Majalah OPINI

Menelusuri Simbol Di Balik Peci Putih

Posted on: October 5, 2008

Ini bukan novel Dan Brown.  Ini novel tentang budaya ‘ane’ dan ‘gue’ di abad microchip. Ini adalah kisah menggelitik seorang anak Jakarte yang Kritis juga Romantis…Demikian tulisan di bagian sampul belakang novel berjudul The Da Peci Code. Dari luar novel ini memang mirip dengan Novel The Da Vinci Code yang tersohor itu. Lihat saja sampul depannya. Monalisa yang kepalanya diganti dengan gambar seorang anak muda keturunan Arab, berambut kribo, dan mengenakan peci putih, terpampang di sana.

Hampir serupa dengan Da Vinci Code yang memecahkan misteri agama tentang cawan suci yang disembunyikan oleh para Biarawan Sion, Da Peci Code juga menelusuri teka-teki bagaimana peci sebagai budaya berpakaian menjadi kewajiban dalam beragama.

Alkisah, tersebutlah Rosid, pemuda keturunan arab yang berambut kribo dan mengembang besar. Rosid adalah satu-satunya anak lelaki keluarga Mansyur Al Gibran. Dalam struktur keluarga Arab yang patriarkis, Rosid menjadi penerus keluarga yang sejati dan akan membawa nama marga Al Gibran. Nama itu bukan sembarang nama. Keluarga Al Gibran tersebar hingga ke seluruh penjuru Indonesia dan menyambung ke orang-orang besar dari masa lampau di negeri Jazirah Arab.

Namun, bukan hanya nama Al Gibran saja yang akan diwariskan kepada Rosid tetapi juga tradisi untuk menjaga dan membaca kitab-kitab Arab Sastrawi bermuatan ekspresi cinta pada Nabi. Selain itu, ada pula warisan cara berbusana yang dianggap mengandung nilai-nilai sakral.

Setiap ayah dari marga Al Gibran bertanggung jawab mempersiapkan anak laki-lakinya untuk meneriwa warisan berikutnya. Tapi obor itu kini terancam padam. Ini semua gara-gara anak kribo bernama Rosid.

Di keluarga besar Al Gibran, ada kesepakatan tak tertulis bahwa hadir dalam acara-acara keagamaan keluarga, terutama jika posisi duduknya dekat dengan para tokohnya, yang tidak mengenakan peci dianggap tidak pantas. Mereka akan dipandang sebelah mata. Biasanya orang-orang yang tidak berpeci tersebut akan tidak meresa enak sendiri dan akan menyingkir ke belakang, bahkan langsung pulang.

Masalahnya Rosid tidak mau mengenakan peci putih. Ada dua alasan Rosid mengapa ia enggan berpeci putih. Pertama, peci tidak bisa masuk kepalanya karena rambutnya  kribo abis. Kedua, sebagai bentuk pemberontakan pada ayahnya karena menurut ayahnya memakai peci di acara-acara keagamaan sangat penting bahkan mendekati wajib.

Rosid tidak melihat bahwa berpeci putih menempati posisi sepenting itu. Menurutnya, hampir semua agama pemukanya juga mengenakan peci. Lihat saja bagaimana Paus yang dalam penampilannya di depan publik selalu mengenakan peci berwarna putih. Demikian pula dengan pemeluk Yahudi. Hanya bentuknya saja yang sedikit berbeda.

Keengganan Rosid memakai peci putih berbuah pengusiran dirinya dari rumah oleh Sang Abah. Dalam pengasingannya itulah Rosid mencari jawaban teka-teki peci putih.

Pacar Rosid, Delia, seorang gadis cantik yang kebetulan berbeda keyakinan dengannya, mengenalkan Rosid pada Anto. Ia adalah sarjana dalam bidang sejarah agama. Setelah mendengar penjelasan Anto tentang sejarah agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam berikut busana dan simbol-simbolnya, keyakinan Rosid untuk tidak memakai peci semakin kuat.

Sementara itu, upaya ayah Rosid untuk ”menyadarkan” anaknya semakin gencar. Pertama, ayahnya mendatangi orang pintar untuk menyembuhkan Rosid. Namun upaya ini tidak berhasil.

Usaha kedua ayahnya adalah dengan membawa Rosid kepada seorang ustad Holid Al Gibran yang pintar dan lancar berbahasa Arab. Dalam dialog antara Rosid dan Ustad Holid,  sang Ustad menganggap bahwa peci putih adalah ajaran agama. Namun Rosid menilai bahwa peci putih adalah salah satu ajaran kakek-kakek mereka. Namun tidak semua ajaran leluhur Al Gibran adalah ajaran agama.

Rosid balas bertanya pada Ustad, mengapa Ustad Holid memakai sarung dan dijawab karena leluhur juga memakai dan menjadi ajaran agama. Kemudian Rosid menanyakan lagi, apakah Nabi Muhamad juga mengenakan sarung. Ustad tidak bisa menjawab.

Rosid lalu berkata, ” Jadi, kalau Nabi Muhamad kagak pake, apa bener sarung itu kite bilang ajaran agame? Terusnye, kita ini ngikutin siape? Ngikutin Nabi ape ngikutin leluhur kite?”

Menurut Rosid, mereka telah terjebak pada simbol yang diciptakan sendiri. Agama-agama Ibrahimik seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, juga beberapa agama nonibrahimik juga memakai tutup kepala. Hanya bentuk, motif, warna, dan modelnya berbeda sesuai budaya masing-masing.

Setelah usaha kedua gagal, tindakan terakhir ayahnya juga tidak berhasil. Kali ini suruhan ayahnya menghasut beberapa pemuda sekitar Sanggar Banjir kiriman, rumah kos teman Rosid. Di tempat inilah Rosid tinggal selama diusir ayahnya. Di rumah ini pula Rosid dan kawan-kawannya mengadakan diskusi tentang apa saja.

Beberapa kelompok pemuda mengatasnamakan organisasi keagamaan tertentu mengepung Sanggar Banjir Kiriman. Mereka menuduh rumah itu sebagai tempat penyebaran ajaran sesat. Namun berkat kesigapan penjaga keamanan kampung dan masyarakat sekitar, tindakan anarkis berhasil diredam. Masalahpun diselesaikan dengan damai.

Setelah kejadian mencekam di Sanggar Banjir Kiriman, Rosid memilih berdamai dengan ayahnya atas nasihat Ustad Abu Hanif, ayah teman Rosid. Ustad Abu Hanif setuju bahwa peci atau sarung memang bukan ajaran agama. Peci putih atau sarung bukan ukuran orang itu baik atau tidak. Kedua benda itu hanya penanda yang sudah disepakati untuk menunjukkan identitas ke-Islam-an. Namun untuk menghormati ayahnya, tidak selayaknya Rosid bertindak sekeras itu.

Novel The Da Peci Code sebenarnya mengandung nilai-nilai yang cukup berat ditangkap. Namun karena dikemas dengan bahasa gaul khas Betawi-Arab dan dibumbui dengan lelucon pesan Ben Sohib, penulis novel ini, lebih mudah dicerna.

Sayangnya, pembahasan Ben Sohib mengenai sejarah peci dan bagaimana peci menjadi budaya di beberapa agama kurang mendalam. Jika saja ada keterangan lengkap tentangnya, pemahaman kita tentang asal-usul peci akan semakin lengkap dan Novel The Da Peci Code akan benar-benar memecahkan misteri Da Peci Code.

Dari The Da Peci Code kita bia belajar untuk mengkritisi segala sesuatu yang ada di depan mata kita. Bukan untuk menjatuhkannya, tetapi untuk mencari kebenaran sejati. Sering kita melakukan sesuatu hanya karena mengikuti arus dan tidak tahu makna simbol yang terkadung di dalamnya. Tidak hanya tentang peci, tapi dalam mengkonsumsi budaya apapun hendaknya kita melihat lebih dalam hakikat mengapa kita melakukannya. (Nurita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: