Majalah OPINI

Dari Bawah Ke Atas

Posted on: October 5, 2008

SEORANG anak tampak duduk-duduk di trotoar perempatan jalan. Berulang ia menyeka peluh di wajahnya. Udara siang itu memang sangat panas. Ditambah pekatnya debu kendaraan yang melintas di kawasan Pasar Johar Semarang. Matanya menerawang membayangkan akan makan apa hari itu. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada spanduk kuning bertuliskan ”Semarang Pesona Asia” yang terpasang di jembatan penyeberangan tak jauh dari tempatnya berada.

Ia tak tahu maksud dari kebijakan Pemerintah Kota Semarang. Tetapi  yang ia tahu program tersebut akan menghilangkan mata pekerjaan yang selama ini digelutinya. Petugas Satpol PP kapan saja bisa menciduknya apabila tetap bersikeras mencari peruntungan di perempatan-perempatan jalan. ”Demi penertiban,”  katanya.

Ketakutan akan kemana lagi ia menggantungkan hidup yang serba tak pasti menyeruak.  Dipandanginya rekan seperjuangan yang sibuk beralih dari satu kendaraan ke kendaraan lain.

Slogan city branding, Semarang Pesona Asia (SPA) awalnya muncul dalam rangka menyejajarkan Kota Semarang dengan kota-kota lain di dunia. Kebijakan terakhir yang dilontarkan adalah penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) dan anak-anak jalanan yang mangkal di perempatan jalan. Sejak Bulan September 2006, sesaat setelah dimunculkan slogan itu, kontroversi telah muncul baik antara pakar pemasaran, pejabat pemerintah maupun masyarakat.

Menurut Adi Ekopriyono, Vice President Communication IMA dalam wawancara di Gedung Suara Merdeka, Jalan Pandanaran No. 30 Semarang, Rabu, 24 Januari seputar masalah SPA dengan wartawan OPINI,  pemunculan branding tersebut terlalu tiba-tiba tanpa pertimbangan maupun riset terlebih dahulu.

Padahal sebuah brand dibentuk melalui serangkaian proses yang kompleks. Sebagai contoh, jika kita ditanya tentang AQUA serta merta pikiran kita akan membayangkan produk air minum dalam kemasan yang terjaga kualitasnya. Tak jauh berbeda dengan produk Indomie. Walaupun sempat terganggu dengan keberadaan Mie Sedap, produk ini tetap mempunyai positioning yang kuat di kalangan konsumen.

Ada yang menarik dalam pengonsepan city branding Semarang yang ternyata mengadopsi pendekatan yang berbalik arah. Diluncurkan terlebih dahulu, baru dicari positioning-nya. ”Sebenarnya yang namanya branding harus dari bawah. Konsep DREAM (Differentiation, Relevance, Esteem, Awareness, Measurement),” papar pria yang akrab dipanggil Pak Adi Eko ini.

“Sebuah brand harus memiliki nilai-nilai beda. Contoh, kalau orang di Malaysia tahu ‘The Truly  Asia’, Singapore ‘The Unique Singapore’ dan Jogja, ‘Never Ending Asia’. Sekarang Beauty of Asia harus merupakan refleksi dari situasi melalui tahapan-tahapan bukan datang dari atas dan langsung diterima. Ada kesan kalau Beauty of Asia tidak difference, jelas Adi Eko.

Menurutnya, jika bicara tentang Beauty of Asia, Kota Semarang harus siap bersaing dengan kota-kota di Asia paling tidak Singapura, Kuala Lumpur, Manila, atau Tokyo. Patut dipertanyakan, apakah kondisi Semarang sudah sampai ke sana. Ada gap antara brand dan kenyataan. Brand itu harus punya kekuatan dan kesadaran. Jika tiba-tiba muncul brand, masyarakat tidak akan mengerti dan akhirnya tidak mendukung.

Walaupun terkesan tidak sepaham dengan keputusan Pemkot, IMA tetap membantu mendorong agar kondisi ke arah sana dapat diwujudkan. Baik infrastruktur, sense of  marketing dari birokrasi maupun dukungan dari masyarakat dan pengusaha.

Jalan yang ditempuh IMA adalah dengan menyelenggarakan diskusi-diskusi untuk mencari masukan. Kemudian IMA menyampaikan hasilnya kepada Pemkot dan memberi bagaimana langkah-langkah yang benar dalam membangun branding.

Selama ini pendekatan yang dilakukan Pemkot terkesan belum maksimal. Beberapa spanduk bernuansa kuning dengan tulisan Semarang, Pesona Asia, memang dapat kita temui di beberapa jalan di Kota Semarang. Namun, tidak semua orang memahami maksudnya.

Pemahaman saja juga tidak cukup. Langkah-langkah yang harus diwujudkan perlu diupayakan secara maksimal. Pendekatan yang dilakukan dalam sosialisasi SPA, menurut Adi Eko, seanalogi dengan istilah ‘Nggoyak Layangan Pedhot.’

Jika berpijak pada visi Kota Semarang sebagai Kota Metropolitan yang Religius Berbasis Perdagangan dan Jasa, dapat dikatakan bahwa branding SPA kurang relevan karena belum dapat ditarik benang merahnya.

Berbagai pembenahan perlu dilakukan untuk mewujudkan kondisi siap bersaing. Penanggulangan rob, pelayanan kepada masyarakat dengan sistem One Stop Service (OSS), pelayanan iklim investasi, birokrasi dengan sense of marketing tinggi,  penataan dan pembersihan kota perlu dilakukan.

“Yang jelas, IMA melihat bahwa Semarang Pesona Asia lebih cocok untuk judul event yang akan dilaksanakan Bulan Agustus mendatang di Simpang Lima Semarang. Bukan branding,” ungkapnya mengakhiri wawancara.

Ditemui di tempat yang berbeda Bayu Krisna, Direktur Utama Swa Consult, Integrated Marketing and Human Development juga menyampaikan hal yang serupa.

”Apa yang menjadi indikasi Semarang ini merupakan Beauty of Asia harus diketahui benar. Apakah Semarang ini lebih baik dari China, Kuala Lumpur. Apakah sudah melalui proses-proses dari bawah ke atas. Apakah SDM (Sumber Daya Manusia-Red)-nya sudah siap untuk memberikan pelayanan yang bagus khas Asia, baik bawah, menengah maupun atas sudah siap dengan gaya keramahan Asia,” paparnya panjang lebar mengkritisi langkah pemkot tersebut.

Menurutnya, pembangunan branding akan efektif jika kita mengetahui nilai unik Kota Semarang. “Diidentifikasi dulu, keunikan kita apa, kemudian brand positioning ini tidak boleh bertentangan dengan visi dan misi kota Semarang. Kita harus mencari apa yang membuat ini menjadi kecantikan khas Asia. Misalnya, ke depan, di Semarang harus dibangun seperti ini, ada proses edukasi, ada proses komunikasi.“ (Rahmi)

Berikut halaman yang bisa di download

hal-9-laporan-utama-dari-bawah-ke-atas

hal-10-laporan-utama-dari-bawah-ke-atas

1 Response to "Dari Bawah Ke Atas"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: