Majalah OPINI

Cinta dan Kebahagiaan

Posted on: October 5, 2008

MENTARI mulai terbenam, senja pun mulai naik. Tapi aku masih saja terdiam di tempat ini. Duduk di atas gundukan tanah yang mulai mengering ini. Kulihat purnama mulai memperlihatkan keindahannya.

“ Ningsih…,” nama itulah yang selalu kuingat dan kusimpan di dalam hatiku yang selalu hidup. Karena dialah aku seperti ini sekarang. Karena dialah aku memilih jalan ini. Dan karena perasaan rinduku kepadanya, saat ini aku lari dari tempat terkutuk itu.

Purnama mulai tinggi, pelan tapi pasti aku meninggalkan tempat ini. Aku harus menemui Ningsih. Rasa rindu ini sudah tak tertahankan. Aku tahu di mana dia berada saat ini.

*********************

Seperti biasa, dia ada di beranda rumah saat ini. Menikmati indahnya purnama dan bintang  bintang. Aku pernah berselisih dengannya, tentang mana yang lebih indah antara purnama dan bintang  bintang. Aku lebih memilih purnama, sedangkan dia lebih memilih bintang.

”Bintang memiliki cahayanya sendiri, sedangkan purnama hanyalah memantulkan cahaya matahari,” katanya ketika itu.

”Tapi alangkah bijaksananya purnama. Meskipun tidak memancarkan cahaya sendiri, ia mau membagikan cahaya matahari yang didapatnya kepada bumi. Maka ialah pelita di malam hari,” bantahku.

Ah, itu semua adalah masa lalu. Masamasa indahku bersama Ningsih, perempuan yang kucintai. Perempuan yang kucintai dan takkan pernah kumiliki karena kutahu ada lakilaki lain di hatinya yang dia cintai. Tapi aku tak pernah menyesal mencintainya. Bagiku, cinta bukanlah tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang kita lakukan.

Ya, demi seseorang yang kucintai aku rela melakukan apa saja. Apa saja untuk membuatnya bahagia. Meskipun itu harus mengorbankan kebahagiaanku, mengorbankan hidupku. Mungkin aku adalah seorang yang bodoh, tetapi Ningsih telah membuatku yakin

bahwa aku bukan orang bodoh. Mencintainya bukanlah suatu kebodohan, tetapi suatu anugerah karena tidak pernah kutemukan perempuan seperti Ningsih.
Aku tahu Ningsih mencintai orang lain. Aku senang dia percaya padaku. Meskipun tahu aku mencintainya, tetapi dia mau bercerita kepadaku. Dia mencintai seorang laki  laki, dan laki  laki itu pun mencintainya. Krisna nama laki  laki itu. Tetapi sayang hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Ningsih. Berbagai cara telah dicoba untuk meyakinkan orang tuanya. Tetapi rupanya mereka bersikeras, Ningsih tidak boleh berhubungan dengan Krisna.

Akhirnya Ningsih mengalah, dia mau mengikuti orang tuanya. Tetapi dia meminta waktu untuk menyelesaikan semua hal itu dengan Krisna. Begitu pun dengan Krisna, dia cukup tahu diri. Tidak akan dia memaksakan, bila memang hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Ningsih.

Tetapi rupanya tidak mudah menyelesaikan semua permasalahan ini. Aku tahu begitu dalam rasa cinta Ningsih pada Krisna, begitu pula perasaan Krisna pada Ningsih. Terkadang aku merasa sedih melihat mereka, terutama kepada Ningsih. Pernah dia menangis di depanku karena begitu keras orang tuanya sampaisampai mereka begitu membenci Krisna.

Ah, itu semua adalah masa lalu. Masamasa duka bagi Ningsih. Tetapi aku bahagia sekarang karena telah datang masa  masa bahagia baginya. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga.

” Ada di sini kau ternyata,” Krisna datang menghampiri Ningsih,” Apa yang sedang kau lakukan, Bintangku?”

”Malam ini purnama, dan aku tahu Putra sangat mengagumi keindahan purnama,” kata Ningsih,”Entah mengapa aku merasa bahwa dia akan datang malam ini.”

”Mengapa berkata seperti itu? Kau tahu itu takkan mungkin, dia…”

”Aku tahu!” potong Ningsih,” Aku hanya tidak tahu apakah aku harus merasa sedih atau bahagia saat ini,”

”Putra orang yang baik. Aku pun merasa kasihan padanya,” kata Krisna

”Jangan kasihan padanya, Putra tidak suka dikasihani. Dia yakin bahwa apa yang terjadi padanya adalah jalan yang harus dia tempuh.”

Aku tersenyum mendengar kata  kata Ningsih.

”Hai, ruh yang sesat!” kudengar suara di belakangku. Aku pun menoleh. Sial! Kulihat dua malaikat iblis datang menghampiriku. Rupanya mereka berhasil melacakku sampai di sini.

”Di sini rupanya kau. Kami berhasil melacakmu sampai ke kuburmu, dan rupanya kau berada di sini,” kata salah satu dari malaikat iblis itu.

”Ya, aku ada di sini. Sekedar berjalanjalan saja,” kataku sambil tersenyum sinis.

”Jangan membual! Kami tahu kau melarikan diri dari pekerjaanmu di tempat tuan kami.”

”Ha…ha…,aku memang melarikan diri sebentar dari tempat terkutuk itu.”

”Sekarang kau harus kembali bersama kami. Sudah cukup kau menyusahkan kami.”

Aku hanya terdiam. Kulihat lagi ke arah Ningsih dan Krisna. Ya, aku memang sudah mati. Tapi aku mati dengan bahagia, karena setelah kematianku, orang tua Ningsih akhirnya merestui hubungan mereka.

”Bila kau dengar kabar kematianku, tolong sampaikan pada ahli warisku, janganlah menyesali kematianku dan jangan menyalahkan siapasiapa tentang kematianku. Bila aku mati karena sakit, jangan salahkan dokter yang merawatku. Bila aku mati karena kecelakaan, jangan salahkan orang yang mencelakakanku. Bila aku mati karena perang, jangan salahkan orang yang memerangiku. Bila aku mati terbunuh, jangan salahkan orang yang membunuhku. Aku mati karena itu adalah akhir dari jalan hidupku,” begitu aku pernah berpesan pada Ningsih. Aku memang selalu berpikir bahwa aku akan mati muda, dan aku tidak menyesal.

”Putra pernah berpesan padaku, untuk disampaikan pada ahli warisnya, bahwa jangan ada yang menyesali kematiannya. Aku pun merasa sebagai ahli warisnya dan aku tak kan menyesal,” kata Ningsih.

”Putra selalu berharap atas kebahagiaanku, begitu katanya. Dan aku bahagia, karena akhirnya orang tuaku merestui hubungan kita,” kata Ningsih,”Aku akan selalu mengingatnya, dan kuharap di kehidupan yang kekal kelak aku bisa bertemu lagi dengannya,”

Aku menunduk mendengar kata  kata Ningsih. Sayang sekali, Ningsih. Mungkin apa yang kau harapkan itu tak kan terjadi. Kau bahagia di dunia, dan aku yakin kau akan bahagia pula di kehidupan yang kekal kelak. Aku yakin kau akan berada di tempat yang layak. Entah di surga atau di neraka, tetapi itu adalah milik Tuhan. Tetapi aku hanya akan berada di neraka milik iblis, menjadi budak iblis.

”Apa yang kau harap dengan datang ke tempat ini. Menemui perempuan yang kau cintai, tetapi tidak mencintaimu. Kau ini benarbenar bodoh. Baik hidup maupun mati, kau tetap saja bodoh,” cela malaikat iblis.

” Mencintai Ningsih bukanlah suatu kebodohan. Apa pun yang telah kulakukan tidak akan kusesali. Satu  satunya kebodohanku adalah percaya pada tuanmu, iblis yang terkutuk,” balasku.

”Kau sendiri yang meminta untuk menukar jiwa dan nyawamu dengan keikhlasan orang tua Ningsih dan kebahagiaan Ningsih. Mengapa kau sekarang mencerca tuan kami?”

”Aku memang bodoh, tapi aku tidak tolol. Kau pikir aku tidak tahu, iblis tidak punya kemampuan untuk membuat seseorang bahagia, iblis hanya bisa menyesatkan seseorang. Aku tahu dan yakin kebahagiaan Ningsih adalah pemberian dari Tuhan, Dia Yang Maha Pemberi.”

” Ha…ha… tapi itu semua sudah terlanjur. Jiwamu milik tuan kami sekarang, kau harus tinggal bersama kami di neraka iblis dan menjadi budak tuan kami. Ha…ha…”

Ya, malaikat iblis itu benar. Semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah tidak bisa merubah semua itu. Sekarang aku harus kembali ke neraka iblis dan kembali menjadi budak iblis. Tetapi aku tetap bahagia. Karena aku tahu, perempuan yang kucintai akan hidup bahagia. Selamat tinggal, Ningsih. Nikmatilah kebahagiaanmu…(dewanto)

Cerpen

Duka Kartini

Dingin. Malam ini terasa begitu dingin dan sepi. Hujan rintik-rintik seakan tak mau mengerti aku sedang berlarian dalam ruh identitasku sendiri. Tadi orang itu melamarku. Di hadapan emak dan bapakku. Juga kelima adikku. Dia membawa cincin emas putih yang ditengahnya terdapat zamrud berwarna hijau kesukaanku. Dia juga membawa uang puluhan juta untukku. Untuk emak, bapak, dan adik-adikku juga tentunya. Emak dapat mesin jahit baru. Bapak diberi dua ekor sapi gemuk, kedua adikku yang kuliah merantau di pulau Jawa dan dua lainnya yang masih SMP ditanggung biaya sekolah sampai selesai. Si imut yang kelima ini, Bejo, begitu bapak biasa memanggilnya, dapat sepeda mini baru. Aneh memang. Adikku satu ini berjenis kelamin pria tapi diberi sepeda mini. Bapak yang menyuruh orang itu untuk membelikannya. Rupanya bapak telah akrab dengannya. Dia memang gampang mengambil hati.

Dari dulu bapak memang pingin punya anak bungsu perempuan. Tapi nggak kesampaian. Jadinya ya begitu. Anaknya diberi mainan perempuan. Sebulan sekali bapak beli boneka baru dari pasar tentunya untuk si Bejo. “mumpung murah dan lucu”, dalihnya. Bejo yang nggak tahu apa-apa tentu mau-mau saja. Kasihan Bejo. Sering diledek teman-temannya. Kata-kata seperti “banci” atau “wandu” sudah tak asing lagi untuknya Pernah aku protes pada bapak untuk memperlakukan Bejo sesuai kodratnya. Karena aku khawatir pada psikologi Bejo kelak Tapi bapak gak mau tahu. “paling-paling kalau udah gede juga jadi kayak laki-laki”, bentaknya.

Semua ini memang berawal dari kesukaan bapak kumpul-kumpul bersama teman-temannya satu pasar. Bapak percaya jika punya anak bungsu perempuan bisa mendatangkan keberuntungan. Ketika pasar mulai sepi biasanya kutemui bapak di warung bulik bersenda gurau. Di sini bapak yang hanya sekolah sampai kelas dua sekolah dasar menuntut ilmu lagi. Dari mulai ilmu social, hokum, ekonomi. Sampai ilmu agama. Bedanya, ilmu bapak dan yang dimiliki teman-temannya amat lebih sangat sederhana ketimbang yang dipelajari anak-anak sekolahan sekarang. Ilmunya bapak tanpa rumus.

Aku sering mendengar bapak bercakap. Suaranya lembut tapi tegas. Aku suka bertanya tentang ini-itu. Ya tentang sekolah, guru, maupun teman bapak. Kata bapak mereka sering main judi. Di gubuk kecil belokan rumah pak RT. Pernah aku suruh bapak untuk ikut-ikutan main judi. Karena katanya dengan modal sedikit akan dapat uang banyak. Sekarung kata si Pras, tetanggaku. Pras pernah lihat bapaknya bawa uang banyak. Setiap hari malahan. Kata bapak, pakde ikhsan, bapaknya si Pras adalah Bandar judi. Kata bapak lagi, hasil judi itu nggak berkah. Pasti cepat habisnya, makanya bapak nggak mau ikut main judi.

Bapak sering dipaksa teman-temannya untuk main judi. Tapi sering kulihat dia menolak. Pernah ku lihat saat disuruh emak mengantarkan rokok lintingan bapak yang ketinggalan, bapakku dipukuli temannya sendiri. Salah satunya pakde ikhsan. Samar-samar kudengar bapak diancam dibakar rumahnya jika bapak tidak main judi. Namun bapak tetap bersikukuh.

“maaf….maaf saya tidak mau….”, katanya berpuluh-puluh kali. Bahkan saat itu pertama kalinya bapak menangis. Bapakku sayang menangis. Memohon-mohon pada pakde ikhsan. Lalu pakde tertawa. Nyaring. Nyaring sekali. Seperti lengkingan serigala yang kudengar setiap jumat kliwon. Wajah pakde aneh. Seperti kerasukan sesuatu. Kemudian dia memanggil Sukamto, teman bapak yang lain. Orangnya tinggi besar, kulitnya hitam, dan giginya sangat besar dan kuning. Dia menyerahkan pisau kecil, mirip belati yang diberikan oleh bapak saat ulang tahunku ketujuh, kepada pakde. Lalu dia…..uuuhhhhh menggarit kening bapak membentuk sebuah tanda silang. Darahnya mengucur. Membasahi matanya. Air mata bapak bercampur dengan darahnya. Kemudian dia mendekati bapak, sangat dekat.

Aku ingin berlari ke arahnya dan mencegah siapapun mendekati bapakku sayang. Bapak yang suka menggendong aku di atas bahunya, membuatkan gulali kesukaanku, dan mendongengiku sampai mulutnya kering jika aku tidak juga tidur. Namun urung kulakukan ketika saat itu kulihat pakde hanya membisikkan sesuatu di telinga bapak. Dan bapak menggangguk. Berkali-kali malahan. Dan kulihat pakde menancapkan pisau kecil itu di dekat wajah bapak. Lalu tertawa terbahak-bahak dan diikuti teman-temannya yang lain sembari meningalkan bapak tanpa secuil doktrin kemanusiaan yang sering kudengar dari radio milik si Pras. Saling menghargai dan menghormati. Setelah mereka pergi, aku baru beranjak mendekati bapak. Tapi beliau menyuruhku berhenti, menghadap ke belakang. Sempat aku intip bapak, ternyata dia sedang mengusap darah dan air matanya dengan baju lusuhnya. Baju yang bergambarkan seseorang memakai peci dan tersenyum yang bapak dapatkan saat ia  bergabung dengan ketua RT dalam aksi kampanye kepala desa. Kudengar dia mengaduh dan meringis. Menahan sakit. Lalu dia menoleh padaku. Cepat-cepat kubuang muka  pura-pura tidak melihat apa yang terjadi.

“nduk, kamu kenapa kesini?”, katanya sambil mencopot bajunya.

“emak bilang rokok bapak ketinggalan, saya disuruh ke sini”, balasku. “bapak kenapa keningnya?”, cemasku. “oooo…iya nduk, bapak pelupa, mana rokoknya….”, tutur bapak sambil tersenyum. Pahit. Bapak lalu mengambil rokok itu dan menyalakannya satu. Asap mulai mengepul di udara sekitar bapak. Batinku berkata, bapak pasti sangat sedih sampai tidak menjawab pertanyaanku tadi.

“pulang yok, emak nunggu……..”, katanya lagi

Sepanjang perjalanan bapak diam. Aku berjalan di sampingnya saat itu. Yang terdengar hanya suara langkah kaki dari sandal jepit bapak dan punyaku.

Kartini sayang, Gimana kabarnya? Mas Yusuf di sini baik saja. Banyak temannya. Baru dua bulan nggak ketemu kangen rasanya. Mas ingat, Tini nangis seperti anak kecil sampai sapu tangan pemberian mas basah semua saat mas hijrah ke Jatinangor untuk sekolah jadi pegawai pemerintah. Kamu khawatir mas kenapa-napa kan.

Tenang saja. Mas yakin bisa sukses di sini.

Kamu tahu kan mas anak sulung. Tangung jawab ada di pundak. Walaupun berat, tapi akan mas lakukan. Kamu juga tentu masih ingat ukiran kayu di pohon pinus yang ada di belakang rumahmu. Sebentar lagi mas akan melamarmu. Dengan syarat mas membawakanmu sebuah cincin emas putih bertahtakan zamrud hijau. Tini, kamu masih simpan foto mas kan. Setahun sekali mas akan pulang menemui dan kamu boleh membandingkan dengan fotonya. Mas tidak akan lagi dijuluki si tiang listrik jalan.

Selama satu bulan terakhir ini, mas mulai dilatih fisik oleh pelatih. Setiap hari lari pagi. Sore dan juga malamnya. Jangan khawatir mas akan kuat. Mas jarang membawa fotomu Tini sayang, karena setiap waktu selalu digeledah oleh petugas. Jika ketahuan membawa sesuatu yang bukan dari sekolah, mas akan terkena sanksi. Sungguh sangat berat kata teman-teman mas. Jangan khawatir lagi, mas sudah menyimpan mata, hidung, alis dan bibirmu yang mungil di dalam hati. Di dalam jiwa. Di dalam mimpi. Kamu adalah hidup mas. Kamu tentu ingat, saat mas mencium bibirmu pertama kalinya. Niatnya ingin seperti yang ada di TV tapi nggak tahu caranya, hidung kita malah saling tabrakan. Waktu itu kau tersenyum. Wajahmu merona. Sungguh kau sangat cantik. Dian Sastro pun kalah cantik.

Kartini sayang,

Mas, selalu akan merinduimu. Setiap saat, detik dan setiap nafas yang berhembus. Kamu tentu juga akan begitu kan? Mas juga akan teringat masakan yang kamu buat untuk mas. Walaupun asin tapi manis yang mas rasa. Yang membuat mas bertahan di sini adalah kamu dan keluarga mas. Jantung ini adalah kalian. Sekeras apapun kehidupan di sini mas akan coba bertahan. Tunggu mas Yusuf.

Dari yang selalu merinduimu

Yusuf Putra

Ramai. Ruangan itu begitu gaduh. Terdengar suara seperti kasur kapuk yang dipukuli. Seperti saat ibu menebah kasurku. Aku tak melihat ataupun mengintipnya. Mataku di tutup. Aneh. Ada apa di dalamnya. Tiba-tiba aku mendengar orang berteriak. Yang satu kesakitan. Yang satunya membentak. Yang kesakitan seperti aku mengenalnya. Namun sayang aku lupa pemilik suara itu.

“ampun kak, ampun…….ampun….”

“gampang ya bacot kayak gitu!!oo mau ngelawan saya!!!kau tahu saya siapa?senior, goblok!!!!

Saat itu juga kudengar suara tamparan keras berkali-kali. Lalu orang yang minta ampun itu menangis

“ooo….gini calon pemimpin bangsa! Cemen!!!!kau tahu salahmu!!kau nantang si Irwan
kan!seniormu!!sok jagoan pula kau ini!!ayo, bisa apa kau!!buktikkan!!

Dengan kasarnya, kain yang menutupi mataku mulai dibuka. Oh Tuhan! Angga!! Yang kulihat di depan itu adalah Angga!teman satu barisan!laki-laki yang suka bercanda itu terkulai lemas. Tangan dan kakinnya diikat. Ia didudukkan di sebuah kursi tanpa baju kecuali celana pendek yang biasa dipakainya ketika akan tidur. Dadanya biru lebam. Selain itu kulihat teman-teman lain.

Mereka dipukuli habis-habisan dengan senior. Bedanya mereka masih memakai seragam dan dalam keadaan berdiri. Raut wajah mereka terlihat menahan sakit. Kadangkala ada yang kuat tetap berdiri, ada yang jatuh tersungkur tak berdaya. Aku seperti melihat pengeksekusian. Dan sekarang aku hanya bisa menunggu rasa sakit seperti teman-teman rasakan.. aku berdiri membisu. Aku seperti orang gila yang mengantri jatah pukulan dan tendangan dari senior-senior itu. Terbersit untuk berlari dari kekonyolan dan kebodohan di sini. Tapi ada yang memanggilku.

“Yusuf Putra, kemari kau!”, bentak seseorang

“Kamu ikut bersekongkol dengan temanmu Angga ini untuk nantangin si Irwan ya!

dengan temanmu Angga ini untuk nantangin si Irwan ya!

Sekilas kulihat wajahnya. Matanya melotot. Merah. Yang aku lakukan hanya menunduk dan menyangkal semua itu dalam batin. Bagaimana suatu ketidaksengajaan berubah dratis menjadi tantangan. Angga tak sengaja menabrak Irwan saat berjalan mengambil makanan. Piring Irwan jatuh, dan kebetulan menu bakso kecap itu tumpah di seragam putihnya. Angga minta maaf berkali-kali dan berjanji untuk mencucikan seragam senior itu bahkan berjanji untuk membelikannya yang baru! Tapi si Irwan melengos dan mengangkat kerah angga dan berjanji untuk menghajarnya! Samar kudengar Irwan misuh-misuh dan memangil teman-temannya yang lain. Saat itu Angga benar-benar ketakutan. Wajahnya pucat.

Sungguh biadab!!!moral hewan!!orang-orang di sini gila!batinku tidak karuan saat orang itu mulai mendekatiku kemudian menedang perutku!edan! sakit sekali! padahal tubuhku masih belum sembuh benar setelah acara pelatihan fisik seminggu kemarin. Aku meringis kesakitan. Seorang lain datang dan tanpa basa-basi meninju dadaku. Aku tak kuat. Aku terjatuh. Berlutut sambil memgangi dadaku yang sakit. Aku teringat peringatan dokter minggu lalu. Badanku ternyata ringkih. Turunan keluarga. Dan lebih parahnya lagi ginjal dan lambungku lecet setelah diinjak-injak senior saat aku ketahuan membawa fotonya Kartini di sakuku.

“heh…ayo berdiri!!manja pula kau ini!!, kata seorang kasar. Kau bantu si Angga untuk membuat rencana menghajar Irwan ya!!

“bukan, bukan maksud saya begitu…,” kataku pelan. Kucoba berdiri menjelaskan kesalahpahaman bodoh ini. Tapi dari belakang ada yang menendang punggungku, sampai aku terpental jauh dari tempat berdiriku semula. Oh Tuhan, ragaku tak kuat lagi. Aku menangis…maaf Tini, padahal mas bilang padamu, bahwa seorang pria sejati tak boleh menangis walaupun seribu godam palu menyerangnya. Mas bohong. Maaf. kepalaku pusing. Sakit. Seperti ada yang melempar kerikil-kerikil kecil tepat di kepalaku. Pandanganku menjadi tidak jelas. Buram. Remang-remang. Perlahan-lahan aku menutup mata. Tidak kuat menghadapi kenyataan seperti ini. Lalu kurasakan sesuatu menarikku. Berawal dari telapak kaki, betis, paha, perut, kerongkongan, hingga nafasku…

Mas Yusuf…apakah di sana dingin. Apakah dinginnya sama dengan kutub utara. Tempat yang kau ceritakan itu. Terakhir kali aku melihatmu kau tersenyum. Untuk siapa senyuman itu mas…kau bilang aku adalah jantungmu. Jantungmu ada di sini. Lalu kenapa kau tidak bangun mas. Terakhir kalinya pun kau tidak mencium pipiku. Kau biasa melakukannya kan sebelum pergi.

Mas…apa kau tidak kasihan dengan ibumu. Sedari tadi pingsan jika melihatmu. Ayah dan adikmu juga tak henti-hentinya menangis. Para tetangga membicarakanmu. Wartawan juga datang meliputmu. Sekilas aku melihatmu di TV. Kau ditayangkan di berita. Koran, radio. Aku mas…aku rasa air mataku sudah habis. Ruh, jiwaku, kosong.

Mas Yusufku sayang…orang itu tadi melamarku. Bagaimana pendapatmu? Dia sekolah di tempat yang sama denganmu. Dia bekerja di gedung pemerintahan. Sekarang dia adalah calon bupati. Namanya Irwan mas…kamu tentunya tahu dia kan. Setelah surat terakhirmu datang. Aku mencari orang itu dan membuatnya jatuh cinta padaku. Aku ingin orang yang kau sebut berkali-kali dalam suratmu merasakan  pedihnya hatiku. Bencimu juga benciku. Sakitmu adalah sakitku.

Mas…kuputuskan menerima lamarannya bukan cintanya. Kau tentunya merestuiku mas. Seluruh hidup dan cintaku hanya untukmu. Sebentar lagi mas…sebentar lagi. Aku akan buat dia merasakan semuanya. Perlahan-lahan tanpa dia sadari…(nina ‘06)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: