Majalah OPINI

Wayang Abu-Abu

Posted on: October 5, 2008

Oleh : Nilta Muna
Mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP Undip

SIAPA tidak kenal wayang? Kesenian adiluhung ini bahkan sudah diakui sebagai kekayaan dunia. Wayang menjadi kesenian adiluhung karena ia adalah refleksi budaya Jawa, dalam arti pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan, serta cita-cita kehidupan orang Jawa. Melalui cerita wayang masyarakat Jawa memberi gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnya (das sein) dan bagaimana hidup itu seharusnya (das sollen) (Walujo, 2000: x – xi).

Indonesia memiliki berbagai jenis wayang, antara lain wayang kulit, wayang golek, wayang sunda, wayang betawi, wayang sasak, wayang krucil, wayang kancil, wayang beber, wayang orang, wayang topeng, dan wayang wahyu. Dari berbagai jenis wayang tersebut, yang paling populer dan mempunyai usia ribuan tahun adalah wayang kulit atau sering disebut wayang purwa.

Dinamakan wayang kulit karena boneka datar dua dimensi ini terbuat dari kulit kerbau yang secara rumit diukir dan diwarnai, dilengkapi tangkai penyangga ditengah dan gagang dari tanduk kerbau untuk memainkannya; menggambarkan dewa, manusia, raksasa, satwa, dan lambang alam. Seperangkat dapat terdiri atas 150 sampai 300 boneka yang disimpan dalam kotak (Achmad, 2002: 52)

Boneka-boneka wayang kulit itu tidak menggambarkan manusia secara wajar, tetapi mempersonifikasikan watak tokoh tertentu dalam keadaan batin tertentu. Istilahnya wandha, yang berarti ekspresi atau ungkapan watak. Namun juga dapat dimaknai ekspresi keadaan batin, dilihat dari

”tundukan” kepala, badan, lekukan mata dan mulut, jarak antara mata dan alis, jarak antara mata dan mulut, serta warna yang digunakan.

Sejatinya, tokoh-tokoh wayang bukan sosok yang jauh dari kehidupan kita. Disadari atau tidak, kita sering bertemu dengan Dasamuka, Ramawijaya, Semar, maupun tokoh-tokoh lainnya, bahkan di dalam diri kita. Kok bisa? Yo bisa to ya! Karena wayang merupakan personifikasi watak dasar manusia. Jadi di dalam diri kita bisa ditemukan beberapa tokoh wayang sekaligus!

Contohnya, keinginan atau hasrat manusia untuk bersikap heroik dan selalu menegakkan kebenaran seperti watak tokoh Bima. Tetapi di sisi lain ketika usaha untuk heroik dan menegakkan kebenaran itu menggunakan jalan kekerasan, saat itu kita mengejawantahkan watak Bhuta Kala atau kekuatan jahat (bukan bermaksud menyindir salah satu ormas lho ya…).

Masih ingat peribahasa ”dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu”? Itulah manusia. Sebagai makhluk berpikir, manusia tentu memiliki cara pandang sendiri-sendiri. Karenanya, disebutkan bahwa kebenaran itu subjektif. Seperti dilambangkan dengan tokoh Semar, yang melambangkan karsa atau kehendak. Tubuhnya yang bulat menyimbolkan dunia yang universal. Salah satu tangannya yang menunjuk melambangkan petunjuk ke arah kebaikan atau kebenaran, tetapi tangan satunya yang menggenggam menandakan bahwa kebenaran itu subjektif. Tergantung dari pemikiran individualis, mutlak tanpa intervensi siapapun

Kesubjektivitasan tersebut bisa dilihat dari perilaku Kurawa dalam pakem Mahabarata yang, mungkin, bagi kita adalah tokoh jahat. Tetapi di sisi lain, Kurawa melakukan itu untuk mempertahankan wilayah atau daerah teritorial mereka.

Dalam dunia pewayangan tidak ada batasan tegas antara ”hitam” dan ”putih”, karena sekali lagi, kebenaran itu subjektif. Lebih tepat kalau dikatakan tokoh wayang itu abu-abu, seperti manusia pada umumnya. Antara ”hitam” dan ”putih” saling mengisi seperti lambang Yin-Yang. Jika dicermati, pada lambang tersebut di dalam ”putih bersih” terdapat titik hitam. Begitu pula sebaliknya, dalam ”hitam pekat” juga terdapat titik putih. Hingga akhirnya tercipta equilibrium atau keseimbangan universal.

Misalnya saja Arjuna yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang sakti, setia, peduli saudara, dan rela berkorban tetapi juga memiliki ”hitam” yaitu mata keranjang. Sehingga dia juga dijuluki lelananging jagad.

Lain lagi Dasamuka dalam pewayangan Ramayana yang dikenal sebagai tokoh angkara murka, jahat, dan serakah. Nafsu membara membuatnya menculik Dewi Sinta, yang merupakan istri Ramawijaya. Ramawijaya yang marah akhirnya berhasil membunuh Dasamuka dan merebut kembali Dewi Sinta. Saat menjelang ajal, Dasamuka berujar kepada Dewi Sinta bahwa dia tidak akan menyentuh atau menodai Dewi Sinta jika Dewi Sinta tidak mencintainya. Begitu tinggi penghormatan Dasamuka kepada perempuan, yang diwakili oleh Dewi Sinta.

Menonton wayang memang akan membawa kita ke ”dunia lain”, karena akan membawa kita memaknai, menyelami, dan memahami sisi-sisi lain kehidupan manusia.

Jadi, siapa takut nonton wayang? (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: