Majalah OPINI

Menggugat City Branding Semarang

Posted on: October 5, 2008

OLeh : Surachman
Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara FISIP Undip


SEIRING
semakin mengglobalnya kondisi persaingan dunia bisnis maka dibutuhkan pula strategi yang berwawasan global. Persaingan bisnis hari ini tidak hanya berlaku antar perusahaan saja tetapi juga antardaerah. Masing-masing daerah kini berlomba-lomba untuk menarik minat para investor, baik domestik maupun asing, agar bersedia melakukan investasi di daerah tersebut.

Dengan perkembangan baru itu, berbagai daerah di Indonesia dihadapkan pada persaingan global yang tidak bisa ditawar lagi. Jogjakarta atau Semarang misalnya, tidak lagi hanya bersaing dengan Bali atau Bandung tapi sekaligus juga bersaing dengan Singapura dan Kuala Lumpur.

Kondisi persaingan antardaerah seperti itu tampaknya ditangkap dengan jeli oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Pemkot pun mulai menempuh cara untuk dapat lebih memasarkan Kota semarang. Langkah yang kini tengah ditempuh Pemkot adalah dengan menciptakan city branding untuk Kota semarang. Dan dipilihlah The Beauty of Asia sebagai positioning statement untuk Kota Semarang. Untuk penciptaan logo  city branding Kota Semarang, Pemkot mempercayakan kepada masyarakat dengan mengadakan lomba cipta logo The Beauty of Asia.

Banyak pihak yang merasa terhenyak dengan langkah berani Pemkot itu. Bukan kaget dengan langkah menciptakan positioning Kota Semarang namun lebih mempersoalkan positioning statement yang sudah dipilih oleh Pemkot.

Sejak UU No. 22 tahun 1999 mengenai otonomi daerah ditetapkan, daerah dituntut untuk semakin kreatif dalam upaya memperoleh Pendapatan Asli daerah (PAD). Salah satu upaya untuk memasarkan daerah adalah lewat proses city branding. Misalnya saja, Jogjakarta dengan Jogja Never Ending Asia-nya. Dalam tataran internasional, sebenarnya kota-kota di luar negeri pun telah melakukan hal serupa. Misal, Singapura dengan Uniquely Singapore, juga Filipina lewat Philippines Wealth of Wonders yang lebih popular dengan singkatan WOW.

Yang menjadi persoalan kita adalah apa sebenarnya tujuan dari proses city branding Kota Semarang tersebut? Tentunya bukan sekedar perilaku mengekor atau sekedar untuk mencari sensasi saja melainkan juga untuk meningkatkan income Pemkot dari jalur bisnis. Jadi positioning statement, The Beauty of Asia, bisa dikatakan sebagai janji Pemkot kepada tiga komponen utama bisnis di Kota Semarang, yaitu masyarakat kota, investor, dan para pengusaha.

Janji itu hanya akan terwujud apabila didukung oleh tingkat diferensiasi keadaan kota yang kukuh dan nyata. Apabila janji Pemkot dapat dipenuhi maka kepercayaan bisnis akan menguat. Namun sebaliknya, bila janji tersebut tidak terpenuhi maka dengan sendirinya brand Pemkot Semarang akan tamat riwayatnya.

Oleh karenanya, perumusan positioning statement dalam upaya city branding Semarang hendaknya dilakukan dengan lebih hati-hati dan harus didukung dengan penelitian yang akurat. Tidak hanya dengan melihat bahwa kota Semarang memiliki wilayah kota atas yang terdiri dati perbukitan dan kota bawah yang dilengkapi dengan pantai  juga keragaman etnis yang dapat hidup dengan rukun dan harmonis lantas bisa dnegan mudah mem-positioning-kan Semarang sebagai kota yang beauty bahkan untuk ukuran Asia.

Dalam upaya menghasilkan positioning statement kota yang tepat, paling tidak dibutuhkan beberapa pisau analisis, yang meliputi analisis perubahan teknologi, perubahan politik dan regulasi daerah, perubahan sosial budaya daerah, perubahan ekonomi daerah, dan analisis perubahan pasar daerah. Dengan begitu maka akan diperoleh strategi positioning statement kota yang lebih berciri entrepreneurial daripada bercorak birokratis yang hanya berkutat pada sebatas retorika belaka.

Belajar dari Jogja

Untuk dapat membuat positioning statement  yang tepat haruslah didukung dengan tingkat diferensiasi yang kokoh, nyata, dan unik. Pertama-tama, daerah haruslah diposisikan dengan jelas di benak para pelanggan (investor). Ini bertujuan agar daerah itu memiliki identitas merek yang jelas di benak para pelanggan atau calon pelanggan. Hal ini penting untuk diperhatikan karena pada hakikatnya positioning statement yang telah didukung oleh diferensiasi yang kokoh tadi, nantinya akan menghasilkan identitas merek yang kuat. Pada gilirannya, identitas merek yang kuat itu akan menghasilkan brand image yang kuat. Akhirnya,, brand image yang kuat itu akan memperkuat positioning statement yang telah dirumuskan di awal.

Jogjakarta merupakan contoh yang bagus dalam upaya membuat positioning statement dalam upaya melakukan city branding. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Pemerintah Jogja pun tidak tanggung-tanggung. Jogjakarta berani menggandeng konsultan branding dan perancag logo tingkat internasional, Landor, yang juga telah merancangkan logo untuk perusahaan-perusahaan top seperti Fedex, Ferari, dan Garuda Indonesia. Selain itu, riset penyusunan city branding Jogjakarta juga melibatkan konsultan mark Plus&Co dan Indonesia Marketing Association (IMA).

Dipilihnya kata Jogja dalam city branding kota tersebut juga bukan berdasar pada selera saja namun telah didahului dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kata Jogja lebih mudah diucapkan oleh lidah orang asing (yang memang menjadi target pasar Jogja) daripada kata Yogya. Dan dipilihnya kata Never Ending Asia mengandung arti bahwa apabila wisatawan mengunjungi kota itu maka mereka akan menemukan pengalaman yang tak habis-habisnya.

Sedang dipilihnya kata Asia dan bukan Indonesia karena Indonesia saat itu sedang mendapat citra buruk akibat badai krisis moneter. Dengan positioning statement, Never Ending Asia,  harapannya Jogja bisa menyejajarkan diri dengan kota atau negara “Club Asia” yang terdahulu, semisal Malaysia truly Asia atau Uniquely Singapore.

Positioning statement Jogja memanglah kokoh sekali. Positioning statement Jogja bukan sekedar gagah-gagahan kota yang buta dari realita, sebaliknya sangat didukung oleh diferensiasi yang kokoh dan unik dari kota itu. Di antaranya adalah pertama, Jogja merupakan daerah pertemuan antar agama besar di Asia, yaitu Islam, Nasrani, Hindu, dan Budha. Ini ditandai dengan adanya peninggalan-peninggalan dari tradisi agama-agama tersebut yang masih terawat hingga kini.

Jogja disebut sebagai pusat Agama Islam karena keraton Jogjakarta memanglah menjadi penerus dari Kerajaan Mataram Islam. Untuk Agama Budha, tak jauh dari Jogja sekitar 40 kilometer dari kota itu terdapat Candi Borobudur yang berdiri megah. Sekitar 27 kilometer dari Kota Jogja tedapat Candi Prambanan yang anggun. Candi yang dibangun pada abad kesembilan itu merupakan peninggalan dari agama Hindu. Sedangkan peninggalan Umat Nasrani, khususnya Katolik, sekitar 40 kilometer ke arah barat kota terdapat Sendang Sono yang sering dijadikan tempat ziarah (lourders) bagi umat Katolik.

Kedua, Jogja sudah dikenal sebagai kota tujuan wisata di mata internasional. Ketiga, jogja menjadi pusat perkembangan kebudayaanJawa. Keempat, keramah-tamahan penduduk Jogja sangat mendukung pariwisata.

Selain didukung oleh diferensiasi kota yang kokoh dan unik, Jogja juga terus meningkatkan berbagai infrastruktur, seperti pembangunan gedung konvensi yang bertaraf internasional. Ada pula pengembangan bandara Adi Sucipto menjadi bandara yang bertaraf internasional di mana saat ini telah membuka rute penerbangan langsung dari dan ke Kuala Lumpur serta Singapura.

Belajar dari kasus proses pembuatan city branding Jogja, maka Pemkot Semarang haruslah berupaya mengambil banyak pelajaran di sana. Ada baiknya bila Pemkot juga menggunakan jasa tenaga-tenaga professional untuk merumuskan logo dan positioning statement kota yang tepat. Ini penting sekali dilakukan agar nantinya upaya city branding Semarang benar-benar mampu memberikan dampak positif terhadap denyut nadi kehidupan perekonomian di Kota Semarang dan bukan sekedar langkah mengekor dan bersifat sensasional saja.

Sebelum positioning statement beserta logo di-launching-kan  secara resmi ke publik sebagai city branding Kota semarang, ada baiknya bila Pemkot dengan arif mau memikirkan ulang relevansi positioning statement yang terlanjur dipilih. Harapannya gar Kota Semarang tidak tumbuh dan menjelma menjadi kota yang “kabotan jeneng” (walaupun nama memanglah harapan di masa depan). Kalau Malaysia saja “hanya” benari mem-positioning-kan diri sebagai Truly Asia, maka betapa over confident-nya Semarang dengan menasbihkan diri sebagai The Beauty of Asia. (*)

1 Response to "Menggugat City Branding Semarang"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: