Majalah OPINI

’Opportunistik’ Pendidikan Indonesia

Posted on: October 20, 2008

Dyah Ayu Harfi (ist)

Oleh: Dyah Ayu Harfi Rusanti*
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2006.

SEKOLAH-sekolah roboh, kekurangan fasilitas, kompetensi guru dan dosen rendah, tidak meratanya pendidikan, biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau masyarakat, subsidi pendidikan yang kecil, sampai pada dipertanyakannya mutu lulusan-lulusannya. Beginilah gambaran pendidikan di Indonesia.

PERUBAHAN kurikulum setiap pergantian pemerintahan, juga memiliki kontribusi besar terhadap ketidakjelasan arah pendidikan Indonesia saat ini.

Apresiasi pemerintah terhadap siswa-siswi Indonesia yang berprestasi pun sangat kurang. Siswa-siswi yang kerap kali mengharumkan nama bangsa dalam ajang-ajang bergengsi dunia, tidak dihargai lebih dari sekedar ucapan selamat. Sungguh tak ada apresiasi lebih yang pantas diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap prestasi-prestasi mereka. Tak heran jika banyak siswa berprestasi Indonesia yang “dibajak” oleh  luar negeri.

Negara-negra maju seperti Amerika Serikat dan berbagai negara di Eropa, adalah negara yang selama ini lebih mampu memberikan penghargaan tinggi terhadap ilmu pengetahuan dibandingkan bangsa kita selama ini.

Sebagai dasar terbentuknya suatu masyarakat yang maju, pendidikan di Indonesia selama ini belum benar-benar mampu memberikan kontribusinya. Pola  pengajaran tutorial yang lazim digunakan di Indonesia selama ini pun ternyata membuat siswa menjadi lebih pasif. Mereka hanya akan menerima informasi secara taken for granted. Akibatnya, budaya kritis untuk menggugat dan mempertanyakan bagaimana dan mengapa tentang ilmu  tidak pernah terbentuk.

Standar kelulusan yang dipakai pun cenderung membuat siswa maupun guru kurang bisa menghargai sebuah proses dan hanya berorientasi pada hasil akhir saja. Ini terlihat pada diterapkannya standar-standar nilai kelulusan ujian nasional, mulai dari tingkat SD hingga tingkat SMA. Apa yang terjadi adalah siswa tidak lagi peduli tentang apa dan bagaimana caranya mengerjakan soal dengan benar. Mereka menjadi tidak terdorong untuk membongkar sebuah ilmu pengetahuan dan kemudian mengembangkannya sesuai minat dan bakat mereka masing-masing.

Opportunis

Ketika seorang anak ditanyai oleh orang tuanya hendak kuliah dimana, pasti pertanyaan tersebut akan dilanjutkan dengan pertanyaan, “ Setelah lulus mau kerja apa?” Dari hal ini dapat terlihat jika orientasi pendidikan di Indonesia adalah untuk bekerja.

Orang beramai-ramai kuliah karena perusahaan-perusahaan mempersyaratkan pelamarnya berpendidikan minimal S1.
Hal ini terjadi karena pekerjaan di Indonesia memang membutuhkan syarat-syarat formal yang harus ditunjukkan melalui selembar ijazah. Ini yang kemudian membuat orang menempuh pendidikan bukan semata-mata karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan maupun untuk mengembangkan potensi diri, tetapi hanya untuk bisa mendapatkan pekerjaan.

Sebagai contoh, orang beramai-ramai kuliah di jurusan Komunikasi karena saat ini media sedang berkembang pesat. Orang berbondong-bondong masuk Fakultas Teknik karena perkembangan dunia teknologi yang semakin cepat.

Begitu pula ketika pertanyaan untuk apa lulus SD diajukan. Agar bisa melanjutkan ke SMP itulah jawabannya. Untuk apa lulus SMP? Agar bisa melanjutkan ke SMA. Untuk apa lulus SMA? Agar bisa kuliah.

Lalu ketika ditanya untuk apa bersekolah? Jawabannya tentu agar dapat mendapat pekerjaan. Untuk apa kuliah? Karena syarat mencari pekerjaan adalah mempunyai ijazah, minimal S1. Semua usaha yang dilakukan untuk bersekolah semata-mata hanya untuk mencari keuntungan.

Kalau begitu, jika ingin membuka usaha sendiri, berdagang misalnya, tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Toh tak ada persyaratan untuk dapat punya toko kelontong harus mempunyai ijazah sekolah formal. Tak pernah ada yang mewajibkan peternak ayam untuk punya ijazah minimal SMA. Pendidikan semata-mata hanya dilihat sebagai prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan. Sebuah sikap yang oportunis dan tentu saja sangat tragis.

Pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu membentuk budaya untuk mencintai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan masih saja dipandang sebagai sebuah alat untuk mencapai tujua. Menguasai ilmu tak lebih dari mendapatkan nilai bagus, IPK tinggi, dan berbagai alasan lainnya. Cost and reward yang selalu diukur dengan materi. Belum tertanam bahwa mempelajari ilmu pengetahuan merupakan hal yang penting, bahkan tanpa reward tertentu.

Pergeseran Budaya

Pergeseran budaya yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini, menyebabkan orang-orang mulai berpikiran pragmatis. Tujuan dipandang lebih penting daripada sebuah proses. Hal ini juga yang berpengaruh terhadap sistim pendidikan di Indonesia.

Sistim pendidikan Indonesia  yang ada selama ini lebih menekankan pada hasil dari tujuan yang ingin dicapai. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk evaluasi yang selama ini lazim digunakan di sekolah-sekolah. Hal ini tentu saja tak dapat disalahkan, namun setidaknya dapat diimbangi dengan sebuah sistem yang dapat membentuk pribadi yang matang.
Sistem pendidikan di Indonesia harus dibenahi kalau tak mau dikatakan harus diubah. Saat ini sudah bukan waktunya lagi mengajar seorang anak SD dengan 1+1=2, tapi lebih pada mengapa 1+1=2 dan bagaimana 1+1=2.

Evaluasi yang digunakan dalam sekolah-sekolah saat ini pun hanya sekedar untuk melihat hasil akhir. Siswa yang pandai adalah siswa yang dapat menjawab 1+1=2, sedangkan mereka yang menanyakan kenapa 1+1=2 akan dianggap sebagai anak bandel, biang onar, dan berbagai macam sebutan lainnya. Akibatnya, siswa cenderung hanya ingin menghafal materi-materi pelajaran tanpa ada keinginan untuk menggali lebih dalam ilmu itu sendiri.

Sebuah sistem pendidikan yang menekankan pada proses, tentu saja akan dapat lebih menghargai ilmu pengetahuan itu sendiri. Jika siswa sudah mencintai ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan pun pasti akan membawa dampak yang luas dalm kehidupannya. Kehidupan sosial pun akan turut terpengaruh jika masyarakat telah mencintai ilmu pengetahuan.

Warisan Kolonial

Sistem pendidikan yang dianut Indonesia saat ini tidak terlepas dari warisan kolonial di Indonesia. Pasca diterapkannya politik etis, sekolah-sekolah bagi pribumi mulai dibuka di Indonesia. Pemerintah ingini mendapatkan pekerja yang terdidik dengan upah yang rendah. Maka, pola pendidikannya sekedar menekankan pada kemampuan baca tulis serta menghitung ala kadarnya. Dengan kemampuan seperti itu, pemerintah kolonial akan terkurangi beban pekerjaannya, tetapi dengan cost yang lebih rendah.

Kemampuan baca tulis dan berhitung yang diasumsikan tak lebih dari syarat seorang pribumi untuk dapat menjadi pegawai pemerintah tingkat rendah, membentuk pola pikir masyarakat bahwa sekolah adalah untuk mendapatkan pekerjaan dan prestise. Menjadi pegawai pemerintah saat itu adalah sebuah prestise tersendiri bagi masyarakat. Walaupun, pekerjaan itu hanya sebatas pegawai rendahan.

Saat itu orang beramai-ramai masuk sekolah bukan karena ingin menguasai ilmu pengetahuan, ingin melepaskan diri dari penjajahan, atau ingin memajukan bangsa, tetapi karena ingin menjadi pegawai pemerintah. Dan sampai saat ini hal itu masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan lagi konsumsi material yang penting namun konsumsi simbol yang berhubungan dengan mitos identitas dan kenyamanan kelaslah yang menjadi pertimbangan konsumsi.

Dalam cara pandang hegemonian, kebudayaan global akan bersifat tunggal karena watak kapitalisme yang monolitik. Seluruh ekspresi kebudayaan termasuk ekspresi simboliknya akan mengacu pada ekspresi dominan dalam nama pasar. Tidak ada celah lagi untuk menjadi independen secara simbolik karena rekayasa elitis yang terlanjur disepakati oleh moralitas, kognisi, dan afeksi masyarakat bawah. Padahal, ketiga faktor inilah yang terpenting dalam memproduksi simbol.

Kebudayaan lokal yang tidak marketable akan terpinggirkan karena desakan kultur asing yang sangat  berorientasi keuntungan. Keterlibatan kolonialisme tidak hanya tampak dalam aktivitas militer dan ekonomi saja tapi justru lewat bentuk-bentuk pengetahuanlah kolonialisme itu ditegakkan. (*)

Berikut halaman dari rubrik kolom ini yang bisa didownload

majalah-opini-35-hal-39

majalah-opini-35-hal-40

*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: