Majalah OPINI

Mempercantik Kota Mengundang Investor Datang

Posted on: October 5, 2008

Oleh : Parfi Khadiyanto
Staf Pengajar Jurusan Perencanaan Wilayah Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang

KORAN-koran lokal Semarang dan Jawa Tengah beberapa bulan terakhir ini banyak menulis tentang kegiatan yang dilaksanakan kota Semarang dan dikemas dalam tajuk Semarang Pesona Asia (SPA). Kegiatan ini sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menjual Semarang ke level Asia, dan kalau mungkin ke level dunia. Demikian Walikota Semarang, Sukawi Sutarip, menjelaskan di media massa.

Pro dan kontra muncul. Namun tekad untuk tetap menjalankan kegiatan ini terus berjalan dengan menyatakan bahwa kritikan-kritikan bahkan kecaman terhadap gagasan ini akan dijadikan masukan untuk mematangkan rencana. Demikian Sukawi Sutarip menjawab keraguan beberapa pengritik (Suara Merdeka, 29 Januari 2007).

Event internasional tersebut akan dijadikan event tahunan atau bahkan nantinya akan dijadikan setengah tahunan. Dari gambaran rencana tersebut, rasanya akan terjadi kemeriahan luar biasa di Semarang sekitar bulan Agustus  September 2007 nanti. Dalam rencana ini walikota menyadari bahwa perhelatan SPA adalah milik warga kota Semarang. Jadi tanpa partisipasi warga acara ini tidak mungkin akan sukses. Keterlibatan masyarakat merupakan salah satu unsur penting untuk memikat investor dan wisatawan asing datang ke Semarang. Tanpa dukungan itu, Pemkot ibarat senopati yang berada di baris depan penyelenggaraan acara. Jika Sang Senopati maju sendirian, pastilah tidak akan menang dalam perang.

Gegap gempita kegiatan ini dilakukan dengan mempercantik kota. Trotoar dibenahi, infrastrukutur lain juga ikut dibenahi untuk kenyamanan pengunjung yang tentunya berdampak pada kenyamanan warga. Usulan-usulan untuk lebih memperhatikan tempat-tempat penting yang bisa dijual (Jawa: kemedol) supaya diutamakan, baik berupa artefak seperti pembenahan Kota Lama, Kuil Sam Po Khong, Pecinan, Lawang Sewu maupun kegiatan budaya seperti seperti Dugderan.

Kalau diamati ada beberapa kata kunci di sini, yaitu “menarik investor/wisatawan” dan “partisipasi masyarakat”. Ibarat sebuah gedung sekolah, agar orang tua mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut, tentunya sekolah ini harus punya isi dan wadahnya yang baik. Artinya, materi pendidikan yang ditawarkan bagus. Fasilitas dan kualitas ruang belajar juga kondusif dan mendukung siswa untuk bisa rajin belajar. Lalu, bagaimana dengan Kota Semarang tercinta ini?

Sebelum menarik orang luar mau datang, kota harus menarik dulu untuk ditempati, warga yang tinggal di kota ini harus merasa kerasan. Ukuran kerasan atau betah tinggal biasanya dikaitkan dengan kepuasan akan apa yang dia harapkan ketika dia menempati kota Semarang ini. Dengan kata lain, kepuasan sangat bergantung dari terpenuhinya kebutuhan.

Ada beberapa jenjang kebutuhan manusia menurut Teori Maslow yang bersangkut paut dengan tempat tinggal/kota (Lang, J: Urban Design: The American Experience, 1994). Tingkat kebutuhan manusia secara heirarkis yang dikemukakan Maslow dalam Lang adalah:

Kebutuhan Fisiologis, dalam hal ini, kota diharapakan dapat menyediakan atau memberi wadah bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih, udara sejuk, tempat kerja agar memperoleh nafkah untuk membeli makan, sandang, dan hunian yang layak guna melakukan kegiatan sosial maupun kegiatan privasi penghuninya.

Kebutuhan Keamanan dan Perlindungan, dalam hal ini, penataan kota perlu dipaduselaraskan dengan sistem lingkungan yang menonjol di kota tersebut. Untuk kasus Semarang agar diselaraskan dengan sistem hidrolika sehingga kota bebas dari bencana banjir dan kekeringan. Demikian pula perlindungan terhadap bencana epidemi, tindak kriminal, kebakaran, dan tanah longsor.

Kebutuhan Afiliasi, hal ini dapat diartikan kota harus menyediakan ruang, prasarana, dan suasana yang kondusif bagi terwujudnya keakraban hubungan sosial masyarakat. Kebutuhan Penghargaan, yaitu suatu wujud kota yang membangkitkan perasaan bangga bagi warga akan kotanya.

Kebutuhan Aktualisasi Diri, dapat diartikan bahwa warga kota diberikan kebebasan untuk membangun jati dirinya, baik dalam membangun status sosial dan ekonomi, serta dalam membangun gedung dan lingkungan pribadinya dalam norma-norma yang berlaku, tanpa mengganggu keselamatan orang lain.

Kalau sebuah kota dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka sudahlah pasti warganya tidak akan melakukan protes terhadap rencana-rencana yang akan digelar dalam bentuk dan ragam apapun yang diprogramkan oleh aparat pemerintah kotanya.

Dalam SPA ini masih saja ada kelompok yang menentang, berdemo menolak, menyatakan bahwa kebijakan pemkot tentang SPA mengada-ada, cenderung mengorbankan rakyat miskin (Suara Merdeka, 1 Maret 2007).

Sebenarnya walikota sudah menyadari bahwa kegiatan SPA ini tidak akan terlaksana kalau tidak didukung warga, sebagaimana dalam kata kunci di atas disebutkan bahwa perlu ada partisipasi. Banyak pakar yang menyatakan partisipasi akan berjalan dengan baik manakala persepsinya positif. Rencana yang baik bisa tidak berjalan dengan baik kalau cara mempersepsikan dari para petugas pelaksana berbeda-beda.

Dalam rangka SPA, banyak Pedagang Kaki ima (PKL) dan anak jalanan ditertibkan (SM, 1 Maret 2007). Tujuannya adalah agar kota Semarang nyaman bagi warganya. Di lapangan, kata-kata ditertibkan bisa berubah menjadi “digusur/disingkirkan.” Ini sebenarnya masalah persepsi. Jadi masalahnya di sini, bagaimana menyadarkan arti kata tertib itu pada semua level. Tentu diperlukan suatu kerja keras dan lama lewat sosialisasi ke masyarakat secara rutin dan menyeluruh.

Harusnya gaung SPA ini jangan hanya berhenti di level atas birokrat saja tetapi juga masuk ke level masyarakat bawah, ke RW dan RT dengan arahan dan bimbingan Lurah yang didampingi pakar di bidang pengembangan partisipasi masyarakat. Satu hal lagi, yang namanya masyarakat Semarang itu bukan hanya orang-orang yang tinggal di kecamatan pusat kota tetapi juga semua yang ada di enam belas kecamatan.  Siapa tahu orang yang berdagang sebagai PKL ternyata warga yang tinggal di kecamatan pinggiran kota sehingga tidak akan ada konflik penertiban yang berkembang menjadi tragedi penggusuran, yaitu tumbuh perasaan merasa digusur karena bukan warga kampung tempat dia jualan.

SPA silahkan berjalan dan harus bisa berjalan sebab ini hanya event, sebagaimana ketika kampung punya hajatan memperingati hari kemerdekaan (sering disebut sebagai 17-an). Semua menyadari untuk berbenah diri, merapikan lingkungannya secara dadakan. Yang perlu diperhatikan adalah sikap dan cara dalam pembenahan persiapan acara tersebut harus dilakukan dengan pendekatan partisipatif ke masyarakat, bukan instruksi.

Kemudian “gawe besar” selanjutnya adalah bagaimana menciptakan kota menjadi benar-benar nyaman untuk penghuninya. Salah satu contoh misalnya, kembalikan Taman Tabanas di Gombel menjadi milik rakyat dan tata kembali lingkungan taman-taman kota lainnya sehingga betul-betul menjadi milik warga. Dulu di Taman Tabanas, warga bisa bebas merasakan kenyamanan bergaul, bercengkerama tanpa ada rasa risih karena beda status sosial, kaya, miskin, juragan, pembantu bisa duduk bersama menikmati pemandangan kota Semarang dari atas. Sekarang hanya yang berduit yang bisa menikmatinya sedang orang miskin hanya mampu melihat rumah makan atau mobil yang di parkir, kasihan.

Ali Sadikin dalam membangun Jakarta menyatakan, “Saya bangun Lapangan Monas, saya bangun Ancol. Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu… Kalau you masuk kampung, satu kamar berjejal dari kakek, nenek, sampai cucu jadi satu, di mana mau pacaran?… (baca: Politik Kota dan Hak-hak Warga Kota, Chris Verdiansyah – 2006).

Semarang akan benar-benar menjadi Pesona Asia kalau Semarang bisa mensejahterakan warganya. Ada pertanyaan langka yang sulit dijawab, duluan mana antara telur dengan ayam? Demikian pula SPA yang bertujuan mensejahterakan warga, warga yang sejahtera akan menjadikan SPA (Semarang benar-benar sebagai Pesona Asia). Pertanyaannya, dahulukan mana antara SPA dan kesejahteraan warga? Itulah pekerjaan walikota dengan staf untuk memikirkannya. Kita bantu dan kita tunggu! (*)

1 Response to "Mempercantik Kota Mengundang Investor Datang"

[…] Mempercantik Kota mengundangInvestor Datang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: