafalkan seluruh isi silabus, maka Watson mencari alternatif lain. Ia pun menyiapkan materi di luar silabus yang akhir-nya berhasil membuatnya mendapat perhatian dari para siswa.<br />
Untuk sejenak, Watson bisa merasa lega karena satu persoalan telah terpecahkan. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Ia harus kembali dihadapkan dengan kenyataan pelik bahwa lingkungan tempatnya mengajar ternyata tidak dapat menerima perubahan. Watson pun kemudian mendapat peringatan dari institusi tempatnya mengajar agar tidak memberikan materi di luar silabus.</p>
<p>Segalanya menjadi semakin sulit ketika  ia harus menerima kenyataan lain bahwa meskipun cerdas dan angkuh, ternyata cara berpikir para siswanya masih kuno. Mereka masih terjebak pada tradisi yang menciptakan pola pikir bahwa tujuan utama dalam hidup mereka adalah menikah dan mempunyai anak. Seberapa pun cerdasnya mereka, mereka hanya harus menunggu seorang laki-laki yang akan datang melamarnya, menikah, diwisuda, mempunyai anak dan yang terakhir menjalankan peran mereka sebagai ibu rumah tangga yang baik. Impian untuk memiliki karier yang cemerlang tetap hanya sebatas impian tanpa ada usaha untuk mewujudkannya.</p>
<p>Watson kemudian bertekad untuk merubah pola pikir tersebut. Setiap ada kesempatan, ia berusaha menyadarkan para siswanya agar berusaha untuk maju. Mereka cerdas dan memiliki kemampuan untuk memiliki karier cemerlang yang mereka inginkan. Mereka juga dapat menjalankan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier secara bersamaan. Kira-kira seperti itulah yang berusaha disampaikan oleh Watson kepada para siswanya.</p>
<p>Bagi beberapa siswanya, Joan Brandwyn (Julia Stiles), Giselle Levy (Maggie Gyllenhaal), dan Connie Baker (Ginnifer Goodwin), apa yang dikatakan oleh Watson mulai sedikit mempengaruhi mereka. Bahkan Joan Brandwind yang saat itu sedang menunggu untuk dilamar oleh kekasihnya, sempat mengutarakan niatnya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Yale. Brandwind sebenarnya bercita-cita menjadi seorang pengacara handal. Namun, selama ini ia masih bingung memilih antara mengejar karier atau menjadi ibu rumah tangga.</p>
<p>Di tengah usahanya untuk mendorong Brandwyn agar mendaftar ke Universitas Yale, rupanya Watson menghadapi tantangan dari para pejabat dan alumni kampus. Tak hanya itu, salah satu siswanya yang terpandai yaitu Betty Warren (Kirsten Dunst) juga tak henti menyerang Watson lewat tulisan-tulisannya di majalah kampus. Walaupun harus menerima tekanan dari berbagai arah, Watson tak gentar. Ia tetap berusaha membuka mata para siswanya untuk maju. Usaha itu akhirnya berbuah ketika Brandwind diterima di universitas Yale.</p>
<p>Watson memang telah membawa pelajaran baru bagi para siswanya. Pelajaran yang mengajarkan mereka bahwa perempuan juga berhak mengejar impiannya. Namun, sepertinya tak hanya para siswa yang mendapat pelajaran.</p>
<p>‘’Ini pilihanku. Aku memang tidak bisa pergi ke Yale, tapi kelak aku akan menyesal kalau tidak menikah dan membesarkan anak-anakku sen-diri,’’ ujar Brandwyn ketika akhirnya ia memutuskan untuk tidak pergi ke Yale dan lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Dari ucapan Brandwyn tersebut, akhirnya Watson pun sedikit banyak belajar bahwa menjadi ibu rumah tangga juga bukan merupakan pilihan yang buruk. Menjadi ibu rumah tangga juga bukan berarti kuno dan tidak maju. Nilai seorang wanita tidak dapat ditentukan hanya dari profesi yang mereka geluti. Apa pun pilihan seorang perempuan, yang terpenting adalah hal tersebut benar-benar merupakan keputusan yang ia ambil dengan kesadaran penuh tanpa paksaan dari siapa pun.</p>
<p>Secara garis besar, film yang menggandeng beberapa nama yang sudah tak asing lagi di dunia perfilman internasional ini cukup menarik. Setting tahun 1953-an dalam film ini digambarkan dengan sangat apik hingga para penonton seolah benar-benar diajak untuk kembali ke masa lalu. Nuansa feminisme yang kental dalam film ini juga menjadi daya tarik sendiri bagi para penonton. Meskipun kisah ini berfokus pada problematika yang melanda sekelompok perempuan, bukan berarti film ini tak layak dinikmati oleh kaum laki-laki. Dari film ini (seharusnya) laki-laki juga bisa banyak belajar dan banyak tahu mengenai permasalahan kaum perempuan.</p>
<p>Jadi, bagi Anda yang belum menonton film ini, tidak ada salahnya jika Anda menyempatkan waktu untuk menontonnya. Akan ada banyak pelajaran yang dapat Anda petik dari kisah Watson dan orang-orang di sekitarnya.<br />
<strong><br />
(Penulis : Santy, Editor : Ayu, Lala)</strong></p>
<p>Film : Monalisa Smile<br />
Sutradara: Mike Newell.<br />
Produksi: Revolution Studios dan Columbia Pictures.<br />
Tayang : Tahun: 2003.<br />
Penulis Naskah: Lawrence Konner dan Mark Rosenthal.<br />
Dibintangi: Julia Roberts, Kirsten Dunst, Maggie Gyllenhaal, Julia Stiles, dan masih banyak lagi. Penghargaan:<br />
Nominasi Golden Globe</p>
<p>Berikut Halaman dari Rubruk Resensi ini yang bisa didownload*</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-57.pdf">majalah-opini-35-hal-57</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-58.pdf">majalah-opini-35-hal-58</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-59.pdf">majalah-opini-35-hal-59</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-60.pdf">majalah-opini-35-hal-60</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in MAJALAH OPINI 35, Resensi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=271&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/resensi-film-monalisa-smile/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/mona-lisa-smiles.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mona-lisa-smiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyoal Pendidikan yang Berbasis Gender</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/menyoal-pendidikan-yang-berbasis-gender/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/menyoal-pendidikan-yang-berbasis-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rahmi Nuraini Litbang Opini 2008/2009 dan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi SEMESTER lalu penulis mengikuti kuliah Komunikasi Gender sebagai mata kuliah pilihan. Yang menarik adalah mata kuliah ini dianggap sebagai mata kuliah yang sulit. Hingga tidak banyak mahasiswa yang berniat untuk mengambilnya. Dalam perkuliahan pun banyak hal menarik yang membuat penulis menjadi lebih tertarik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=327&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Rahmi Nuraini<br />
Litbang Opini 2008/2009 dan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi</strong></p>
<p><strong><br />
SEMESTER</strong> lalu penulis mengikuti kuliah Komunikasi Gender sebagai mata kuliah pilihan. Yang menarik adalah mata kuliah ini dianggap sebagai mata kuliah yang sulit. Hingga tidak banyak mahasiswa yang berniat untuk mengambilnya. Dalam perkuliahan pun banyak hal menarik yang membuat penulis menjadi lebih tertarik untuk mendalami masalah gender. Masalah yang seringkali dianggap sebagai ancaman karena berani mempertanyakan sebuah kemapanan.<span id="more-327"></span></p>
<p>Gender sendiri merupakan pelabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Dasar sosialisasi ini secara kuat telah membentuk ideologi gender, melalui kontruksi sosial yang melembaga. Misalnya, perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, jantan. (Fakih, 2006 : 8).</p>
<p>Perempuan dikontruksikan sebagai makhluk yang perlu dilindungi, kurang mandiri, tidak rasional, hanya mengandalkan perasaan, dan lain-lain. Konsekuensinya, muncul batasan-batasan yang menempatkan perempuan pada ruang penuh dengan aturan baku yang perlu dijalankan. Padahal, banyak sisi positif dari perempuan yang membedakannya dengan laki-laki dan jarang diekspos. Yaitu watak dan karakter perempuan yang terbuka, tekun, penyabar dan jujur.</p>
<p>Perempuan dan laki-laki dibedakan atas dasar kepantasannya. Kemudian dibuatkan label yang ditempelkan pada masing-masing jenis untuk membedakan dan menciptakan pandangan stereotif bagi laki-laki dan perempuan. Pandangan stereotip ini kemudian mengaburkan pandangan terhadap manusia secara pribadi, karena memasukkan setiap jenis manusia dalam kotak stereotip.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang pribadi baik perempuan dan laki-laki dianggap tidak pantas apabila “keluar dari kotak tersebut”. Ia akan merasa bersalah, apabila tidak memenuhi kehendak sosial dan label yang diciptakan. Pandangan ini terus dibakukan melalui tradisi berabad-abad, sehingga dianggap kodrat yang tidak dapat diubah. Seolah-olah ciri perempuan dan laki-laki sudah terkunci mati.</p>
<p>Pada dasarnya, selama pandangan ini tidak mengarah pada hubungan yang tidak adil, tidak menjadi masalah. Namun ternyata, perbedaan ini menciptakan diskriminasi yang timpang dengan pihak perempuan pada posisi yang dirugikan. Dalam buku Analisis Sosial dan Tranformasi Sosial (2006, 13) disebutkan bahwa ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yaitu marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi dalam keputusan politik, pembentukan stereotip dalam pelabelan negatif, kekerasan, pembebanan kerja yang lebih panjang serta sosialisasi nilai peran gender.</p>
<p>Diskriminasi ini apabila tidak dipersoalkan akan menjadi keras dan keji, akhirnya sampai pada tindakan yang tidak manusiawi (dehumanisasi) bagi perempuan dan bahkan bagi laki-laki.</p>
<p>Marginalisasi perempuan, telah menempatkan atau menggeser perempuan ke pinggiran. Akibatnya, perempuan selalu dinomorduakan apabila ada kesempatan untuk memimpin. Perempuan selalu menjadi second class yang dinomorduakan ketika bersanding dan berkompetisi dengan laki-laki, hingga muncul kejenuhan-kejenuhan dari perempuan untuk memperjuangkan kepentingannya. Akhirnya, tak banyak yang bertahan di garda depan menyuarakan nasib perempuan. Sementara yang lain menyerah dengan berkompromi atau lebih buruk menerima konstruksi sebagai kodrat yang terberi.</p>
<p>Media pun dalam hal ini turut memperkuat konstruksi perempuan yang demikian, baik melalui tayangan maupun iklan yang dibuat. Misalnya, bagaimana perempuan dikonstruksi harus menjadi cantik melalui iklan-iklan kosmetik dan bagaimana perempuan harus menjadi ibu rumah tangga yang baik melalui iklan-iklan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, tidak banyak pihak yang sadar akan hegemoni gender yang telah menyetir kehidupan perempuan. Dari sini, perlu diupayakan pendidikan yang berbias gender, yaitu dengan tidak melakukan pembedaan atas perempuan dan laki-laki serta berupaya membongkar strereotip yang timpang.</p>
<p>Sebenarnya pendidikan berbasis gender jangan diterjemahkan sebagai upaya perempuan melawan laki-laki. Bukan demikian. Namun, bagaimana perempuan dapat mendapatkan kesetaraan nonkodrati. Yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan  perlindungan, pelayanan dan kesejahteraan kaum perempuan.</p>
<p>Senada dengan empat agenda yang menjadi fokus pemerintah dalam mengupayakan persamaan gender. Pertama, perlindungan terhadap kaum perempuan dari kekerasan, kejahatan dan tindakan yang ekstrim. Kedua, peningkatan kualitas hidup perempuan sesuai dengan indeks pembangunan manusia. Ketiga, memajukan dan mengembangkan kaum perempuan di segala bidang baik politik, ekonomi maupun sosial. Keempat memastikan bahwa tatanan kehidupan UU dan peraturan lainnya harus adil, tidak bias gender, dan tidak diskriminatif.</p>
<p>Jika perempuan tidak diberikan kesempatan berprestasi dan berkontribusi kepada bangsa dan negara, sebagaimana juga kaum lelaki, program pemerintah tersebut tidak akan mungkin tercapai.</p>
<p>Pendidikan gender sendiri merupakan salah satu upaya dalam mendekonstruksi ideologi, yaitu mempertanyakan kembali segala sesuatu yang menyangkut nasib perempuan di mana saja, pada tingkat dan bentuk apa saja, berbasis pendidikan kritis (critical education). Pendidikan ini dapat membantu perempuan memahami pengalaman dan menolak ideologi serta norma yang dipaksakan pada mereka (Weiler, 1988 dalam Fakih, 2006 : 152). Di mana tujuan akhirnya adalah untuk melahirkan gagasan dan nilai baru yang menjadi dasar bagi transformasi gender. <strong>(*)</strong></p>
<p><strong>(http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=733)</strong></p>
<p>Berikut Halaman rubrik kolom yang bisa didownload*</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-41.pdf">majalah-opini-35-hal-41</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-42.pdf">majalah-opini-35-hal-42</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in Kolom, MAJALAH OPINI 35  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=327&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/menyoal-pendidikan-yang-berbasis-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejenak Menengok Pendidikan di Negeri Jiran</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/sejenak-menengok-pendidikan-di-negeri-jiran/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/sejenak-menengok-pendidikan-di-negeri-jiran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Nuriyatul Lailiyah* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2003, Pernah menjadi delegasi kunjungan mahasiswa ke Malaysia DI era 1970-an Malaysia me-ngirimkan pelajar, guru dan teknisinya untuk belajar ke Indonesia dan Indonesia mengirimkan guru-gurunya untuk mengajar ke Malaysia. Pada masa tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan Malaysia masih berada jauh di bawah Indonesia. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=350&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Nuriyatul Lailiyah*<br />
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2003, Pernah menjadi delegasi kunjungan mahasiswa ke Malaysia</strong><br />
<strong></strong></p>
<div id="attachment_513" class="wp-caption alignleft" style="width: 150px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/elin1.jpg"><img class="size-full wp-image-513" title="nuriyatul-lailiyah" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/elin1.jpg?w=140&#038;h=195" alt="Nuriyatul Lailiyah (ist)" width="140" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">Nuriyatul Lailiyah (ist)</p></div>
<p><strong>DI</strong> era 1970-an Malaysia me-ngirimkan pelajar, guru dan teknisinya untuk belajar ke Indonesia dan Indonesia mengirimkan guru-gurunya untuk mengajar ke Malaysia. Pada masa tersebut, dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan Malaysia masih berada jauh di bawah Indonesia.<span id="more-350"></span></p>
<p>Ibarat lari di tempat atau lari mundur ke belakang, Indonesia tersalip oleh Malaysia dalam hal pendidikan. Ketika Indonesia masih berkutat pada upaya pemerataan pendidikan lewat pembangunan sekolah-sekolah dasar Inpres, Malaysia sudah berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan.</p>
<p>Ketika Indonesia disibukkan perdebatan soal “ganti menteri ganti kurikulum”, Malaysia sudah menggagas apa yang mereka sebut demokratisasi pendidikan, yaitu pemerataan pendidikan untuk semua rakyat tanpa memandang tingkat ekonomi, kondisi fisik, wilayah, dan lain-lain.</p>
<p>Ketika tokoh dan birokrat pendidikan di Indonesia sibuk berdebat tentang bagaimana sebaiknya sistem pendidikan nasional -belakangan tentang realisasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN/APBD- Malaysia sudah bicara tentang bagaimana strategi mewujudkan suatu sistem pendidikan bertaraf internasional.</p>
<p>Keinginan untuk go international langsung dituangkan dalam rumusan misi utama Kementerian Pendidikan Malaysia, yang berbunyi, “Mewujudkan sistem pendidikan bertaraf dunia bagi merealisasikan potensi sepenuhnya setiap individu, di sam-ping memenuhi aspirasi masyarakat Malaysia.”</p>
<p>Meski hubungan Indonesia dan Malaysia tidak stabil, saat ini Malaysia masih merupakan salah satu negara bidikan para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu. Unggul dalam kualitas, murahnya biaya pendidikan, kelengkapan fasilitas, banyaknya peluang untuk mendapatkan beasiwa, merupakan sederet alasan mengapa pelajar-pelajar Indonesia menuntut ilmu di Negeri Jiran ini.</p>
<p>Bila dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara yang lain, kondisi pembangunan manusia Indonesia termasuk tertinggal. Indonesia jauh tertinggal dari Malaysia, Thailand, dan Filipina. Berdasarkan Ranking Indeks Pembangunan Manusia (UNDP, 2006), posisi Indonesia (ranking 108) berada jauh di bawah Singapura (ranking 25), Brunei Darussalam (ranking 34), Malaysia (ranking 61), Thailand (ranking 74), Filipina (ranking 84). Posisi Indonesia sedikit lebih baik dari Vietnam (ranking 109).</p>
<p>Menurut data Human Development Report (UNDP, 2006), pengeluaran publik untuk pendidikan di Malaysia tahun 1990 sebesar 18,3% dari total pengeluaran pemerintah. Untuk tahun 2000-2002, pemerintah Malaysia menganggarkan untuk bidang pendidikan sebesar 20,3% dari total pengeluaran negara.</p>
<p>Bandingkan dengan Indonesia yang pada tahun 2003 hanya meng-anggarkan 14 Trilyun rupiah atau 4,9% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan. Jumlah ini lebih kecil  bila dibandingkan anggaran untuk pertahanan sebesar 25 trilyun rupiah atau 7,5% dari total APBN (data: Eko Prasetyo, 2004).</p>
<p>Minimnya anggaran pendidikan ini bukan hanya terjadi pada masa krisis ekonomi saja, tetapi juga terjadi pada masa Orde Baru. Ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir mencapai 8%. Pada masa Orde Baru, alokasi dana pendidikan dan kesehatan -dua sektor kesejahteraan terpenting- tidak pernah mencapai lebih dari 15%.</p>
<p>Pemerintah bersama masyarakat Malaysia meyakini bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak akan pernah merugikan. Sejak pemerintahan Mahathir Muhammad, terdapat pembagian dua pilar utama pembangunan Malaysia, yaitu pertahanan dan pendidikan. Artinya, pemerintah mengedepankan pendidikan sebagai penyokong utama sebuah negara untuk menuju kesuksesan pembangunan Malaysia.</p>
<p>Misi Nasional dan Rancangan Malaysia Kesembilan telah menetapkan “Pembangunan Modal Insan Berminda Kelas Pertama” sebagai salah satu dari lima teras utama untuk mencapai Wawasan 2020. Target Malaysia menjadi negara maju pada tahun 2020 membutuhkan keberhasil-an dari kualitas sistem pendidikan. Tak heran jika realisasi anggaran pendidikan di Malaysia sekitar 20-40% dari keseluruhan APBN (terbesar kedua setelah anggaran pertahanan). Bahkan, masih ada lagi tambahan beberapa persen dari  APBD yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah.</p>
<p>Dari segi undang-undang, Malaysia memberlakukan aturan yang ketat yang mewajibkan semua rakyat Malaysia bersekolah. Ada hukuman penjara bagi orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya pada usia sekolah yaitu sejak usia 6 tahun. Karenanya, sekolah-sekolah negeri digratiskan hingga setingkat SMA. Hanya ada uang iuran yang kurang lebih 300 RM (Ringgit Malaysia) selama setahun bagi keluarga mampu.</p>
<p>Di tingkat universitas, pemerintah memberikan subsidi hingga 75% dari biaya yang seharusnya dibayar, kepada seluruh mahasiswanya. Sisa biaya, sebesar 25%, bisa dipenuhi secara swadaya ataupun dengan memanfaatkan bantuan pendidikan. Pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan agar setiap institusi pendidikan tinggi yang berada di Malaysia, setidaknya memberikan 2 jenis bantuan bagi mahasiswanya, yaitu beasiswa dan PTPTN (Perbadanan Tabung Perguruan Tinggi Nasional).</p>
<p>PTPTN merupakan pinjaman de-ngan bunga 3% yang diberikan kepada warga negara Malaysia yang ingin melanjutkan pendidikan di universitas. PTPTN adalah program lain dari pemerintah Malaysia bagi mahasiswa yang tidak mampu membiayai pendidikan di universitas.</p>
<p>Sebagai contoh, di Universitas Malaya, biaya kuliah mahasiswa S-1 pada tahun 2007 sekitar 78.000 RM selama 3 tahun. Pemerintah menyubsidi biaya pendidikan hingga 75% untuk warga Malaysia. Sisanya, 25 % atau senilai 19.500RM, harus dibayar sendiri.</p>
<p>Bila mahasiswa berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah, maka mahasiswa tersebut dapat mengajukan pinjaman pendidikan. Persentase pemberian pinjaman per tahun didasarkan pada tingkat ekonomi orang tua. Ada yang mendapat pinjaman penuh (100%), ada yang 50 %, dan lain-lain. Sebagai contoh, pinjaman penuh pada tahun 2007 senilai 7.500 RM setiap tahun.</p>
<p>Pembayaran pinjaman dapat dilakukan dengan mencicil setiap bulan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikannya dan bekerja. Masa bayarnya adalah 10 tahun, terhitung sejak mahasiswa tersebut lulus.</p>
<p>Sebagaimana yang dilakukan oleh Malaysia, Indonesia seharusnya juga memiliki komitmen yang kuat dalam pembangunan manusia atau penanggulangan kemiskinan secara keseluruhan. Negara seharusnya mengambil peran dominan karena pembangunan manusia dan penanggulangan kemiskinan sulit untuk dilakukan oleh swasta yang berorientasi profit.</p>
<p>Khusus dalam bidang pendidikan, pemerintah hendaknya segera mere-alisasikan anggaran 20% APBN/APBD sesuai dengan amanah konstitusi dan menetapkan konsep yang jelas, stabil, berkualitas, dan berpihak pada rakyat mengenai arah pendidikan nasional untuk jangka panjang. Belajar dari negara tetangga, kemajuan negara diawali dengan komitmen penuh pada pembangunan manusia berkualitas melalui pendidikan. Terbukti dengan cara itu, Malaysia lebih dulu keluar dari jeratan krisis moneter yang melanda hampir seluruh negara berkembang pada pertengahan 1990. Saya pun semakin meyakini bahwa pendidikan adalah pemutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan. (*)</p>
<p>Menengok Pendidikan Terbaik di Dunia</p>
<p>FINLANDIA, sebuah negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Berdasarkan hasil survey internasional yang komprehensif, pada tahun 2003 oleh Organization for Economic and Development (OECD), pendidikan di Finlandia menempati peringkat pertama di dunia. Tes tersebut dikenal dengan nama PISA. Tes ini dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam bidang sains, membaca, dan matematika. Tidak heran jika negara ini mampu menciptakan Nokia dengan teknologi, fitur, dan desain yang selalu up to date.</p>
<p>Sistem pendidikan di Finlandia mampu mengintegrasikan dunia pendidikan, riset, dan industri. Lembaga pendidikan Finlandia mampu menciptakan tenaga-tenaga terampil dan ahli. Sebagian tenaga ahli kemudian diserap oleh berbagai lembaga riset yang telah disiapkan untuk menciptakan terobosan-terobosan baru, untuk kemudian dimanfaatkan industri. Sedangkan sebagian tenaga terampil, diserap oleh industri. Dengan pengintegrasian tersebut, perekonomian Finlandia mampu menembus sepuluh besar terkaya di dunia.</p>
<p>Negara Nordik di utara Eropa ini menerapkan sistem “pendidikan untuk semua”. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, antara yang kaya dengan yang miskin, maupun yang pintar dengan yang kurang pintar. Mereka saling berkompetisi untuk mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Semua didorong untuk mengasah otak dan ketrampilan dalam sebuah lembaga pendidikan yang disediakan oleh pemerintah secara gratis.</p>
<p>Untuk orang dewasa, pemerintah menyediakan program pendidikan kejuruan seperti teknologi dan informasi. Program ini terutama menargetkan para buruh yang tidak memiliki pendidikan dasar memadai. Dengan begitu para buruh memiliki posisi tawar yang lebih tinggi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka.</p>
<p>Sampsa Vuorio, salah satu guru di Torpparinmaki Comprehensive Scholl, menjelaskan, pendidikan di Finlandia dijalankan dengan sangat demokratis. Sistem pendidikan di Finlandia tidak pernah memaksa siswa melakukan ini-itu dan mencapai target tertentu. Semua ditentukan oleh siswa itu sendiri. Vuorio menyatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Jadi, belajar harus sedikit demi sedikit. Guru hanya membantu memberikan berbagai kemungkinan buat siswa.</p>
<p>Dengan sistem tersebut, siswa menggali lebih banyak informasi yang dibutuhkan. Jadi, lebih ba-nyak ilmu yang didapatkan. Guru di sini lebih bersifat sebagai fasilitator terhadap apa yang dibutuhkan siswa. Vuorio menuturkan, sistem pendidikan di Finlandia disesuaikan dengan siswa. Jika siswa membutuhkan kelas ekstra maka akan disediakan oleh sekolah.</p>
<p>Pendidikan di Finlandia tidak mengenal ranking atau peringkat kelas. Ran-king dianggap hanya akan mengurangi kepercayaan diri siswa. Akibatnya, siswa yang kurang cakap menjadi semakin minder. Selain itu, ranking juga akan memunculkan sikap merasa paling pintar bagi yang mendapat peringkat. Hal ini tidak baik untuk perkembangan mereka. Bagi Vuorio hal seperti itu tidak ada gunanya. Ba-ginya tak ada siswa pintar atau siswa bodoh. Yang ada adalah siswa yang belajar dengan cepat dan siswa yang agak lambat.</p>
<p>Untuk mengetahui hasil dari sistem pendidikan tersebut, pemerintah Finlandia mengadakan evaluasi. Yaitu dengan menggelar Ujian Nasional. Namun, Ujian Nasional tidak diikuti oleh semua siswa. Peserta ujian ditentukan secara acak, dari kelompok siswa cerdas, menengah dan kurang. Ujian juga tidak digelar setiap tahun untuk setiap mata pelajaran. Misalnya, tes Bahasa Inggris hanya dilakukan di kelas V dan IX.</p>
<p>Hasil ujian hanya digunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan Finlandia, bukan untuk menentukan kelulusan ataupun kenaikan kelas. Di Finlandia tidak ada istilah tinggal kelas, semua siswa naik kelas. Menurut Vuorio, kebijakan tidak menaikkan kelas itu dianggap tidak baik. Karena akan mengganggu kepercayaan diri siswa.</p>
<p>Tidak seperti di negara-negara lain yang menganggap ujian dan evaluasi bagi siswa sangat penting untuk mengukur kualitas pendidikan mereka, Finlandia justru menganggap ujian itulah yang menghancurkan kualitas pendidikan. Ujian akan memberikan tekanan-tekanan bagi siswa yang akan menyebabkan mereka menjadi stres. Di samping itu, ujian akan membuat  guru dan siswa lebih berpikir dan bertindak bagaimana menyelesaikan ujian daripada apa yang seharusnya mereka dapatkan dari pendidikan, yaitu ilmu.</p>
<p>Sundstrom, Kepala Sekolah Dasar Poikkilaokso, Finlandia, menuturkan bahwa, siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sen-diri, bahkan sejak pra-TK. Ini membantu siswa belajar bertanggung jawab atas pekerjaan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka bisa mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan. Tidak perlu menunggu kontrol dari pihak lain karena kesadaran sudah melekat di jiwa mereka sejak dini.</p>
<p>Berjalannya sistem pendidikan di Finlandia yang bisa menjadikan kualitas pendidikannya terbaik di dunia, tidak lepas dari peran para guru. Guru di Finlandia sangat berpengaruh bagi kelancaran sistem tersebut. Untuk menjadi guru di negara tersebut tidaklah mudah. Seleksi yang dilakukan pemerintah  untuk menyaring para guru sangat ketat. Hanya orang-orang yang benar-benar berkualitas dan berdedikasi tinggi yang bisa lolos seleksi. Karena itulah, kedudukan guru di Finlandia sangat disegani.</p>
<p>Untuk mendapat pendidikan terbaik, warga Finlandia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Biaya pendidikan seluruhnya ditanggung oleh pemerintah atau gratis, mulai dari pendidikan dasar sampai universitas. Pemerintah menyediakan bus jemputan untuk siswa. Jika tidak ada bus jemputan, siswa mendapatkan uang transport untuk ke sekolah. Selain itu, pemerintah menyediakan perpustakaan lengkap dan buku-buku. Siswa juga mendapatkan makan siang gratis di sekolah. Intinya, siswa hanya perlu datang ke sekolah untuk belajar tanpa harus dibebani biaya sekolah, transport maupun makan siang.</p>
<p>Untuk menutup semua kebutuhan tersebut, peme-rintah menyediakan anggaran sebesar 5.200 euro atau sekitar 70 juta rupiah untuk setiap siswa per tahun. Leo Pahkin, konselor pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia menyebutkan setiap tahun ada sekitar 52.000 murid pendidikan dasar. Artinya, pemerintah menyediakan anggaran sebesar 3,64 triliyun rupiah per tahun.</p>
<p>Bagaimana dengan sistem pendidikan kita ?</p>
<address>www.tieke.fi/in_english/computer_driving_licence/ </address>
<address>www.wikipedia.com</address>
<address>http://www.e.finland.fi/netcomm/news/showarticle.asp?intNWSAID=8962</address>
<p><strong>(Penulis : Purni, Editor  Ayu)</strong></p>
<p>Berikut Halaman dari rubrik ini yang bisa didownload*</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-21.pdf">majalah-opini-35-hal-21</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-22.pdf">majalah-opini-35-hal-22</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in Kolom, MAJALAH OPINI 35  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=350&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/sejenak-menengok-pendidikan-di-negeri-jiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/elin1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nuriyatul-lailiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN : Antara Pagi dan Senja</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/cerpen-antara-pagi-dan-senja/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/cerpen-antara-pagi-dan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[PADA awalnya aku tak menyukai pagi dan sedikit membenci senja. Saat aku kecil, pagi seperti bel yang memaksaku terjaga dari kenikmatan bermimpi. Jika aku memilih bertahan buat bermalasan, maka ibuku akan segera menyanyikan nada sumbang. Kalau sedang beruntung ditambah khotbah singkat bapakku. Sementara senja selalu memupus kesenanganku bersama kawan-kawan sepermainan. Orang-orang tua selalu bilang, ”Hampir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=282&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_523" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/ilustrasi-awal2.jpg"><img class="size-full wp-image-523" title="ilustrasi-awal2" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/ilustrasi-awal2.jpg?w=300&#038;h=189" alt="" width="300" height="189" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi (ben)</p></div>
<p><strong>PADA </strong>awalnya aku tak menyukai pagi dan sedikit membenci senja. Saat aku kecil, pagi seperti bel yang memaksaku terjaga dari kenikmatan bermimpi. Jika aku memilih bertahan buat bermalasan, maka ibuku akan segera menyanyikan nada sumbang. Kalau sedang beruntung ditambah khotbah singkat bapakku.</p>
<p>Sementara senja selalu memupus kesenanganku bersama kawan-kawan sepermainan. Orang-orang tua selalu bilang, ”Hampir malam waktunya sambikala!” Senja saatnya setan-setan mulai keluar dari sarang. Karenanya kami harus segera pulang, tak boleh lagi berkeliaran. Maka siapakah yang keliru, ketika kemudian kita takut pada gelap malam? Sejak kecil kita dihadapkan pada bayang-bayang yang menakutkan di balik kelam malam. Tapi bukankah memang demikian sifat manusia? Selalu takut pada hal yang tidak kita mengerti dan tidak bisa kita kuasai.<span id="more-282"></span></p>
<p>Seiring usia yang beranjak remaja, aku mulai sedikit menyukai pagi dan senja. Aku menyukai pagi, saat bertelanjang kaki menyusuri pematang menuju sekolah. Meski terkadang kurasa sekolah menyebalkan sebab mengharuskanku untuk selalu berpikir. Tetapi aku selalu menyukai saat berkumpul dan bercanda bersama teman-temanku.</p>
<p>Dan senja, aku selalu menunggunya. Saat aku berangkat ke mushola untuk mengaji. Bukan karena aku suka belajar ilmu samawi. Tapi karena sebuah senyum yang selalu kurindui. Untuk pertama kali hati berkenalan dengan hasrat pada makhluk bernama perempuan. Indah namanya, seperti juga indah senyumnya, gadis manis yang mengusik jiwaku yang masih hijau.</p>
<p>Di usia yang masih pagi dan jiwa masih setengah murni, tak banyak yang kami ingini. Cukuplah sekedar saling bertukar senyum. Rasa malu kami terlalu besar hingga menelan hasrat kami tuk bersama. Maka satu-satunya tempat untuk kami bercumbu mata dan memacu degup jantung hanyalah di mushola. Saat kami hendak mengaji.</p>
<p>Mungkin itulah yang dibilang cinta monyet. Bisa hinggap berpindah-pindah kapan saja dan dimana saja. Nyatanya tak ada lagi cemburu setelah sekian tahun berpisah, lalu kembali bersua. Dalam upacara pernikahannya yang sederhana namun indah dengan lelaki dari seberang desa. Hanya ada sedikit sekelumit senyuman mengingat kenangan kecil kami. Senyum malu-malu ketika bersitatap saat diajar Pak Kyai.</p>
<p>Saat pikirku mulai berkembang, pagi dan senja mengajarkan padaku lebih banyak hal. Pagi kumengerti sebagai awal hari. Di mana denyut kehidupan dimulai. Dan senja mengakhiri semuanya. Saat mentari berpulang ke peraduan, semua pelaku kehidupan pun kembali ke sarang. Pun demikan semua kan kembali berulang, esok kan kembali datang dan lagi-lagi berakhir di ujung mata senja.</p>
<p>Pagi dan senja seolah alarm pengingat buat kita. Kontradiksi yang menjadi ciri khas kehidupan. Selalu seiring sejalan meski mungkin tak searah. Setiap yang berawal pasti akan berakhir. Semua perjumpaan beresiko perpisahan. Setiap benih kehidupan pada akhirnya akan bertemu kematian. Dimana ada kebahagiaan maka di sana pastilah ada kesedihan. Ketika kita berani bercinta maka bersiap pulalah buat patah hati.</p>
<p>Hanya saja memang bukan hal mudah untuk menerima semuanya. Ikhlas menjadi kata yang mudah dilafalkan, namun selalu berat untuk dijalankan. Kita tertawa menghadapi perjumpaan, tapi lebih sering menangis saat perpisahan. Indahnya andaikan perjumpaan dan perpisahan kita hadapi dengan hati yang sama lapang. Bukankah pagi dan senja, keduanya sama indah?</p>
<p>Kita seringkali silau pada indah kehidupan dan takut akan kematian. Bahkan menangisinya dengan ketidakrelaan. Bukankah sesungguhnya itu hal yang tak terhindarkan? Seperti senja, ia akan selalu saja datang. Entah kita suka atau tidak. Yang berbeda hanyalah saat senja datang, kita tahu esok pagi kan kembali menjelang. Namun kematian membawa kita pergi dan tak kan kembali. Kalaupun ada pagi, maka itu adalah awal yang baru. Sesuatu yang tak bisa kita hayati dengan mata dan telinga.</p>
<p>Saat bahagia menyapa, kita sering terlupa buat bersyukur. Lalu ketika kesedihan menjelma, tak henti kita mengeluh dan bersumpah serapah. Bukankah keduanya pasangan yang selalu hadir berbarengan? Menjaga irama kehidupan agar tetap seimbang. Seperti pagi dan senja yang hadir silih berganti saling melengkapi.</p>
<p>Lalu saat jatuh cinta kita gembira tiada terkira. Seakan-akan waktu dan dunia milik kita. Terlupa bahwa satu waktu semua kan berakhir. Ketika cinta telah tercabut dari hati, maka remuklah jiwa. Seolah dunia pun telah runtuh di atas kita. Bukankah kita biasa menunggu senja seperti jua kita menanti fajar? Dan sama menikmatinya sebagai nada kehidupan yang terus mengalun sebagai perpaduan yang indah.</p>
<p>Setelah sekian pagi yang kulalui sepanjang hidupku, baru menemui keindahan yang sesungguhnya saat aku bersua denganmu. Di satu pagi yang ceria, berteman dingin angin. Kususuri jalan pedesaan bermusikkan kicau riang makhluk-makhluk pagi. Ketika kau muncul tiba-tiba. Seperti bayang-bayang keluar dari sebalik kabut. Kemudian menjelma nyata. Bermahkotakan embun. Dengan matamu yang bening, membawakan aura hangat fajar.</p>
<p>Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya. Sejatinya karena pagi yang indah maka perjumpaan itu kurasa sempurna ataukah keindahanmu yang menyempurnakan pagi itu? Yang aku tahu, pagi itu menjadi pagi terindah yang tak kan terlupa. Saat kita sama setengah terkejut. Saling bersitatap dan menikmati desir-desir di hati. Lalu bertukar satu senyuman sederhana namun cukuplah menjadi penyempurna hari kita.</p>
<p>Tak ada kata. Tak ada sapa. Rupanya keindahan rasa terlalu memukau kita. Terlalu rumit untuk melahirkan kata-kata. Perjumpaan yang bersahaja namun membaurkan harum bunga di kedalaman rasa. Keindahan yang lalu menjadi candu, memabukkan dan membuatku ketagihan. Membawakan hasrat untuk mengulang dan mengulang lagi. Lalu, seolah mengukir janji, perjumpaan demi perjumpaan kita lalui. Masih tanpa kata, kecuali senyuman dan tatap mata. Hanya sekilas, namun jauh di dasar hati aku merasa kita telah bertukar seribu kata. Seolah kita coba saling mengenali hati.</p>
<p>Hingga aku tak kuasa lagi menahan hasrat diri dan kupaksakan membuka kata. Meski kumulai hanya dengan kata ”HAI”. Tapi buatku itu lebih menyenangkan daripada obrolan seharian soal sepak bola yang kugandrungi. Berulang-ulang kuucap dan berulang pula kau jawab dengan senyum setengah malu-malu. Akhirnya kudapat namamu. Lintang.</p>
<p>Dan memang buatku kau bintang. Selalu kurindui di setiap malam. Tak henti kunanti pagi dan betapa aku ingin pagi lebih panjang. Biar bisa kunikmati waktuku bersamamu lebih lama. Bercanda dengan bintang-bintang yang berkedip di matamu. Mengenalmu, seperti kudapat pagi yang baru dalam hidupku.</p>
<p>Semakin kita dekat, kurasa kian banyak pendar-pendar warna dalam hidupku. Hingga akhirnya kita sepakat untuk berbagi senja bersama. Berdua menikmati malam mencumbui hari. Dan aku tahu. Kaulah yang aku ingin melengkapi separuh jiwaku. Denganmu ingin kuhabiskan sisa waktuku menghela nafas.</p>
<p>Dan ketika rasa tak lagi bisa dihela, aku katakan padamu.</p>
<p>”Saat pertama melihatmu aku hanya tahu bahwa aku menyukai keheningan matamu. Lalu terpesona senyum sahajamu. Meski di kedalaman hati kuberharap. Tetapi, kusangka kita tak kan lagi bertemu dan perjumpaan itu hanya buah kebetulan saja. Dan akalku berkata, ini hanyalah keindahan fatamorgana yang sesaat kan menghilang. Namun ternyata aku keliru, sebab kita terus bertemu. Lalu bunga-bunga bersemi di taman hatiku. Kian jauh mengenalmu, membuatku tahu. Kaulah bunga yang paling aku ingin mekar di tamanku dan mengharumi kamar hatiku. Lalu apa katamu?”</p>
<p>Kau hanya terdiam tersipu. Menunduk dan senyum malu-malu. Seolah sembunyikan rona merah di wajahmu. Namun aku tahu bahwa kita seiya. Sama ingin cinta yang sederhana. Dan aku bahagia. Kurasa lengkap sudah hari-hariku. Membuka pagi dengan senyummu dan menutup senja beriring hangat tawamu. Jadilah kita sepasang kekasih yang suka menghayati pagi dan senja bersama.</p>
<p>Kita jalani hari dengan banyak senyum dan tawa. Setiap hari kau ukir pelangi di langit jiwaku. Pertengkaran kecil dan sedikit cemburu yang kadang hadir, serupa riak kecil di lautan. Memperindah alunan gelombang yang menyapa di lautan rasa. Tak banyak memang kita bertukar kata, karena kita terbiasa berbicara dalam bahasa jiwa. Namun di sanalah hati kita bertukar makna sejatinya.</p>
<p>Hingga di satu senja yang temaram. Kau datang dengan mata berkaca-kaca. Tak banyak kata kau ucapkan. Kau hanya bilang, ”Aku harus pergi&#8230;.Maafkan..” Seusai satu kecupan lembut di keningku sesaat lalu kau menghilang. Aku tak menahanmu. Aku tak bertanya. Seperti biasa, tak ada banyak kata. Seakan aku tahu tak ada yang bisa mencegahmu. Tak ada pula yang perlu kau bagi. Kau telah memilih membawa bebanmu sendiri.</p>
<p>Seolah menjadi gulita hatiku. Kemana perginya pagi? Kenapa malam kurasa kian panjang? Di setiap pagi, mengingat perjumpaan kita membuatku tersenyum. Bersyukur pernah mengenal keindahan itu. Namun ketika senja hadir. Aku terjatuh dalam kesyahduan. Bukankah semua yang terbit pada akhirnya memang akan tenggelam? Namun mengapa begitu sulit untuk menerimanya? Dan kehilangan membuat semuanya seakan-akan menjadi sia-sia tak bermakna. Meski sesungguhnya ada banyak nilai di sana.</p>
<p>Hitungan waktu telah berganti tahun. Seperti kata sang bijak, biarkan waktu kan menjawab. Luka ini mungkin telah mengering. Namun kenangan takkan pernah menghilang. Ada banyak bab dalam novel hidup kita. Ada banyak episode dalam kisah hidup kita. Ada episode yang indah dan penuh tawa. Ada episode yang berlinang air mata. Hanya terkadang kesedihan terasa lebih panjang. Dan membuat kita lupa bahwa kita pernah pula mengurai kebahagiaan. Tapi bukankah semuanya akan berakhir jua?</p>
<p>Kenangan, adakalanya terlupa dan terbiaskan oleh waktu. Namun hakikatnya ia selalu tersimpan dalam hati kita. Di sisiku mungkin telah ada yang lain. Tetapi kenangan kita tak kan terlupa. Mungkin kita telah membuka satu pagi yang indah bersama dan lalu kau menutupnya dengan senja yang syahdu. Namun, selalu saja ada pagi yang lain menunggu kita.</p>
<p>Dan bukankah sebenarnya kita semua hanya menunggu senja menjemput malam? Mengantar kita pada penghujung terang? Mestikah yang berakhir selalu berujung tangis? Tak bisakah kita buat perpisahan menjadi indah? Seperti senja. Aku hanya berharap satu. Dimana pun dan dengan siapa pun dirimu kini. Kau dan aku masih sama, selalu mengantar senja dengan senyum bahagia. Seperti dulu.</p>
<p>Bukankah kita selalu tersenyum saat pagi datang?</p>
<p><strong>(Pinto Bass)</strong></p>
<p>berikut halaman dari rubrik ini yang bisa didownload*</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-48.pdf">majalah-opini-35-hal-48</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-49.pdf">majalah-opini-35-hal-49</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in Cerpen, MAJALAH OPINI 35  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=282&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/cerpen-antara-pagi-dan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/ilustrasi-awal2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ilustrasi-awal2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wajah Baru Fisip : Pembangunan Gedung FISIP Tahap Pertama</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/wajah-baru-fisip-pembangunan-gedung-fisip-tahap-pertama/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/wajah-baru-fisip-pembangunan-gedung-fisip-tahap-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>
		<category><![CDATA[POJOK FISIP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[KEDATANGAN kami ke ruang Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) beberapa pekan yang lalu disambut dengan tangan terbuka. Senyum ramah dan sebuah sapaan hangat mengawali pertemuan OPINI dengan orang nomor satu di FISIP ini. “Ada apa Mas. Mari, silahkan duduk,” begitu sapanya. Selanjutnya, kami pun berbincang mengenai rencana pembangunan gedung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=346&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_347" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/wajah-baru-fisip.jpg"><img class="size-full wp-image-347" title="wajah-baru-fisip" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/wajah-baru-fisip.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">SAMPAI AGUSTUS-tampak bangunan degung FISIP yang baru yang rencananya akan dibangun tiga lantai (arif sina/opini)</p></div>
<p><strong>KEDATANGAN</strong> kami ke ruang Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) beberapa pekan yang lalu disambut dengan tangan terbuka. Senyum ramah dan sebuah sapaan hangat mengawali pertemuan OPINI dengan orang nomor satu di FISIP ini. “Ada apa Mas. Mari, silahkan duduk,” begitu sapanya. Selanjutnya, kami pun berbincang mengenai rencana pembangunan gedung baru FISIP di Tembalang. <span id="more-346"></span></p>
<p>Menurut Warsito, dua atau tiga tahun lagi kemungkinan kita tidak akan menempati ruang pekuliahan yang saat ini kita tempati. Hal ini  dikarenakan  rencana pembangunan gedung FISIP yang baru, akan segera dirampungkan  akhir tahun 2009, selambat-lambatnya awal  2010.  Warsito mengungkapkan pembangunan ini akan berjalan lancar.<br />
“Paling tidak akhir 2009 atau awal 2010 nanti mahasiswa baru bisa menempati gedung baru FISIP,” ujar bapak dua anak yang telah menjabat dua kali kepengurusan sebagai dekan FISIP ini.</p>
<p>Warsito menjelaskan bahwa pembangunan gedung FISIP tahap pertama tidak mengalami kendala dalam hal pendanaan. Dana yang dibutuhkan telah dipersiapkan dan sudah masuk dalam anggaran DIPA tahun ini. Disinggung mengenai besar dana pembangunan  gedung FISIP, beliau menjelaskan total anggaran yang akan dikucurkan untuk pembangunan gedung tahap satu dan dua mencapai 12 miliar rupiah. “Untuk pendanaan tahap dua sudah siap. Kurang lebih akan dianggarkan 9 miliar rupiah. Jadi total anggaran gedung yang telah disiapkan untuk pembangunan FISIP mencapai  12 miliar rupiah.”</p>
<p>Gedung FISIP rencananya akan dibangun dalam dua bagian, yaitu bagian depan atau muka dan bagian belakang. Pembangunan gedung bagian depan nantinya akan didanai oleh Islamic Development Bank (IDB) Sedangkan pembangunan gedung bagian belakang nantinya akan didanai oleh FISIP. Dana tersebut akan diambil dari anggaran DIPA.</p>
<p>“Yang dibangun FISIP hanya-lah dua gedung yang di belakang, sedangkan gedung bagian muka keseluruhannya dari IDB. Rinciannya kami tidak mengetahui. Kami hanya menentukan bentuk gedung yang diinginkan. Kami hanya menerima jadinya saja.”</p>
<p>Senada dengan Dekan, Pembantu Dekan (PD) IV, Bidang Alumni dan Kerja Sama, Dr. Kushandayani, MA menjelaskan bahwa ia tidak mengetahui  besaran dana yang dikucurkan oleh IDB. “Kami hanya menerima jadi. Jadi tidak mengetahui rincian anggarannya. Itu Universitas yang mengurus langsung.”</p>
<p>Pembangunan gedung yang saat ini tengah berlangsung merupakan pembangunan tahap pertama. Pembangunan ini sudah dimulai sejak Mei 2008 yang lalu. Namun, baru satu bulan setelahnya, tepatnya pada bulan Juni, pembangunan gedung ini diresmikan melalui peletakan batu pertama. Pembangunan gedung tahap  pertama ini meliputi pembangunan pondasi-pondasi, dinding-dinding berupa soof, balok, kolom, plat lantai, tangga serta rangka, dan penutup atap.</p>
<p>“Gedung FISIP yang akan diba-ngun dengan luas keseluruhan bangunan mencapai 2.349 m2. Gedung ini nantinya terdiri dari 3 lantai dengan luas masing-masing lantai 783 m2. Ini baru satu gedung, masih ada satu gedung lagi yang letaknya nanti berhadapan dengan gedung yang saat ini dibangun dengan bentuk yang sama pula,” jelas Ketua tim teknis pembangunan gedung, Ir. Edi Hermanto</p>
<p>Pembangunan gedung FISIP ini memang diserahkan kepada PT Bramasta Jasa sebagai pemenang tender. Namun, menurut Kasubag Umum dan Perlengkapan, Sido Hartono, SE., pihak fakultas tetap melakukan kontrol terhadap proses pembangunannya. Setiap minggunya FISIP mendapatkan laporan perkembangan pembangunan gedung. Ia mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Agustus 2008, pembangunan gedung FISIP telah mencapai 40% dari keseluruhan bangunan. Ketika OPINI berkunjung ke Tembalang, tampak bahwa pembangunan pondasi dan lantai dasar sudah diselesaikan. Bahkan, pembangunan lantai pertama telah mulai dilakukan.</p>
<p>Pembangunan gedung yang rencananya berlangsung selama 180 hari ini, tampaknya bisa selesai sesuai jadwal. Ir. Edi Hermanto menambahkan pembangunan gedung ini akan diselesaikan sebelum Hari Raya Idul Fitri. “Saya menargetkan lebaran nanti pembangunan gedung akan selesai. Namun, apabila terjadi keterlambatan diusahakan tidak terlalu lama,” ucapnya dengan percaya diri.</p>
<p>Pembangunan gedung tahap kedua rencananya akan dilakukan sekitar Maret 2009. Gedung ini letaknya berhadapan dengan gedung yang saat ini sedang dibangun. ”Pembangunan gedung tahap kedua ini nantinya baru sekitar bulan Maret bisa dimulai karena harus melalui serangkaian proses. Dari proses lelang sampai persetujuan anggaran,” ungkap Dekan.</p>
<p>Jika ditilik kembali, pembangunan gedung FISIP yang saat ini tengah berlangsung sebenarnya merupakan sebuah langkah antisipasi yang dilakukan oleh fakultas. Menurut pikah fakultas, gedung yang rencananya akan dibangun oleh IDB dirasa kurang cukup untuk ruang perkuliahan.</p>
<p>“Jadi memang awalnya pembangunan gedung dari IDB direncanakan sudah mencakup semuanya. Namun, tidak memungkinkan untuk perkuliahan. Jumlah mahasiwanya kan besar, jadi FISIP dengan menggunakan anggaran dana DIPA akan membangun gedung perkuliahan sendiri,” ujar Kushandayani.</p>
<p>Namun, sayangnya gedung perkuliahan FISIP di Tembalang ini tidak dilengkapi dengan adanya Air Conditioner (AC) seperti pada bangunan FISIP yang ditempati sekarang. PD IV menjelaskan bahwa hal ini terkait dengan adanya program hemat energi. “Dengan adanya AC tentunya akan membutuhkan daya yang tidak sedikit. Selain itu, untuk pengadaan juga dibutuhkan biaya yang besar.”<br />
<strong><br />
(Penulis : Sina, Editor : Ayu, Sita)</strong></p>
<p>Berikut halaman rubrik ini yang bisa didownload</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-25.pdf">majalah-opini-35-hal-25</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-26.pdf">majalah-opini-35-hal-26</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-27.pdf">majalah-opini-35-hal-27</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in MAJALAH OPINI 35, POJOK FISIP  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/346/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=346&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/wajah-baru-fisip-pembangunan-gedung-fisip-tahap-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/wajah-baru-fisip.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wajah-baru-fisip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>’Opportunistik’ Pendidikan Indonesia</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/%e2%80%99opportunistik%e2%80%99-pendidikan-indonesia/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/%e2%80%99opportunistik%e2%80%99-pendidikan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Dyah Ayu Harfi Rusanti* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2006. SEKOLAH-sekolah roboh, kekurangan fasilitas, kompetensi guru dan dosen rendah, tidak meratanya pendidikan, biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau masyarakat, subsidi pendidikan yang kecil, sampai pada dipertanyakannya mutu lulusan-lulusannya. Beginilah gambaran pendidikan di Indonesia. PERUBAHAN kurikulum setiap pergantian pemerintahan, juga memiliki kontribusi besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=329&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_331" class="wp-caption alignleft" style="width: 115px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/dyah-ayu-harfi.jpg"><img class="size-full wp-image-331" title="dyah-ayu-harfi" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/dyah-ayu-harfi.jpg?w=105&#038;h=158" alt="" width="105" height="158" /></a><p class="wp-caption-text">Dyah Ayu Harfi (ist)</p></div>
<p><strong>Oleh: Dyah Ayu Harfi Rusanti*<br />
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2006.</strong></p>
<p><strong>SEKOLAH</strong>-sekolah roboh, kekurangan fasilitas, kompetensi guru dan dosen rendah, tidak meratanya pendidikan, biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau masyarakat, subsidi pendidikan yang kecil, sampai pada dipertanyakannya mutu lulusan-lulusannya. Beginilah gambaran pendidikan di Indonesia. <span id="more-329"></span></p>
<p>PERUBAHAN kurikulum setiap pergantian pemerintahan, juga memiliki kontribusi besar terhadap ketidakjelasan arah pendidikan Indonesia saat ini.</p>
<p>Apresiasi pemerintah terhadap siswa-siswi Indonesia yang berprestasi pun sangat kurang. Siswa-siswi yang kerap kali mengharumkan nama bangsa dalam ajang-ajang bergengsi dunia, tidak dihargai lebih dari sekedar ucapan selamat. Sungguh tak ada apresiasi lebih yang pantas diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap prestasi-prestasi mereka. Tak heran jika banyak siswa berprestasi Indonesia yang “dibajak” oleh  luar negeri.</p>
<p>Negara-negra maju seperti Amerika Serikat dan berbagai negara di Eropa, adalah negara yang selama ini lebih mampu memberikan penghargaan tinggi terhadap ilmu pengetahuan dibandingkan bangsa kita selama ini.</p>
<p>Sebagai dasar terbentuknya suatu masyarakat yang maju, pendidikan di Indonesia selama ini belum benar-benar mampu memberikan kontribusinya. Pola  pengajaran tutorial yang lazim digunakan di Indonesia selama ini pun ternyata membuat siswa menjadi lebih pasif. Mereka hanya akan menerima informasi secara taken for granted. Akibatnya, budaya kritis untuk menggugat dan mempertanyakan bagaimana dan mengapa tentang ilmu  tidak pernah terbentuk.</p>
<p>Standar kelulusan yang dipakai pun cenderung membuat siswa maupun guru kurang bisa menghargai sebuah proses dan hanya berorientasi pada hasil akhir saja. Ini terlihat pada diterapkannya standar-standar nilai kelulusan ujian nasional, mulai dari tingkat SD hingga tingkat SMA. Apa yang terjadi adalah siswa tidak lagi peduli tentang apa dan bagaimana caranya mengerjakan soal dengan benar. Mereka menjadi tidak terdorong untuk membongkar sebuah ilmu pengetahuan dan kemudian mengembangkannya sesuai minat dan bakat mereka masing-masing.</p>
<p>Opportunis</p>
<p>Ketika seorang anak ditanyai oleh orang tuanya hendak kuliah dimana, pasti pertanyaan tersebut akan dilanjutkan dengan pertanyaan, “ Setelah lulus mau kerja apa?” Dari hal ini dapat terlihat jika orientasi pendidikan di Indonesia adalah untuk bekerja.</p>
<p>Orang beramai-ramai kuliah karena perusahaan-perusahaan mempersyaratkan pelamarnya berpendidikan minimal S1.<br />
Hal ini terjadi karena pekerjaan di Indonesia memang membutuhkan syarat-syarat formal yang harus ditunjukkan melalui selembar ijazah. Ini yang kemudian membuat orang menempuh pendidikan bukan semata-mata karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan maupun untuk mengembangkan potensi diri, tetapi hanya untuk bisa mendapatkan pekerjaan.</p>
<p>Sebagai contoh, orang beramai-ramai kuliah di jurusan Komunikasi karena saat ini media sedang berkembang pesat. Orang berbondong-bondong masuk Fakultas Teknik karena perkembangan dunia teknologi yang semakin cepat.</p>
<p>Begitu pula ketika pertanyaan untuk apa lulus SD diajukan. Agar bisa melanjutkan ke SMP itulah jawabannya. Untuk apa lulus SMP? Agar bisa melanjutkan ke SMA. Untuk apa lulus SMA? Agar bisa kuliah.</p>
<p>Lalu ketika ditanya untuk apa bersekolah? Jawabannya tentu agar dapat mendapat pekerjaan. Untuk apa kuliah? Karena syarat mencari pekerjaan adalah mempunyai ijazah, minimal S1. Semua usaha yang dilakukan untuk bersekolah semata-mata hanya untuk mencari keuntungan.</p>
<p>Kalau begitu, jika ingin membuka usaha sendiri, berdagang misalnya, tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Toh tak ada persyaratan untuk dapat punya toko kelontong harus mempunyai ijazah sekolah formal. Tak pernah ada yang mewajibkan peternak ayam untuk punya ijazah minimal SMA. Pendidikan semata-mata hanya dilihat sebagai prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan. Sebuah sikap yang oportunis dan tentu saja sangat tragis.</p>
<p>Pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu membentuk budaya untuk mencintai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan masih saja dipandang sebagai sebuah alat untuk mencapai tujua. Menguasai ilmu tak lebih dari mendapatkan nilai bagus, IPK tinggi, dan berbagai alasan lainnya. Cost and reward yang selalu diukur dengan materi. Belum tertanam bahwa mempelajari ilmu pengetahuan merupakan hal yang penting, bahkan tanpa reward tertentu.</p>
<p>Pergeseran Budaya</p>
<p>Pergeseran budaya yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini, menyebabkan orang-orang mulai berpikiran pragmatis. Tujuan dipandang lebih penting daripada sebuah proses. Hal ini juga yang berpengaruh terhadap sistim pendidikan di Indonesia.</p>
<p>Sistim pendidikan Indonesia  yang ada selama ini lebih menekankan pada hasil dari tujuan yang ingin dicapai. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk evaluasi yang selama ini lazim digunakan di sekolah-sekolah. Hal ini tentu saja tak dapat disalahkan, namun setidaknya dapat diimbangi dengan sebuah sistem yang dapat membentuk pribadi yang matang.<br />
Sistem pendidikan di Indonesia harus dibenahi kalau tak mau dikatakan harus diubah. Saat ini sudah bukan waktunya lagi mengajar seorang anak SD dengan 1+1=2, tapi lebih pada mengapa 1+1=2 dan bagaimana 1+1=2.</p>
<p>Evaluasi yang digunakan dalam sekolah-sekolah saat ini pun hanya sekedar untuk melihat hasil akhir. Siswa yang pandai adalah siswa yang dapat menjawab 1+1=2, sedangkan mereka yang menanyakan kenapa 1+1=2 akan dianggap sebagai anak bandel, biang onar, dan berbagai macam sebutan lainnya. Akibatnya, siswa cenderung hanya ingin menghafal materi-materi pelajaran tanpa ada keinginan untuk menggali lebih dalam ilmu itu sendiri.</p>
<p>Sebuah sistem pendidikan yang menekankan pada proses, tentu saja akan dapat lebih menghargai ilmu pengetahuan itu sendiri. Jika siswa sudah mencintai ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan pun pasti akan membawa dampak yang luas dalm kehidupannya. Kehidupan sosial pun akan turut terpengaruh jika masyarakat telah mencintai ilmu pengetahuan.</p>
<p>Warisan Kolonial</p>
<p>Sistem pendidikan yang dianut Indonesia saat ini tidak terlepas dari warisan kolonial di Indonesia. Pasca diterapkannya politik etis, sekolah-sekolah bagi pribumi mulai dibuka di Indonesia. Pemerintah ingini mendapatkan pekerja yang terdidik dengan upah yang rendah. Maka, pola pendidikannya sekedar menekankan pada kemampuan baca tulis serta menghitung ala kadarnya. Dengan kemampuan seperti itu, pemerintah kolonial akan terkurangi beban pekerjaannya, tetapi dengan cost yang lebih rendah.</p>
<p>Kemampuan baca tulis dan berhitung yang diasumsikan tak lebih dari syarat seorang pribumi untuk dapat menjadi pegawai pemerintah tingkat rendah, membentuk pola pikir masyarakat bahwa sekolah adalah untuk mendapatkan pekerjaan dan prestise. Menjadi pegawai pemerintah saat itu adalah sebuah prestise tersendiri bagi masyarakat. Walaupun, pekerjaan itu hanya sebatas pegawai rendahan.</p>
<p>Saat itu orang beramai-ramai masuk sekolah bukan karena ingin menguasai ilmu pengetahuan, ingin melepaskan diri dari penjajahan, atau ingin memajukan bangsa, tetapi karena ingin menjadi pegawai pemerintah. Dan sampai saat ini hal itu masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan lagi konsumsi material yang penting namun konsumsi simbol yang berhubungan dengan mitos identitas dan kenyamanan kelaslah yang menjadi pertimbangan konsumsi.</p>
<p>Dalam cara pandang hegemonian, kebudayaan global akan bersifat tunggal karena watak kapitalisme yang monolitik. Seluruh ekspresi kebudayaan termasuk ekspresi simboliknya akan mengacu pada ekspresi dominan dalam nama pasar. Tidak ada celah lagi untuk menjadi independen secara simbolik karena rekayasa elitis yang terlanjur disepakati oleh moralitas, kognisi, dan afeksi masyarakat bawah. Padahal, ketiga faktor inilah yang terpenting dalam memproduksi simbol.</p>
<p>Kebudayaan lokal yang tidak marketable akan terpinggirkan karena desakan kultur asing yang sangat  berorientasi keuntungan. Keterlibatan kolonialisme tidak hanya tampak dalam aktivitas militer dan ekonomi saja tapi justru lewat bentuk-bentuk pengetahuanlah kolonialisme itu ditegakkan. <strong>(*)</strong></p>
<p>Berikut halaman dari rubrik kolom ini yang bisa didownload</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-39.pdf">majalah-opini-35-hal-39</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-40.pdf">majalah-opini-35-hal-40</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in Kolom, MAJALAH OPINI 35  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=329&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/%e2%80%99opportunistik%e2%80%99-pendidikan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/dyah-ayu-harfi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dyah-ayu-harfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang (Aktivis) Mahasiswa</title>
		<link>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/cerpen-kisah-seorang-aktivis-mahasiswa/</link>
		<comments>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/cerpen-kisah-seorang-aktivis-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 00:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>majalahopini</dc:creator>
				<category><![CDATA[MAJALAH OPINI 35]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahopini.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[AKU dilahirkan pada bulan Desember 1985, pada masa kejayaan rezim Orde Baru. Di kota Solo, kuhabiskan masa kecilku hingga umur lima tahun. Menjelang aku bersekolah, keluargaku pindah ke kota Semarang. Di kota Semarang inilah kujalani masa–masa sekolahku, mulai dari Taman Kanak–Kanak hingga SMU. Ketika duduk di kelas III SMU, di jurusan sosial, aku mulai suka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=279&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_530" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/kisah-seorang-aktivis.jpg"><img class="size-full wp-image-530" title="kisah-seorang-aktivis" src="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/kisah-seorang-aktivis.jpg?w=300&#038;h=250" alt="" width="300" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">(ilustrasi:ben)</p></div>
<p><strong>AKU</strong> dilahirkan pada bulan Desember 1985, pada masa kejayaan rezim Orde Baru. Di kota Solo, kuhabiskan masa kecilku hingga umur lima tahun. Menjelang aku bersekolah, keluargaku pindah ke kota Semarang. Di kota Semarang inilah kujalani masa–masa sekolahku, mulai dari Taman Kanak–Kanak hingga SMU.<br />
<span id="more-279"></span><br />
Ketika duduk di kelas III SMU, di jurusan sosial, aku mulai suka membaca buku. Aku suka membaca buku-buku sosial, politik, filsafat, maupun sastra. Tapi aku kurang tertarik dengan bidang ekonomi. Yah, kurasa aku memang takkan menjadi seorang ekonom. Dari buku-buku yang kubaca itulah pandanganku mulai berubah, terutama tentang politik dan ideologi. Bagiku, politik adalah suatu hal yang kotor dan busuk. Kawan bisa menjadi lawan, dan lawan bisa menjadi kawan. Hal itu dilakukan hanya untuk melanggengkan kedudukan, dan kedudukan adalah alat untuk memperkaya diri sendiri.</p>
<p>Menjelang lulus SMU, aku meng-alami kejadian yang juga merubah pandanganku. Sekolahku ketika itu berada persis di depan balaikota. Pada suatu hari, seusai pulang sekolah, aku melihat ada aksi demonstrasi mahasiswa di balaikota. Sambil membawa bendera organisasinya, mereka meneriakkan tuntutan mereka. Jujur saja, aku kurang simpati, bahkan aku merasa terganggu. Dengan suara keras mereka berteriak-teriak, bahkan ada pula yang menghujat tokoh tertentu. Itukah gambaran mahasiswa, pikirku. Kelak ketika menjadi mahasiswa aku takkan seperti mereka, janjiku dalam hati.</p>
<p>Setelah lulus SMU, aku diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik salah satu Universitas di Semarang.. Kadang aku sering tertawa sendiri, bagaimana mungkin aku yang tidak suka dengan politik masuk ke fakultas yang mempelajari politik. Di kampus aku mulai belajar tentang dunia jurnalistik dan tulis menulis. Inilah jalan yang akan aku pilih kelak, pikirku. Menjadi demonstran tidak harus turun ke jalan, kita bisa menyampaikan aspirasi melalui tulisan.</p>
<p>Aku pun mulai suka menulis. Beberapa tulisanku mulai sering dimuat di media, mulai dari surat pembaca, sampai artikel ilmiah. Bahkan, tidak jarang kawan-kawanku di kampus mengajak berdiskusi setelah membaca tulisanku. Tapi aku juga mulai mempunyai musuh, tentu saja orang-orang atau kelompok yang tidak suka dengan tulisanku. Tidak jarang mere-ka adalah kawan-kawanku sendiri di kampus. Tapi aku tak peduli. Lebih baik aku diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan, kata Gie.</p>
<p>******************</p>
<p>Wahyu membaca tulisan milik Putra. Putra Baruna, sahabatnya, saat ini sedang berada di rumah sakit. Sudah tiga hari ia mengalami koma, akibat kecelakaan lalu lintas. Dalam perjalanan pulang dari kampus ia ditabrak oleh sebuah mobil. Dan si pelaku rupanya juga tidak bertanggung jawab, ia melarikan diri setelah menabrak Putra.</p>
<p>Wahyu mengacungkan beberapa lembar loose leaf itu kepada Lina. Dari Lina lah, Wahyu mendapatkan tulisan Putra itu.</p>
<p>”Darimana kamu mendapatkan ini,” tanya Wahyu.</p>
<p>”Di dalam binder Putra,” jawab Lina.</p>
<p>Wahyu melanjutkan membaca.</p>
<p>*******************</p>
<p>Aku sering tidak habis pikir de-ngan kehidupan politik di kampusku sendiri. Di sini, di kampus, seharusnya kita mempelajari kehidupan politik yang baik, sesuai dengan idealisme kita sebagai mahasiswa. Tapi pada kenyataannya,  kehidupan politik mahasiswa di kampusku tidak jauh berbeda dengan politik praktis di pemerintahan sana. Ada kawan, ada lawan, black campaign, curi start  kampanye, penggelembungan suara, bahkan tidak jarang konflik yang mulai menjurus ke arah kontak fisik. Oh man, bagaimana mungkin negara ini bisa maju kalau calon-calon politikus  di kampus yang penuh idealisme sudah menerapkan politik kotor!</p>
<p>Pernah suatu kali aku menulis suatu artikel di media. Mengkritisi kehidupan politik di kampusku itu. Salah satu yang aku angkat adalah peran senat mahasiswa. Dalam pemilihan, mereka mengatasnamakan jurusan atau program studi. Tapi setelah mereka terpilih, aku tidak pernah melihat mereka memperjuangkan kepentingan mahasiswa dari jurusan mereka. Bahkan, anggota senat dari jurusan yang sama tidak pernah berkoordinasi untuk memperjuangkan kepentingan konstituen mereka. Yang kulihat, mereka sibuk memperjuangkan kepentingan organisasi mereka masing-masing, yang notabene tidak ada dalam struktur intra kampus.</p>
<p>Dan tebak apa yang terjadi. Aku mulai dimusuhi oleh para politikus-politikus kampus itu, tak terkecuali para anggota senat mahasiswa. Hingga pernah aku diundang dalam suatu sidang senat untuk mempertanggungjawabkan tulisanku itu. Lucunya, tidak semua anggota senat hadir. Bahkan, dalam pengamatanku yang hadir saat itu didominasi oleh anggota-anggota senat dari satu organisasi.</p>
<p>Aku pernah bertanya pada diriku sendiri. Bisakah anggota senat mahasiswa itu di-recall seperti halnya anggota legislatif di pemerintahan? Kalau memang bisa, lalu siapa yang berhak melakukan itu? Apakah dari mahasiswa langsung, atau dari Himpunan Mahasiswa? Sayangnya, aku belum bisa menemukan jawabannya secara pasti. Seharusnya, karena mereka dipilih oleh mahasiswa, sebagai konstituen mahasiswa bisa me-recall anggota senat yang dipandang tidak representatif dengan kepentingan mereka.</p>
<p>Tapi aku tidak sendiri. Tidak lama setelah insiden sidang senat itu aku diundang untuk menghadiri rapat Himpunan Mahasiswa Jurusanku. Mereka meminta pendapatku lebih lanjut tentang artikelku. Hingga dalam rapat diputuskan akan mengundang anggota senat dari jurusanku. Sayangnya, rencana itu tidak berjalan lancar. Para anggota senat dengan didukung organisasi mereka, tidak setuju de-ngan rencana itu. Apalagi dengan adanya wacana, bahwa Himpunan Mahasiswa akan me-recall  beberapa anggota senat yang tidak representatif dengan kepentingan jurusan. Mereka berpendapat, Himpunan Mahasiswa tidak berhak mengundang anggota senat, apalagi me-recall anggota senat. Tidak ada dasar yang kuat untuk itu, kata mereka. Sedangkan Himpunan Mahasiswa, sebagai konstituen merasa berhak untuk itu.</p>
<p>Permasalahan ini tidak menemukan jalan tengahnya. Bahkan, konflik semakin meluas di kalangan mahasiswa. Pihak Dekanat sendiri berkesan masa bodoh. Menurut mereka mahasiswa sudah dewasa, sudah dapat menyelesaikan permasalahan sendiri. Lain halnya dengan pihak jurusan. Mereka masih berusaha untuk membantu meredakan konflik. Bahkan dengan difasilitasi Ketua Jurusan, kubu-kubu yang berseteru berusaha dipertemukan. Tetapi konflik semakin berlarut-larut. Di kampus sendiri kondisi sudah semakin panas. Setidaknya ada dua kubu yang berseteru saat itu. Pertama adalah Himpunan Mahasiswa didukung oleh mahasiswa-mahasiswa yang setuju dengan pemikiran mereka. Yang kedua adalah anggota senat yang didukung oleh organisasi mereka. Bahkan mahasiswa dari jurusan lain  yang satu organisasi dengan mereka ikut pula mendukung.</p>
<p>******************</p>
<p>”Aku nggak nyangka, apa yang dimulai Putra akan menjadi berlarut&#8211;larut seperti ini,” kata Lina.</p>
<p>”Ya, siapa yang nyangka. Kurasa nggak seorang pun,” sahut Wahyu.</p>
<p>“Bahkan dosen-dosen dibuat angkat tangan, nggak bisa apa-apa,“ tambah Wahyu.</p>
<p>Wahyu dan Lina sendiri adalah pengurus Himpunan Mahasiswa. Masih jelas di ingatan mereka, bagaimana situasi saat itu. Himpunan Mahasiswa menerima dengan baik keterlibatan dosen dalam menengahi konflik, tetapi anggota senat menolak dengan tegas. Permasalahan di lingkungan mahasiswa harus diselesaikan sen-diri oleh mahasiswa, dosen hanya mengurusi permasalahan akademik, alasan mereka.</p>
<p>”Memang akhirnya dekanat turun tangan, setelah didesak oleh dosen-dosen jurusan kita. Tapi kayaknya keputusan yang diambil nggak pas deh,” kata Lina.</p>
<p>”Membekukan senat memang bukan keputusan yang terbaik. Tapi mau gimana lagi. Keputusan dekanat udah bulat. Walau diprotes sama anggota-anggota senat, toh jalan juga,”kata Wahyu.</p>
<p>”Tapi hasilnya&#8230; lihat beberapa teman kita dapet teror. Jelas teror itu berasal dari kelompok-kelompok yang mendukung senat. Bahkan Putra sendiri oleh mereka dianggap sebagai provokator dari kejadian ini semua,” kata Lina.</p>
<p>”Ya. Dan sekarang Putra kecelakaan,” kata Wahyu pelan.</p>
<p>”Kepikir nggak&#8230; jangan-jangan kecelakaan Putra itu rekayasa mereka,” kata Lina.</p>
<p>”Jangan berspekulasi lah. Toh kasus kecelakaannya Putra kan udah ditangani polisi. Yuk, sekarang kita ke rumah sakit. Mudah-mudahan Putra udah sadar,” ajak Wahyu.</p>
<p>Mereka diam membisu dalam perjalanan ke rumah sakit. Putra adalah sahabat mereka. Sekalipun bukan pengurus Himpunan Mahasiswa, Putra sering memberi masukan kepada mereka tentang kegiatan-kegiatan Himpunan Mahasiswa. Sesampainya di rumah sakit, mereka bertemu dengan ayah dan kakak Putra. Ibu Putra telah meninggal ketika Putra kelas II SMU.</p>
<p>”Bagaimana keadaan Putra?” tanya Lina kepada kakak putra.</p>
<p>”Belum ada perkembangan yang berarti. Tadi ada polisi datang ke sini. Katanya informasi tentang penabrak Putra tidak sesuai. Ternyata nomor polisi mobil si pelaku palsu,” jawab kakak Putra.</p>
<p>”Mungkinkah ada faktor kese-ngajaan dalam kecelakaan Putra?” tanya Wahyu.</p>
<p>”Polisi juga sudah menduga ke arah itu,” jawab kakak Putra.</p>
<p>******************</p>
<p>Seperti prajurit mati di medan perang,</p>
<p>Seperti ksatria gugur di medan laga,</p>
<p>Aku pun ingin mati untuk apa yang aku perjuangkan.</p>
<p>Bait puisi karangan Putra itu akan selalu diingat oleh Wahyu dan Lina. Saat ini mereka sedang bertakziah ke makam Putra. Putra Baruna, sahabat mereka telah tiada. Setelah empat hari koma, nyawa Putra tak tertolong. Pendarahan di kepalanya, mengakibatkannya meninggal. Dan pelaku penabrak Putra tetap saja tidak terungkap.<br />
<strong><br />
(Dewanto)</strong></p>
<p>Berikut halaman dari rubrik kolom ini yang bisa didownload</p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-51.pdf">majalah-opini-35-hal-51</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-52.pdf">majalah-opini-35-hal-52</a></p>
<p><a href="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/majalah-opini-35-hal-53.pdf">majalah-opini-35-hal-53</a></p>
<p>*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.</p>
<br />Posted in MAJALAH OPINI 35, Resensi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahopini.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahopini.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahopini.wordpress.com&amp;blog=4131879&amp;post=279&amp;subd=majalahopini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/cerpen-kisah-seorang-aktivis-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/260530594529eaeb6fb4c7a3d5775a4e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">majalahopini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahopini.files.wordpress.com/2008/10/kisah-seorang-aktivis.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kisah-seorang-aktivis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
