Majalah OPINI

Semarang Pesona Asia Bagai Meteor Gebyar itu Hanya Sesaat…

Posted on: October 5, 2008

KEGIATAN Semarang Pesona Asia telah terlaksana pada 9-15 Agustus kemarin. Kegiatan ini dinyatakan sebagai acara paling akbar yang pernah dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan diharapkan mampu mendulang untung bagi Semarang serta memperkenalkan Semarang ke dunia internasional.

Pembukaan SPA berlangsung pada 9 Agustus malam di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Pembukaan ini sungguh mewah dengan panggung megah berukuran 60 x 30 meter persegi, tata lampu berdaya 150.000 watt, dan sound system yang menggelegar.

Acara ini semakin meriah dengan dukungan 200 penari dari berbagai sanggar, komunitas seni, dan sekolah yang menampilkan berbagai tarian. Kesempurnaan acara ini makin lengkap dengan Didik Ninik Thowok dan Yoyok B Priyambodo sebagai koreografer tari serta sumbangsih Surya Orkestra Semarang dan penyanyi tenor terkenal, Christoper Abimanyu.

Tarian dari berbagai negara dan daerah di Indonesia ditampilkan dengan sangat memukau. Mulai dari Tari Tangan Seribu dari China, Tari Merak dari Thailand, Tari Subaru dari Jepang, Tari Onara-Onara dari Korea, Tari Gendang dari Korea, dan Tari India. Ada pula tarian asli Indonesia yaitu, Tari Warak Dugder, Bambangan Cakil, Arca, Gunungan, Blekok, Tari Gebyar Pesona Semarang, dan Tari Kuntul.

Selain gebyar-gebyar di atas, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang membuka kegiatan SPA secara langsung menambah gengsi acara ini. Presiden bahkan menyarankan daerah lain untuk mengikuti langkah pemerintah kota Semarang yang berusaha memperkenalkan Semarang ke dunia internasional melalui Semarang Pesona Asia.

Melihat acara pembukaan yang begitu megah ini tentu bukan hal yang aneh jika banyak yang berharap SPA akan berlangsung dengan sukses. Beberapa bagian kegiatan SPA memang terlaksana dengan baik. Namun ternyata tidak semuanya, termasuk pembukaan SPA sendiri.

Meski pembukaan SPA begitu megah ternyata tidak semua masyarakat bisa menikmatinya secara langsung. Pembukaan SPA dibuat begitu eksklusif. Tidak ada masyarakat yang bisa masuk ke area Lapangan Pancasila. Masyarakat Semarang hanya diperbolehkan melihat dari seberang jalan yang mengitari Lapangan Pancasila.

Ketidaknyamanan ini ditambah dengan ketiadaan layar besar yang menampilkan pertunjukkan megah tersebut. Padahal tidak sedikit masyarakat yang telah menantikan acara ini sejak sore di Simpang Lima.

Padahal, untuk mencapai Simpang Lima saja bukan hal yang mudah. Dengan ditutupnya Simpang Lima, masyarakat yang datang untuk melihat acara tersebut mau tidak mau harus melalui jalur alternatif. Ironisnya, jalan yang sedianya menjadi jalur alternatif malah dijadikan tempat parkir. Kemacetan adalah hal mutlak terjadi.

Sedikit cacat pada acara pembukaan SPA mungkin satu hal yang bisa dimaklumi mengingat ini merupakan kegiatan perdana. Namun ternyata ketidaksiapan Pemkot Semarang ini telah membuat beberapa acara menjadi tampak menyedihkan.

Grand Mosque Festival yang diadakan di Masjid Agung Jawa Tengah adalah salah satunya. Tidak ada keramaian yang seharusnya terjadi jika ada sebuah festival. Hanya sedikit pengunjung yang datang untuk melihat pameran dan stan-stan. Akibatnya, peserta pameran kecewa. Pengunjung yang berada ke Masjid Agung Jawa Tengah bukan datang ke sana karena SPA. Bahkan mereka tidak tahu jika sedang diadakan SPA.

Hal yang sama terjadi pada Pameran Tekstil dan Produk Tekstil di halaman Dinas Perdagangan dan Perindustrian Propinsi Jawa Tengah. Masyarakat yang datang ke sana hanya sedikit. Bahkan jumlah stan yang ada juga tidak banyak. Jika dilihat dari luar tidak akan tampak bahwa di sana sedang diselenggarakan salah satu event SPA.

Competition of Warak Boat merupakan yang terparah dari kegiatan-kegiatan lain. Kompetisi batal dilaksanakan. Sungguh memalukan bagaimana dibatalkan. sebuah acara yang dirancang untuk menggaet wisatawan malah dibatalkan.

Wali kota menyatakan bahwa hal ini terjadi karena pihak penyelenggara terlalu memaksakan diri untuk mengikutsertakan kegiatan ini dalam agenda SPA.

Selain kegiatan-kegiatan di atas masih ada beberapa event lain yang mengalami nasib tidak jauh berbeda. Kompas (14/8) telah memberikan beberapa catatan seputar SPA.

Kegiatan yang masuk dalam daftar Kompas adalah Semarang International Bussiness Forum di Hotel Patra Jasa, Pagelaran Seni dan Budaya di Simpang Lima, City Tour, International School Futsal Invitation di Lapangan Futsal Pantai Marina, dan  Inspiring Film Festival di Wonderia dan Balai Kota.

Semarang International Bussiness Forum memang terlaksana dengan baik. Namun Kompas memberikan catatan bahwa inventarisasi investasi tidak maksimal. Acara ini setidaknya telah menghasilkan transaksi sebesar Rp 234 miliar.

Pagelaran Seni dan Budaya yang menurut jadwal dilaksanakan selama lima hari ternyata hanya terlaksana tiga hari. City Tour yang sedianya akan dilaksanakan 11-15 Agustus, kenyataannya hanya satu rombongan (satu bus) yang mengelilingi Semarang.

Interational School Futsal Invitation terlaksana sebagaimana pertandingan futsal. Hanya saja pesertanya hanyalah 32 SMP lokal Kota Semarang, bukan sekolah internasional.

Nasib acara Inspiring Film Festival tidak jauh berbeda dengan City Tour. Kegiatan yang seharusnya dilaksanakan 11-13 Agustus tersebut akhirnya hanya memutar film Naga Bonar 1 di Wonderia.

SPA mempuyai tujuan salah satunya adalah untuk menarik minat wisatawan terhadap kota Semarang. Oleh sebab itu, para pemilik homestay telah memperbaiki rumah hunian mereka. Walikota sendiri menyatakan bahwa peminat homestay mencapai 250 orang. Namun nyatanya banyak homestay yang tidak mendapat tamu. Tentu saja hal ini membuat kecewa pemilik homestay. Mereka mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memperbaiki hunian mereka.

Satu hal yang menarik adalah pernyataan Kepala Hubungan Masyarakat PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Ahmad Yani Semarang, I Wayan Suta Wijaya, sebagaimana dikutip Kompas (15/8). I Wayan Suta Wijaya menyatakan bahwa tidak ada lonjakan penumpang pesawat terbang. Lonjakan penumpang hanya terjadi saat pembukaan SPA. Apakah ini berarti SPA tidak berhasil menarik minat masyarakat luar?

penumpang pesawat terbang. Lonjakan penumpang hanya terjadi saat pembukaan SPA. Apakah ini berarti SPA tidak berhasil menarik minat masyarakat luar?

Meski beberapa kegiatan SPA tidak begitu sukses, ada beberapa kegiatan yang berhasil dilaksanakan dengan baik. Kegiatan yang terlaksana dengan memuaskan adalah acara yang memang sudah menjadi agenda rutin, yaitu Festival Cheng Ho, Warung Semawis dan Mega Jateng Fair.

Festival Cheng Ho bisa dibilang merupakan acara dengan pengunjung paling banyak. Acara yang diselenggarakan 10-12 Agustus ini mendapat respon yang sangat bagus dari masyarakat, terutama masyarakat keturunan Tionghoa. Banyaknya pengunjung ini dapat dilihat dari tempat parkir yang selalu penuh. Namun sayang, tarif parkir yang mahal tidak disertai dengan tempat yang layak.

Warung Semawis dimana dilaksanakan Asian Culinary Festival merupakan acara kedua yang sukses. Warung Semawis tidak hanya menarik masyarakat Semarang tetapi juga masyarakat luar semarang bahkan turis mancanegara. Selama SPA, animo masyarakat terhadap Warung Semawis mengalami peningkatan  signifikan.

Mega Jateng Fair yang dilaksanakan 11-15 Agustus juga bisa terlaksana dengan cukup sukses. Acara ini mendapat respon yang baik dari masyarakat. Banyak masyarakat yang berkunjung ke acara ini, terutama pada sabtu malam saat penampilan salah satu band terkenal. Selain itu, stan-stan yang ada juga terisi dan banyak pengunjung yang tertarik.

Jika disimpulkan, masih banyak event SPA yang tidak terlalu sukses. Pemkot Semarang tampaknya terlalu fokus pada acara pembukaan SPA hingga mengabaikan kegiatan lain. Meski Walikota menyatakan beberapa acara yang tidak sukses bukan kegiatan utama, seharusnya setiap kegiatan layak mendapat perhatian yang sama karena ketidaksuksesan Acara kecil pun pasti mendapat sorotan dari berbagai pihak.

Seandainya boleh diumpakan, pelaksanaan SPA kali ini bagai meteor. Ia hanya gemerlap sekejap, kemudian hilang bagai ditelan bumi. Semoga saja perbaikan terus dilakukan jika Pemkot berniat melaksanakan program ini tahun depan. Pepatah Jawa “alon-alon waton kelakon” bisa dijadikan acuan karena ketidaksiapan biasanya bermula dari keterburuan. (Ayu)

Berikut Halaman yang bisa di download

hal-5-laporan-utama-spa-bagai-meteor

hal-6-laporan-utama-spa-bagai-meteor

hal-7-laporan-utama-spa-bagai-meteor

hal-8-laporan-utama-spa-bagai-meteor

1 Response to "Semarang Pesona Asia Bagai Meteor Gebyar itu Hanya Sesaat…"

[…] SPA, Bagai Meteor, Gebyarnya Hanya Sesaat […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: