Majalah OPINI

’Membenarkan’ Sekolah

Posted on: October 20, 2008

PRIT, prit. Bunyi peluit dari satpam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kimia Industri Theresiana Semarang itu terdengar setiap pagi. Anak-anak sekolah dasar (SD) yang berlari kecil,  siswa-siswi SMK Kimia Industri dan bahkan mahasiswa Universitas Diponegoro kemudian menyeberang selagi mobil-mobil di kanan kiri mereka berhenti. Beberapa langsung menuju sekolah, beberapa memilih pergi ke tempat lain alias membolos sekolah. Beberapa belajar dengan tekun di sekolah, beberapa nongkrong di pinggir jalan sambil merokok.

Sekolah dipercaya masyarakat se-bagai tempat dimana anak-anak dididik menjadi ’orang yang benar’. Namun, kenyataannya masih banyak anggota masyarakat yang mendapat gelar berpendidikan menjadi pelaku kejahatan.  Bagaimana hal ini bisa terjadi?

”Karena di sekolah kita cuma diajarin hitung-hitungan secara eksak, tidak pernah diajari cara berperilaku yang benar, etika yang benar seperti apa,” jawab Fertilina Hardiyani, siswi kelas 3 IPA SMAN 3 Semarang, ketika ditanyai pendapatnya apa penyebab banyaknya orang berpendidikan yang terlibat kejahatan. ”Hasilnya, manusia punya daya saing, tetapi belum tentu bermoral,” tambahnya.

Pendapat Fertilina ini didukung oleh Singgih Tri Hatmodjo, siswa kelas VII SMPN 10 Semarang. Menurut Singgih, pendidikan Indonesia telah berhasil menghasilkan manusia yang pintar. ”Namun sayang, banyak juga yang menyalahgunakan kepintarannya buat hal-hal yang nggak baik, ” ujarnya lemah.

Mendengar jawaban kedua siswa-siswi ini membuat kita bertanya-tanya? Apa sajakah yang diajarkan di sekolah? Listya Herawati, guru Bahasa Inggris SD N Jombang Semarang, menjelaskan bahwa sekolah mengajarkan bermacam-macam pengetahuan dan pendidikan budi pekerti. ”Namun terkadang siswa mengabaikan pelajaran tentang budi pekerti,” tambahnya.

Singgih membenarkan ucapan Listya ini. ”Kita dapat pelajaran tentang moral pas pelajaran agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Kadang-kadang di pelajaran lain guru juga ngasih nasihat biar jadi orang baik,” ujarnya. ”Kita dapat pelajaran agama 2 jam, PPKn 2 jam,” lanjut Singgih.

Namun, Fertilina menjawab ia merasa tidak mendapat pelajaran moral di sekolah. ”Soalnya selama ini kita tahu pelajaran PPKn cuma pada pilihan a,b,c,d, dan benar semua. Kita tahu teorinya, tapi tidak bisa prakteknya,” ujarnya memberikan alasan.

Dr. Endang Widyorini MS, psikolog, mempunyai pendapat yang sama dengan Fertilina. Ia menyatakan bahwa tujuan pendidikan kita telah melenceng. Menurutnya, tujuan pendidikan formal adalah pembentukan kognisi, afeksi dan psikomotor. Namun, saat ini pendidikan Indonesia hanya menekankan  segi kognisinya dan cenderung mengabaikan yang lain, termasuk moral. ”Di sekolah ada pelajaran tentang moral. Namun, pelajaran moral, seperti PPkn pun, juga cuma hafalan, nggak masuk ke pemahaman,” ujarnya.

Pernyataan Dr. Endang ini tampaknya memang benar. Bila dihitung, total jam yang dijalani siswa-siswi dalam enam hari sekolah sekitar 30 jam. Dari total seluruh jam pelajaran tersebut, porsi pelajaran PPKn dan Pendidikan Agama hanya sekitar 4 jam atau sekitar 1,4%. Jadi, bukanlah hal mustahil seorang siswa atau ketika siswa tersebut setelah dewasa ia menjadi tidak bermoral.

Menurut Endang, kesalahan sistem pendidikan yang terjadi disebab kan oleh adanya modernisasi di Indonesia. ”Pendidikan harusnya tidak lepas dari nilai-nilai budaya kita. Namun, karena ada modernisasi kita jadi seperti kehilangan identitas,” ungkap Endang. ”Pendidikan, dilihat dari kajian psikologi pendidikan, seharusnya membentuk kepribadian yang kuat sebagai manusia dan mempunyai nilai-nilai moral yang baik. Dia (peserta didik, red) juga punya nilai religius yang baik, dan ini bisa dibentuk dengan pendidikan karakter. Dengan begitu dia bisa menentukan harus melangkah kemana, tahu bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain dan tidak merugikan dirinya sendiri.”

Ketika ditanya pendapat mereka bagaimana bila diterapkan pendidikan karakter di sekolah, baik Singgih maupun Fertilina menyambut positif. ”Jadi orang-orang nanti nggak cuma pintar, tetapi juga bermoral baik,” jawab Singgih menyatakan persetujuannya.

Endang menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak bisa terbentuk begitu saja. Ada halangan-halangan yang bisa menghambat terbentuknya pendidikan karakter. ”Orang tua juga berperan membentuk karakter. Begitu juga dengan lingkungan. Jika orang tua dan lingkungan tidak mendukung, akan sulit jadinya. Anak belajar de-ngan mengadopsi perilaku. Apa yang ia lihat, sedikit banyak akan mempengaruhi perilakunya,” jelas Endang.

Fertilina dan Singgih mempunyai pendapat yang sama. Kedua pelajar ini mengaku bahwa perilaku mereka juga dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan. Bahkan keduanya berpendapat bahwa jika seorang anak melakukan kejahatan, itu akibat pengaruh lingkungan bukan Cuma sekolah.

Meski setuju dengan penerapan pendidikan karakter, Fertilina meng-ungkapkan bahwa ia pesimis hal itu bisa dilakukan. ”Harapannya sih penerapan pendidikan karakter itu bisa dilakukan. Tapi kita juga nggak tahu pasti. Sumber daya manusianya sendiri saja berbeda-beda. Bisa saja yang diterapkan sama. Tapi sambutannya beda-beda. Ada yang berpikir ”oh, aku harus kayak gini”, tapi ada juga yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” jelasnya.

”Sebenarnya pendidikan karakter nggak harus secara eksplisit diberikan secara materi. Namun dengan contoh saja. Dengan contoh, siswa akan ikut melakukan. Misalnya, buang sampah di tempatnya, sebelum belajar dimulai berdoa. Itu saja sudah cukup,” Endang menanggapi kecemasan Fertilina.

”Lagipula, sebenarnya pendidikan karakter sudah ada dalam kurikulum pendidikan kita, yang mana ia menjadi kurikulum tersembunyi. Seharusnya, pendidikan karakter menjadi nafas semua kurikulum. Dan inilah yang tidak dilakukan selama ini. Untuk itulah pemerintah perlu melakukan perubahan,” lanjutnya.

(Penulis : Ayu, Reporter : Sina, Gendis, Santy, Editor : Lailatul, Sita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: