Majalah OPINI

Eksistensi dalam Tubuh Perempuan

Posted on: October 5, 2008

OLeh : Nurita Paramitha
Mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP Undip

BERITA mengenai lenggak-lenggok para perempuan ayu dalam pemilihan Puteri Indonesia maupun Miss Universe, yang dilaksanakan setiap tahun selalu menarik perhatian masyarakat. Dalam ajang itu, perempuan dinobatkan sebagai Ratu Ayu dengan tiga kriteria; brain (kecerdasan), beauty (kecantikan), dan behavior (kepribadian). Meskipun demikian, yang paling tampak dalam kontes putri-putrian tersebut adalah penampilan ayu para peserta.

Sebagian masyarakat mencibir perempuan yang mengikuti ajang tersebut karena dianggap memamerkan tubuhnya. Sebagian lagi mendukung karena itu adalah bagian dari cara perempuan menunjukkan keberadaannya. Lagipula, yang diperlombakan dalam kompetisi tersebut tidak hanya kecantikan melainkan juga kecerdasan dan kepribadian peserta.

Setelah mengikuti pemilihan Ratu Ayu, para perempuan tersebut berharap wajah dan tubuh mereka dilirik praktisi media untuk dijadikan bintang film, duta produk, atau model. Dengan demikian, keuntungan ekonomi dan kenikmatan popularitas di depan mata mereka.

Setiap perempuan bisa membentuk cara bereksistensinya sendiri yang mungkin berbeda dari perempuan lain. Salah satu cara untuk menunjukkan keberadaan perempuan adalah penggunaan tubuh.

Perempuan terlahir dengan tubuh seperti yang mereka miliki saat ini. Daya tarik tubuh dan seksualitas yang memancar dari perempuan adalah hak penuh mereka. Seperti yang dikatakan Noddings dan Gilligan (dalam Tong, 1998:9), keperempuanan adalah anugerah dan bukan beban.

Tubuh adalah karunia bagi perempuan. Ia berhak menggunakan apa yang dimiliki untuk mencapai keinginannya. Pemanfaatan ketubuhan perempuan sangat beragam. Menjadi model iklan karena wajah cantik dan                        pendayagunaan. Bahkan, perempuan dengan rupa ayu, seksi, dan suara merdu yang merayu laki-laki agar keinginannya terpenuhi juga bagian dari pemanfaatan ketubuhan.

Sayangnya, masyarakat masih memandang rendah eksploitasi perempuan atas apa yang menjadi miliknya. Selama ini tubuh perempuan hanya dianggap sebagai objek. Perempuan dipaksa untuk membiasakan diri dengan siulan dan komentar (seksual) laki-laki ketika perempuan berjalan di jalanan umum. Dalam situasi seperti itu, perempuan hanya memiliki dua pilihan. Pertama, sensitif dan rentan terhadap rasa sakit yang ditimbulkan. Kedua, menghadapinya dengan mengatakan: ‘hanya tubuh sayalah yang mereka bicarakan’ (Tong, 1998: 276).

Perempuan mengeksploitasi seksualitasnya karena sebagai manusia ia hanya akan dilihat dari ketubuhannya. Mereka tidak diperkenankan dalam kegiatan pendefinisian diri. Bagaimana seorang perempuan harus terlihat dan bertindak sudah ditentukan. Yang ingin dilihat dari masyarakat dari perempuan adalah mereka harus cantik, lembut, dan keibuan.

Akibatnya perempuan berlomba-lomba untuk memenuhi kriteria tersebut. Perempuan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri: wajah, tubuh, dan pakaiannya. Perempuan terpasung. Ia menjadi terikat oleh kebutuhan untuk memenuhi hasrat laki-laki dan untuk menyesuaikan diri dengan selera masyarakat. Ia hanya cantik jika masyarakat menyatakan bahwa ia cantik. Jika keinginan perempuan dapat terpenuhi dengan kecantikannya, mengapa hal itu tidak dimanfaatkan.

Namun, perempuan akan terus menerus disibukkan dengan kegiatan mempercantik tubuh agar terlihat dan hidup untuk dinikmati laki-laki. Dengan demikian mereka hanya akan menjadi objek. Jika hal ini terjadi, perempuan kehilangan eksistensinya sebagai manusia. Apakah perempuan hidup hanya untuk menjadi pemenuhan hasrat laki-laki untuk dipertukarkan dengan kebutuhan ekonomi perempuan?

Kesadaran Tubuh perempuan adalah sepenuhnya hak perempuan. Satu hal yang harus diingat adalah segala tindakan yang dilakukan perempuan harus didasari kesadaran. Kesadaran itu modal,menunjukkan subjektivitasnya yang dijalani melalui tubuhnya yang sensual dan dari sensualitas serta seksualitasnya. Potensi seksualitas itu dapat menjadi potensi ekonomi yang dikembangkannya sebagai suatu modal.

Perempuan yang menggunakan tubuhnya untuk kepentingan tertentu mungkin dipandang hanya sebagai objek. Namun, ketika penggunaan tubuh itu dilandasi kesadaran, perempuan tidak serta merta menjadi objek secara pasif. Perempuan justru dapat mengendalikan mata dan bagian tubuh lain dari lelaki ketika lelaki memandang mereka. Perempuan, dengan tubuhnya, dapat menggerakkan laki-laki untuk bertindak sesuai keinginannya.

Meskipun demikian, tetap harus diwaspadai bahwa objektivitas total dapat mengimplikasi kesadaran subjektif semu. Perempuan dapat terkecoh dalam kesadaran seolah-olah ia memainkan peran objek sebagai subjek, ketika yang sebenarnya terjadi adalah perempuan tergoda untuk menjadi objek dan dapat melepaskan subjektivitasnya karena subjektivitas membawa konsekuensi tanggung jawab. Objektivitas dalam hal ini memberi ruang tempat melarikan diri dari tanggung jawab yang dibebankan kepada subjek yang memiliki kesadaran. (Prabasmoro, 2006: 181)

Eksistensi Lain

Selain menggunakan tubuh sebagai jalan bereksistensi, setiap perempuan bisa membentuk keberadaannya sendiri yang mungkin berbeda dari perempuan lain. Jika perempuan ingin menjadi subjek yang mampu mendefinisikan sendiri apa yang harus dilakukannya agar eksistensinya diakui, ia harus berubah. Perempuan dapat menjadi seorang intelektual dalam hal ini mendayagunakan nalar. Kegiatan intelektual adalah kegiatan ketika seseorang berpikir, melihat, dan mendefinisi sendiri apa keinginan dan kebutuhannya.

Dengan tubuh perempuan selama ini kita sudah merasakan kedahsyatan. Apalagi jika seksualitas itu digabungkan dengan nalar. Cantik dan cerdas. Tentu saja, kecantikan yang kriterianya ditentukan sendiri dengan berbeda oleh setiap perempuan. ‘Aku cantik karena aku merasa cantik’. Percaya bahwa dengan apapun yang dimiliki dari tubuhnya seorang perempuan akan terlihat cantik.

Dengan kedua hal ini, perempuan akan lebih dihargai. Dengan nalarnya, ia mampu mendefinisikan kecantikannya. Jika ia merasa cantik, ia akan merasa lebih percaya diri. Perempuan menjadi kuat untuk bergerak di antara laki-laki untuk memperjuangkan eksistensinya dan tidak akan lagi menjadi objek laki-laki. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: