Majalah OPINI

Budaya Pop: Antara Simbol, Gaya Hidup, dan Fungsi

Posted on: October 5, 2008

Oleh : Hari Sapto
Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip

SIANG hari ketika perut mulai bernyanyi, pikiran kita akan mengarah pada makanan siap saji Mc. Donald yang dapat menuntaskan lapar. Saat dahaga menyapa, yang terbayang adalah nikmatnya Coca Cola, minuman dingin bersoda. Mengapa asosiasi lapar terarah ke Mc Donald dan asosiasi haus menuju pada Coca Cola?

Mengapa shopping di mall kian menjamur sementara pasarpasar tradisional mulai menyusut? Mengapa produksi hand phone terus digenjot sementara fasilitas telepon umum cenderung mandeg? Mengapa produksi mobil pribadi kian menderas, sementara kendaran umum senantiasa berkurang peminatnya?

Gaya hidup berikut simbolsimbolnya saat ini tengah mengguncang struktur kesadaran manusia. Masyarakat cenderung terserap dalam keperkasaan budaya pop yang kian hegemonik dengan segala atributnya. Gaya hidup telah menjadi komoditas. Dalam menapaki kehidupannya kebayakan orang tampak lebih mementingkan “kulit” ketimbang “ isi”(Ibrahim, 2004).

Fenomena di atas secara jelas telah menggambarkan bagaimana budaya pop telah merasuk ke segala lini kehidupan. Penampilan dan gaya menjadi lebih penting dari pada moralitas sehingga nilainilai tentang baik atau buruk telah lebur dan dijungkirbalikan. Budaya populer merupakan suatu pola tingkah laku yang disukai sebagian besar masyarakat. Tandatanda pesatnya pengaruh budaya populer ini dapat kita lihat pada masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif. Membeli barang bukan didasarkan pada fungsi guna dan kebutuhan tetapi lebih didasarkan pada image atau prestise.

Semakin maraknya dan menjamurnya pusatpusat perbelanjaan seperti mall, industri mode atau fashion, industri kecantikan, industri gosip, dan real estate menjadi pendukung semakin kuatnya pengaruh budaya populer.

Sebagian kalangan memang menilai bahwa budaya populer ini membawa dampak positif yaitu sebagai bentuk kemajuan dari peradaban dan menciptakan dinamisasi Terhadap mobilitas budaya baik secara vertikal maupun horisontal. Tetapi tetap saja dampak yang dibawa atas budaya populer yang bersumber dari proses globalisasi dan kapitalisme ini sangat merugikan bagi banyak pihak antara lain eksistensi budaya daerah yang semakin hilang karena dianggap ketinggalan zaman dan identitas diri yang semakin terkikis karena adanya penentuan identitas dan standarisasi dari industri budaya sebagai pihak yang menciptakan budaya.

Budaya populer yang pada akhirnya disebut sebagi budaya komoditas ini diproduksi secara besar  besaran hanya didasarkan  pada keuntungan ekonomi semata sehingga hal ini memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat karena penilaian baik atau buruk bukan lagi didasarkan pada ajaran moral tetapi lebih pada kemampuan ekonomi untuk mendapatkan prestise.

Selain itu, produk  produk budaya populer akan merusak budaya elite dan sistem tata karma dalam kehidupan bermasyarakat. Budaya populer ini akan menciptakan khalayakkhalayak pasif karena semua kebutuhan hidup sudah disediakan. Penilaian baik buruk dan pedoman  pedoman dalam hidup sudah ditentukan dan diatur oleh industri budaya.

Standarisasi budaya

Keragaman budaya indonesia yang menjadi kekayaan negeri ini sedikit demi sedikit telah luluh dan menghilang digantikan oleh budaya-budaya modern yang dianggap lebih maju. Budaya-budaya yang menggiring manusia pada pendangkalan makna. Industri budaya memproduksi budaya yang bersifat homogen dengan standar karakterkarakter yang dianggap ideal.

Penilaian tentang cantik misalnya yang dianggap relatif, kini distandarkan oleh industri budaya melalui berbagai produk-produknya. Akibatnya, hal ini menimbulkan kekhawatiran yang tiada henti karena selalu merasa ada yang kurang dari diri sendiri. Pasalnya penentuan nilai-nilai oleh industri budaya lebih menekankan pada sudut pandang negatif yaitu selalu menciptakan kekurangan-kekurangan pada diri sehingga nantinya dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi produk-produk industri.

Imbasnya adalah menjadikan orang tidak percaya diri. Banyak orang yang rela mengorbankan dan melakukan apapun demi mendapatkan paras yang cantik, orang rela diet agar tubuhnya terlihat seksi. Di sini industri seolah memberikan solusi terhadap permasalahan dengan mendirikan pusat-pusat kecantikan, pusat-pusat kebugaran, perawatan tubuh. Akibatnya, identitas pada diri sendiri yang unik menjadi hilang. Orang lebih merasa bangga bila bisa tampil seperti bintang idolanya daripada menunjukan identitas atau karakter dirinya sendiri.

Karakter  karakter manusia yang unik menjadi homogen sesuai standar  standar yang di kontruksi oleh industri budaya. Manusia tidak lagi dapat memahami secara mendalam apa yang menimpa mereka saat ini, terutama pengaruh televisi yang dirasa membuat manusia sangat dangkal dalam memahami fenomena kehidupan. Televisi telah menjadi narkoba bagi manusia, bagaimana tidak, setiap hari masyarakat Indonesia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melihat televisi. Berbagai suguhan acara diperlihatkan, dari mulai sinetron percintaan yang penuh fitnah dan air mata sampai berbagai bentuk kekerasan  dan kejahatan yang menampilkan darah. Suguhan acaraacara tersebut menjadikan manusia tidak lagi dapat membedakan antara ranah simbolik dan realita sebenarnya. Bahkan bagi pecandu berat televisi, menjadikan televisi sebagai pedoman atau sumber kebenaran dari realita.

Resapan budaya pop sepertinya tidak berhenti begitu saja menciptakan manusia yang pasif dan konsumtif. Lebih jauh budaya pop mencoba menjadi ideologi baru. Ranah agama yang dianggap suci dan merupakan sumber dari ajaran-ajaran moral tidak luput dari resapan budaya populer. Banyak ustadz gaul bermunculan. Begitu pula dengan fashion-fashion muslim seksi yang seolah terlihat menutup aurat tetapi tetap saja mengumbar aurat.

Nilai-nilai luhur yang bersumber dari agama lebih banyak dijadikan “lipstik” demi melancarkan kepentingan industri budaya. Tak pelak lagi kita jumpai perdebatan mengenai masalah agama tanpa pemahaman yang mendalam dan disesuaikan dengan konteks. Kita bisa berkaca pada masalah poligami. Siapa yang mempunyai kepentingan maka akan mencari-cari dasar-dasar yang mendukung tanpa konteks dan situasi memperhatikan keterkaitan dengan hal lain.

Nilai  nilai agama yang ideal dijadikan sebagai komoditas untuk memenuhi keinginan bukan sebagai pedoman atau pandangan hidup. Akibatnya, pesan-pesan yang disampaikan hanya mengambang pada level simbolik. Sebagai contoh dengan maraknya wisata religius untuk kepentingan ekonomi yang hanya menghargai keindahan mata tanpa memahami makna yang terkandung didalamnya.

Kemudian muslim fashion show di mana mode-mode  baju muslim trendi diperkenalkan.sehingga dapat disebut sebagai muslim gaul. “biar religius tapi tetap trendi dan modis”. Sekilas hal tersebut terlihat positif tetapi permasalahannya adalah trendi dan modisnya yang lebih dipentingkan dari pada religiusnya. Di sinilah ketika penampilan dan gaya dipandang lebih penting dari moralitas. Di saat citra  citra telah meyingkirkan persoalan baik buruk dalam permainan rumit gaya-gaya dan penjungkir balikan makna.

Nilai  nilai atau pedoman hidup mengalami pendangkalan yang menyebabkan manusia kehilangan pegangan. Inilah tujuan dari gencarnya serbuan budaya pop dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Menjadikan manusia tanpa arah dan pegangan yang jelas sehingga mudah untuk dikendalikan oleh tangantangan tidak tampak demi mendapatkan keuntungan besar. Secara lebih lanjut kehidupan manusia akan mengambang pada level simbolik di mana semua akan ditentukan oleh simbol  simbol tanpa jelas makna dan tujuan penggunaan simbolsimbol tersebut. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: