Majalah OPINI

PUNK Never Die

Posted on: October 5, 2008

PUNK never die, sebuah filosofi yang tidak asing di telinga kita. Punk adalah  sebuah subculture. Ia kali pertama muncul di Amerika pada akhir tahun 1960-an dan pada pertengahan 1970-an di Inggris. Keberadaan punk dilatarbelakangi oleh berkembangnya berbagai kebudayaan khas kelas pekerja.

Dalam perkembangannya, kaum punk tidak hanya tumbuh subur di negeri leluhurnya. Mereka dengan cepat meluas dan membudaya di banyak negara. Kawula muda dari berbagai penjuru dunia pun dengan cepat mengadopsi budaya punkers. Remaja Indonesia pun sepertinya tidak mau ketinggalan. Sering kita lihat punkers di jalan-jalan atau sedang nongkrong di Distribution Outlet (Distro).

Dalam kamus Bahasa Indonesia, punk diartikan sebagai anak muda yang masih ‘hijau’, tidak berpengalaman, atau tidak berarti. Bahkan punk juga dimaknai sebagai orang yang ceroboh, sembrono, dan ugal-ugalan.

Dalam ‘Philosopi of Punk’, Craig O’Hara (1999) mengungkap tiga definisi tentang punk. Pertama, punk sebagai tren remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Ketiga, punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan komunitas, musik, gaya hidup, dan kebudayaan sendiri.

Punk sendiri terbagi menjadi beberapa komunitas di mana setiap komunitas memiliki ciri yang berbeda satu dengan lainnya. Adanya perbedaan tersebut menyebabkan beberapa kelompok tidak mau menerima keberadaan anggota selain kelompoknya.

Ada beberapa komunitas punk. Pertama, Anarcho Punk. Komunitas ini dianggap sangat keras dan menutup diri dengan orang-orang sekitarnya. Mereka pun sering bentrok dengan komunitas punk lainnya. Anarcho Punk

Sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut antara lain anti otoritarianisme dan anti kapitalisme. Di dunia musik mereka juga mampu menelurkan band-band musik seperti  Crass, Conflict, dan Flux of Pink Indians.

Kedua, Crust Punk. Punkers yang satu ini dianggap paling brutal. Berbagai macam pemberontakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para penganut paham crust punk menyebut diri sebagai Crustiest. Musik yang mereka mainkan merupakan gabungan dari Anarcho Punk dengan Heavy Metal.  Kelompok ini juga anti sosial yang hanya mau bergaul dengan sesama crustiest.

Ketiga, Glam Punk. Penganut kelompok ini merupakan  kumpulan para seniman. Dalam kehidupannya, mereka menjauhi perselisihan dengan sesama punkers maupun dengan masyarakat umunya.

Keempat, Hard Core Punk. Kelompok ini mulai berkembang pada tahun 1980-an di Amerika Serikat bagian utara. Punk Rock  dengan beat-beat cepat menjadi musik mereka. Jiwa pemberontakan pun sangat kental dalam kehidupan sehari-hari para penganut aliran ini.

Kelima, Nazi Punk. Punkers dari  komunitas  ini merupakan komunitas punk yang masih benar-benar murni. Paham Nazi begitu melekat di jiwa mereka. Awalnya, Nazi Punk berkembang di Inggris sekitar akhir tahun 1970-an. Paham ini menyebar dengan sangat cepat di Amerika Serikat. Rock Against Communism dan Hate  Core menjadi bagian dari musik punkers kelompok ini.

Keenam, The Oi atau  Street Punk. Para penganut aliran ini menyebut dirinya sebagai Skinheads. Prinsip yang tidak pernah lepas dari otak skinheads adalah sebuah kerja keras. Meski keonaran demi keonaran sering mereka ciptakan, tapi kelangsungan hidup tetap menjadi orientasi mereka.

Ketujuh, Queer Core Punk. Komunitas ini terdiri atas para lesbian, homo seksual, biseksual, dan transeksual. Queer Core merupakan pecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985.

Kedelapan, Riot Girl Punk. Kelompok Riot Girl ini muncul Pada tahun 1991 dan beranggotakan perempuan yang keluar dari Hard Core Punk. Mereka pun tidak mau bergaul dengan perempuan selain dari kelompoknya. Biasanya perempuan-perempuan ini berasal dari Seattle, Olympia, dan Washington DC.

Kesembilan, Scum Punk. Straight Edge Scene merupakan sebutan dari kelompok ini. Mereka mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral, dan kesehatan.

Kesepuluh, The Skate Punk. Punkers yang satu ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Kebanyakan dari mereka menyukai skate board dan surfing.

Kesebelas, Ska Punk. Ska Punk  merupakan penggabungan yang sangat menarik antara punk dengan musik asal Jamaika, reggae. Mereka pun memiliki tarian khas yang disebut Shanking atau Pogo.

Punk terlahir sebagai bentuk perlawanan anak muda yang merasa dikhianati oleh pemerintah. Mereka menentang pemerintahan yang tidak memihak rakyat kecil. Dengan lagu-lagunya yang keras dan beat-beat yang cepat serta menghentak, kaum punk berusaha menyindir para penguasa. Cara yang mereka lakukan unik dan selalu melawan arus.

Tidak hanya itu, komunitas yang selalu menolak kemapanan ini tidak memainkan lagu-lagu rock nada tinggi ataupun lagu cinta yang menyayat hati. Lirik-lirik lagu mereka berupa teriakan protes terhadap kejamnya dunia. Lagu-lagunya berisi rasa frustasi, kemarahan dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur terhadap rakyat.

Citra punk di mata masyarakat tidak terlalu baik. Terlebih bagi mereka yang tidak paham tentang mereka akan selalu menganggap punk sebagai komunitas yang norak, urakan, dan menyimpang. Kekerasan memang menjadi bagian dari kehidupan punkers. Tidak sedikit dari mereka yang berkeliaran di jalanan serta melakukan berbagai tindak kriminal.

Di Indonesia sendiri, punk terlahir sebagai imitasi daari negeri leluhurnya. Di dunia kampus, kebanyakan dri mereka hanya sekedar punk fashion. Meski mengaku sebagai punkers, mereka tetap hidup bersosial layaknya masyarakat umumnya. Namun begitu, idealisme menentang pemerintah yang tidak memihak rakyat kecil masih mereka pegang.

Hal ini seperti dituturkan oleh Anang Pramayuda,  mahasiswa Public Relation (PR) angkatan 2005. Dia Mengaku sebagai punkers yang harus memihak rakyat kecil ketika mendapat tekanan dari pemerintah. Tidak mudah menemukan punkers di kalangan mahasiswa. Meski mahasiswa PR ini menyebutkan bagaimana mengenali punkers. ” Tak ada ciri khusus dalam kesehariannya, paling cuma pakaiannya saja seperti celana yang bawahnya ketat dan rambut yang dijabrik,” jelas punkers ini ketika ditemui di depan gedung tata usaha FISIP-Undip.

Namun yang menjadi masalah adalah fashion seperti yang disebutkan tadi telah menjadi tren remaja cewek ataupun cowok saat ini. Sering kita temui remaja yang berpenampilan ala punk, di kampus, di jalan-jalan ataupun di tempat lainnya.

Menurut Anang, punk sendiri telah menjadi budaya pop yang dengan cepat merasuki pikiran maupun style remaja Indonesia. Baginya budaya pop merupakan budaya ikutan seperti halnya band yang sedang booming, langsung muncul plagiat-plagiat atau follower. Seringkali penjiplak tersebut bukanlah penjiplak kreatif, mereka mengadopsi apa adanya yang terkadang malah memberi kesan canggung.

Mungkin karena punkers kampus bukanlah penganut paham punk secara totalitas, ini menjadikan mereka tidak bisa memisahkan diri dari kehidupan sosial layaknya remaja umumnya. Punkers kampus juga menyukai musik-musik yang baru tren. ”Musik sih semua suka, terutama indie pop. Apalagi musik punk, aku banget. Tapi aku nggak suka ama Samson, nggak tahulah pokoknya nggak suka,” tutur Anang siang itu.

Berbicara tentang budaya, punk menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji. Kehadiran punk di masyarakat dengan penampilannya yang mencolok sering kali menarik perhatian. Tidak sedikit dari para remaja yang meniru style mereka, dan kebanyakan hanya sebatas fashion saja. Kaum inilah yang biasanya mengaburkan makna punk yang sesungguhnya, hanya ikut-ikutan dan tidak memahami dari tujuan komunitas punk yang sebenarnya.

Jaket kulit dan celana kulit, gaya rambut spike atau Mohawk menjadi andalan kaum Punkers. Namun, ada pula dari mereka yang menggunakan celana jeans ketat dan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Body piercing, rantai dan gelang spike, merupakan aksesoris yang wajib mereka kenakan. Tidak ketinggalan juga, sepatu boots tinggi atau sneakers dari Converse menjadi bagian dari kehidupan mereka. Banyak orang yang berpenampilan seperti itu merasa layak disebut punkers. (Purni)

1 Response to "PUNK Never Die"

[…] Cosplay, Life Style Remaja Jepang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: