Majalah OPINI

Eragon Dari Novel ke Film

Posted on: October 5, 2008

KESUKSESAN Warner Bros mengangkat novel fantasi sukses Harry Potter ke layar lebar membuat sineas-sineas Hollywood bersemangat mentransfer novel-novel fantasi menjadi sebuah film. Trilogi ‘The Lord Of  The Ring’ dan salah satu serial ‘The Cronicles Of Narnia’ adalah dua judul novel fantasi berikutnya yang berhasil meraih sukses besar setelah diadaptasi ke layar lebar. Kini 20th Century Fox dengan percaya diri mengangkat sebuah novel fantasi karya bocah berumur belasan tahun berjudul ‘Eragon’ menjadi sebuah film.

‘Eragon’ bercerita tentang seorang bocah petani miskin bernama Eragon yang hidup di sebuah negeri antah berantah bernama Alagaesia. Ia  tinggal bersama pamannya Garrow dan sepupunya Roran. Walaupun hidup miskin, Eragon bersama paman dan sepupunya hidup damai dan bahagia. Penguasa Kekaisaran Alagaesia yang kejam, Raja Galbatorix tak pernah mengusik ketentraman ketentraman tempat tinggal Eragon dan keluarganya di Desa Carvahall.

Hingga suatu hari saat sedang pergi berburu guna memenuhi kebutuhan makan keluarganya, Eragon menemukan sebuah benda bulat yang dia kira batu besar berwarna biru cerah. Eragon membawa ‘batu’ itu pulang karena melihat kemungkinan untuk menjual ‘batu’ itu atau menukarnya dengan persediaan daging,. Tapi ternyata benda bulat itu bukanlah sebuah batu seperti yang dikira Eragon.

Benda bulat itu ternyata adalah sebuah telur. Bukan telur ayam atau telur burung unta melainkan telur naga. Dari dalam telur yang menetas itu keluarlah seekor naga biru mungil yang lucu dan menggemaskan. Saat sudah tumbuh besar dan tidak menggemaskan lagi, naga itu akan menamai dirinya sendiri Saphira.

Telur Saphira ternyata adalah salah satu dari telur-telur naga terakhir yang sangat diinginkan Raja Galbatorix. Mengetahui telur incarannya hilang di Desa Carvahall, Raja Galbatorix mengutus sekawanan mahluk bertudung mengerikan yang disebut Ra’zac ke Carvahall untuk mencari Telur Saphira. Para Ra’zac berhasil mengetahui bahwa Eragonlah yang memiliki telur itu. Mereka menghancurkan tanah pertanian tempat Eragon tinggal dan memaksa Garrow yang tidak tahu apa-apa untuk memberitau di mana telur naga yang dimaksud Raja Galbatorix itu berada.

Eragon berhasil diselamatkan oleh Saphira tapi Garrow terbunuh. Eragon terpaksa harus melarikan diri dari kekaisaran yang tidak menginginkan keberadaannya sebagai penunggang naga pertama yang lahir setelah klan penunggang naga dihancurkan oleh Raja Galbatorix ratusan tahun yang lalu.

Petualangan Eragon sebagai seorang penunggang naga pun dimulai. Di bawah bimbingan seorang pendongeng misterius bernama Brom, Eragon pergi meninggalkan desanya dan melakukan perjalanan panjang untuk bergabung dengan kaum Verden, kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan Kekaisaran Galbatorix.

Selama perjalanan, Eragon mempelajari sihir dan cara bertarung yang merupakan keterampilan dasar seorang penunggang naga dari Brom yang ternyata dulunya adalah seorang penunggang naga. Dia juga banyak bertemu orang-orang baru dan berbeda. Seperti Angela, herbalist yang bisa meramal. Seorang mahluk elf cantik bernama Arya yang diselamatkannya dari Durza seorang penyihir jahat. Ada pula Murtagh, seorang pemuda misterius yang menemani perjalanan Eragon setelah Brom dibunuh oleh Ra’zac.

Ketika akhirnya Eragon sampai di tempat kaum Verden dia harus berhadapan langsung dengan peperangan kaum Verden dengan mahluk beringas dan kejam kiriman kekaisaran yang disebut Urgal. Di akhir peperangan Eragon berhasil membunuh si penyihir jahat Durza dan membuat kaum Verden memenangi peperangan itu.

‘Eragon’ merupakan seri pertama dari trilogi The Inheritance karya si bocah ajaib, Christopher Paolini. Perusahaan 20th Century Fox rencananya juga akan memfilmkan sekuel ‘Eragon’ yang berjudul Eldest dan juga buku ketiga yang belum selesai ditulis oleh Paolini.

Untuk urusan pemain film ini agaknya mengikuti formula yang digunakan ‘Harry Potter’ dalam mencari pemeran utama. Nama tak dikenal dipasang sebagai pemeran utama. Edward Speeler, seorang pemuda Inggris berusia 19 tahun yang belum pernah memiliki pengalaman akting mendapat kehormatan memerankan tokoh Eragon. Speeler berhasil menyisihkan 180.000 pelamar lain yang juga menginginkan peran itu. Salah satunya adalah Elijah Wood, pemeran utama Trilogi ‘The Lord Of The Ring’ yang sempat dipertimbangkan mengisi peran Eragon.

Selain Speeler, nama-nama pemeran pendukung lain justru lebih dikenal. Seperti pemeran Brom, Jeremy Irons yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia perfilman Hollywood, bolak balik masuk nominasi Oscar dan sukses memerankan puluhan tokoh antagonis dan protagonis. John Malkovich yang pernah membuat heboh dengan film yang mengambil namanya sendiri sebagai judul, ‘Being John Malkovich’, berperan sebagai Raja Galbatorix. Siena Guillory si Jill Valentine dalam Film ‘Residen Evil: Apocalipse’ kebagian peran sebagai Arya. Selain itu Joss Stone, penyanyi muda Inggris, mengisi peran Angela. Tak tanggung-tanggung aktris peraih Oscar Rachel Weis ikut urun suara mengisi suara batin Saphira

Sejak pertama kali novelnya diterbitkan, banyak orang yang mencibir cerita Eragon sebagai tiruan menyedihkan mahakarya J.R.R Tolkien, trilogi ‘The Lord Of The Ring’. Wajar jika banyak orang berpendapat begitu karena memang banyak hal dalam novel Eragon yang dibuat sangat mirip dengan The Lord Of The Ring. Seperti cerita yang menggunakan dimensi waktu jaman dahulu kala dan negeri antah berantah sebagai ruangnya. Apalagi dengan kehadiran mahluk-mahluk ajaib macam elf, kurcaci dan manusia penyihir. Paolini sendiri mengakui selama menulis Triloginya dia banyak terinspirasi Trilogi milik J.R.R Tolkien, ‘The Lord Of  The Ring’.

Namun jika dilihat dari hasil penjualan novelnya, Novel Eragon jauh lebih laku di pasaran saat ini daripada Trilogi ‘The Lord Of The Ring’. Eragon pernah nangkring di urutan teratas best seller Amerika Serikat dan Eropa selama berbulan-bulan. Sementara ‘The Lord Of The Ring’ baru mulai dibaca setelah sukses difilmkan.

Salah satu sebabnya mungkin karena Eragon ditulis oleh seorang bocah berusia belasan tahun. Anak-anak yang menjadi target pasar novel fantasi tentunya akan lebih memahami tulisan sesama anak-anak dari pada tulisan seorang veteran Perang Dunia II yang ditulis pada dekade tahun 50-an pula.

Kenyataan inilah yang membuat 20th Century Fox sangat percaya diri membawa ‘Eragon’ ke layar lebar. Meskipun terus dibayang-bayangi kesuksesan trilogi ‘The Lord Of The Ring’, banyak pengamat berpendapat ‘Eragon’ mungkin akan tetap disukai para penikmat film.

Tapi sayangnya keyakinan para pengamat tidak terbukti benar. Setelah diluncurkan, Film Eragon terbukti mengecewakan banyak pihak dan tidak layak dibandingkan dengan mahakarya tangan dingin sutradara Peter Jackson, Trilogi ‘The Lord Of The Ring’.

Banyak hal yang menyebabkan penonton merasa tidak puas saat meninggalkan gedung bioskop usai menonton Eragon. Salah satunya adalah ketidakmiripan tanpa merusak inti cerita, sutradara ‘Eragon’ ,Stefen Frangmeier, malah menghilangkan jalinan-jalinan cerita penting dalam novel.

cerita antara antara novel dan filmnya. Memang tidak mungkin memindahkan cerita dari novel setebal lebih dari 500 halaman ke dalam film yang paling lama hanya bisa berdurasi 3 jam. Tidak seperti sutradara-sutradara ‘Harry potter’ dan Sutradara ‘The Lord Of The Ring’ yang sukses meringkas novel setebal ratusan halaman ke dalam sebuah film tanpa merusak inti cerita, sutradara ‘Eragon’ ,Stefen Frangmeier, malah menghilangkan jalinan-jalinan cerita penting dalam novel.

Salah satu contohnya adalah hubungan yang terjalin antara Saphira sebagai naga dan Eragon sebagai penunggangnya. Dalam novel, hubungan batin antara Eragon dan Saphira terjalin sedikit demi sedikit dari mulai Saphira masih kecil sampai sedikit demi sedikit dia tumbuh dewasa dan bisa ditunggangi.

Dalam film semuanya dibuat serba instan. Tiba-tiba Saphira yang mungil dan lucu jadi besar dan tidak lucu lagi. Tiba-tiba Saphira bisa melakukan kontak batin dengan Eragon. Tiba-tiba Saphira bisa menyamburkan api dan tiba-tiba Saphira menamai dirinya sendiri. Padahal di novel, Eragon dengan susah payah memikirkan nama yang bagus untuk naga kecilnya    Mungkin itu hanya satu hal yang sepele, tapi chemistry yang seharusnya terjalin antara Eragon sebagai manusia dan Saphira sebagai naga merupakan salah satu kekuatan cerita dari Novel Eragon. Sayangnya, kekuatan itu yang justru dihilangkan dalam filmnya

Hal ini diperparah dengan penampilan para pemain yang tidak istimewa. Si pemeran utama, Edward Speeler, mungkin bisa dimaklumi jika tampil biasa-biasa saja mengingat ini adalah pertama kalinya dia tampil di layar lebar. Tapi pemain-pemain kawakan sekaliber Jeremy Irons dan John Malkovich yang tampil tidak istimewa rasanya tidak bisa diampuni. Wajah cantik dan kemampuan akting Rachel Weis disia-siakan dan hanya dijadikan pengisi suara. Ditambah soundtrack film ini yang diisi lagu-lagu dari penyanyi terkenal Amerika, Avril Lavige, yang agaknya tidak cocok untuk film kolosal.

Penyelamat film ini mungkin hanyalah visual effect yang katanya menghabiskan dana terbesar dalam pembuatan film ini. Dengan sukses teknologi dalam ‘Eragon’ menghadirkan sosok naga saphira dengan sangat nyata.

Setelah film pertamanya ini kurang berhasil, entah 20th Century Fox akan jadi memfilmkan sekuel-sekuel Novel Eragon atau tidak. Jika jadi, semoga sutradara dan penulis skenario film ini benar-benar membaca novelnya sebelum membuat filmnya. (Riska)
datetime=”2008-10-05T09:38:53+00:00″>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: