Majalah OPINI

Meneladani Nilai-nilai Inklusivisme Cheng Ho

Posted on: October 5, 2008

PADA bulan Agustus ini kota Semarang mengadakan pesta besar. Semarang Pesona Asia, kita menyebut pesta itu. Pesta besar yang bertujuan untuk memperkenalkan kota Semarang ke dunia internasional dengan berbagai potensinya. Di acara ini dipertunjukkan berbagai kekayaan alam dan budaya, potensi wisata, potensi ekonomi dan sejarah kota Semarang.

Salah satu acara yang menurut penulis menarik adalah festival Cheng Ho yang diadakan di Klenteng Tay Kak Sie. Festival tersebut sekaligus meresmikan replika kapal Cheng Ho. Mengapa acara ini menarik?

Festival yang diadakan di Kampung Pecinan semarang ini banyak menyedot perhatian masyarakat. Kampung Pecinan yang identik dihuni oleh orang Tionghoa ini menjadi tempat umum yang dikunjungi orang tidak hanya orang Tionghoa. Orang Jawa pun ikut merayakan festival tersebut. Adalah hal yang cukup menarik di perayaan tersebut. Perayaan tersebut melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang yang berbeda baik agama maupun budayanya.

Menarik sekali ketika budaya yang berbeda, antara Jawa dan Tionghoa, dapat bertemu secara damai. Padahal apa yang ada di pikiran kita selama ini bahwa Jawa dan Tionghoa adalah budaya yang jauh berbeda dan akan sulit bertemu secara damai. Akibatnya, walaupun jumlah orang Tionghoa cukup besar di Indonesia tetapi, sering kita temukan, kehidupan mereka jauh dari kehidupan kelompok orang pribumi. Apakah orang pribumi yang enggan menerima Tionghoa atau sebaliknya? Atau  mungkin masalah perbedaan budaya atau agama?

Di festival Cheng Ho ini menarik sekali ketika kedua budaya yang berbeda dapat berdampingan secara damai. Tidak ada alasan untuk membentuk komunitas sendiri karena kita semua adalah satu dalam kesatuan bangsa yaitu Indonesia. Indonesia sebagai bangsa yang plural yang mengakui pluralisme, tetapi tetap menjadi bangsa yang mempunyai tujuan yang sama untuk seluruh rakyat.

Lalu siapa sebenarnya Cheng Ho? Mengapa diadakan festival besar yang memakai namanya? Membicarakan historisitas Cheng Ho memang tidak bisa dilepaskan dengan agama Islam dan budaya Nusantara di Indonesia. Kisah pelayarannya telah mengilhami ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun nonfiksi serta penemuan berbagai teknologi kelautan-perkapalan di Eropa khususnya pascapenjelajahan sang maestro.

Legenda Sinbad Sang Pelaut yang begitu populer di Timur Tengah juga diinspirasi oleh kisah legendaris Cheng Ho. Di Indonesia, terutama Jawa, juga terdapat jejak historis yang tak terbantahkan sebagai pengaruh misi muhibah Cheng Ho. Selain itu, juga cukup  karya sastra yang bertutur tentang Cheng Ho atau Sam Po Kong.

Siapakah Cheng Ho sehingga pengaruhnya begitu besar? Cheng Ho sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh Cheng Tzu atau Chu Teh yang lebih populer dengan sebutan Yung Lo, kaisar ke-3 Dinasti Ming yang berkuasa dari tahun 1403 sampai 1424. Nama asalnya adalah Ma Ho, lahir 1370 M dalam keluarga miskin etnis Hui di Yunan. Hui adalah komunitas muslim Tionghoa campuran Mongol.

Tahun 1405 adalah awal mula Cheng Ho mengadakan pelayaran sampai ia wafat pada tahun 1433. Selama hidupnya ia telah mengadakan pelayaran selama 7 kali dan mengunjungi lebih dari 37 negara, dari berbagai pelabuhan di Nusantara dan Samudra Hindia sampai ke Sri Langka, Quilon (Selandia Baru), Kocin, Kalikut, Ormuz, Jeddah, Magadisco dan Malindi. Dari Campa hingga India, dan dari sepanjang Teluk Persia dan Laut Merah hingga pesisir Kenya.

Dalam komunitas Tionghoa dewasa ini baik muslim maupun tidak, tokoh Cheng Ho ini menjadi semacam tokoh mitologi yang diagungkan. Ia tidak hanya dipuja dan dikagumi sebagai seorang Bahariwan Agung tetapi juga disembah sebagai dewa. Sisa kehadiran Cheng Ho yang kita kenang adalah jasa besarnya yaitu keberhasilannya dalam menjalin persahabatan antara Tiongkok dengan negara atau kerajaan lain di dunia. Persahabatan antarnegara ini diperkukuh dengan pertukaran kebudayaan yang masih tampak hingga dewasa ini, termasuk di Jawa.

kebudayaan yang masih tampak hingga dewasa ini, termasuk di Jawa.

Adanya festival Cheng Ho dan didirikannya berbagai bangunan untuk mengenang Cheng Ho sebaiknya kita jadikan perenungan (rethinking) kita untuk bisa meneladani nilai-nilai luhur yang dibawa sang maestro. Dengan mengenal sosok Cheng Ho lebih dalam maka kita akan dapat meneladani nilai-nilai yang dibawanya.

Cheng Ho adalah seorang Tionghoa Muslim yang memiliki wawasan dan pemikiran terbuka terhadap perbedaan. Walaupun dia seorang muslim dan Tionghoa, dia tetap bersikap toleran terhadap pemeluk agama lain dan orang yang berbudaya yang berbeda.

Sikap hidup Cheng Ho ini tentu kontekstual untuk diimplementasikan dengan kondisi sosial yang dihadapi bangsa kita sekarang. Bangsa kita sedang menghadapi berbagai masalah sosial yang dipicu oleh  agama dan budaya. Nilai-nilai keadaban agama dan budaya yang menyatu dengan kearifan lokal ke-Indonesia-an mulai mengalami krisis dengan hilangnya komitmen kebersamaan dan keberagaman.

Masyarakat Indonesia yang sebelumnya begitu identik dengan toleransi kini secara perlahan mulai terkikis dalam kehidupan praksis. Ada di antara mereka yang menganggap diri dan kelompoknya sebagai sumber kebenaran dan keselamatan dan menganggap kelompok lain yang tidak sepaham sebagai sesat. Dengan mudah dan cepat, mereka berani memasukkan seseorang/kelompok ke dalam kategori sesat versus benar, neraka dan surga sesuai dengan versinya  sendiri.

Pernyataan sesat-menyesatkan maupun kafir-mengafirkan belakangan ini bukanlah sesuatu yang aneh di negeri kita. Menganggap budaya kelompok lebih tinggi dari budaya kelompok lain juga dapat memicu terjadinya konflik. Sebut saja peristiwa Poso dan Sampit yang telah menelan banyak korban. Begitu pula dengan sebuah organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan agama untuk melakukan tindakan anarkisme.

Ketika pemimpin otoritatif menukil dari teks-teks suci untuk dijadikan basis argumentasi dalam meghadapi kondisi ekonomi, sosial, status quo dapat mendorong budaya, dan politik yang represif, maka banyak manusia yang kehilangan pemahaman atas ajaran agamanya yang paling mendasar. Ketakutan, suasana tidak aman, dan kehendak untuk melindungi status quo dapat mendorong perilaku tribalisme sebagai jalan “pintas” yang mengatasnamakan agama. Manusia yang “tulus” beragama terlibat dalam perilaku dehumanisasi, permusuhan, kekerasan, dan menghancurkan, sebagaimana yang telah diperlihatkan oleh sejarah.

Di sinilah pentingnya masyarakat Indonesia memahami paham keberagamaan Cheng Ho dalam sebuah masyarakat yang plural. Cheng Ho secara genuine memperlakukan perbedaan etnis, agama, maupun peradaban dalam kesederajatan. Setiap perbedaan justru menjadi pendorong lahirnya sikap saling menghormati dan mengapresiasi. Meski teori sosiologis menyatakan keragaman sebagai unsur terpenting pemicu konflik, tapi Cheng Ho mampu menjaga dan membina keragaman ini dalam suasana kerukunan dan kedamaian.

Dalam konteks inilah, agama dan budaya harus dijadikan sebagai kebijaksanaan dan daya yang mengusahakan kedamaian, bukan perang, kekerasan, permusuhan, teror, serta atribut dehumanisme lainnya. Seorang agamawan dan budayawan harus menggali sumber-sumber dan riwayat hidup agama suatu agama dan budaya yang otentik, dengan misi awalnya yang universal (spiritual), segmental (multikultural), serta mampu melintasi perbedaan. (Lala)

Sumber Pustaka:
Muhammad Hari Zamharir. Agama dan Negara, Analisis Kritis Pemikiran Politik Nurcholish Majid. 2004. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Selasa, 13 Maret 2007 Copyright © 2002 Harian KOMPAS
Http://groups.google.com/group/cu.indonesia/browse_thread/thread/bdeec07ae5792b1c/64d914839d79667f

Berikut halaman yang bisa di download

hal-12-liputan-utama-cheng-ho

hal-13-liputan-utama-cheng-ho

hal-14-liputan-utama-cheng-ho

hal-15-liputan-utama-cheng-ho

1 Response to "Meneladani Nilai-nilai Inklusivisme Cheng Ho"

[…] Meneladani Nilai-Nilai Inkusivitas Cheng Ho […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: