Majalah OPINI

CERPEN : Antara Pagi dan Senja

Posted on: October 20, 2008

ilustrasi (ben)

PADA awalnya aku tak menyukai pagi dan sedikit membenci senja. Saat aku kecil, pagi seperti bel yang memaksaku terjaga dari kenikmatan bermimpi. Jika aku memilih bertahan buat bermalasan, maka ibuku akan segera menyanyikan nada sumbang. Kalau sedang beruntung ditambah khotbah singkat bapakku.

Sementara senja selalu memupus kesenanganku bersama kawan-kawan sepermainan. Orang-orang tua selalu bilang, ”Hampir malam waktunya sambikala!” Senja saatnya setan-setan mulai keluar dari sarang. Karenanya kami harus segera pulang, tak boleh lagi berkeliaran. Maka siapakah yang keliru, ketika kemudian kita takut pada gelap malam? Sejak kecil kita dihadapkan pada bayang-bayang yang menakutkan di balik kelam malam. Tapi bukankah memang demikian sifat manusia? Selalu takut pada hal yang tidak kita mengerti dan tidak bisa kita kuasai.

Seiring usia yang beranjak remaja, aku mulai sedikit menyukai pagi dan senja. Aku menyukai pagi, saat bertelanjang kaki menyusuri pematang menuju sekolah. Meski terkadang kurasa sekolah menyebalkan sebab mengharuskanku untuk selalu berpikir. Tetapi aku selalu menyukai saat berkumpul dan bercanda bersama teman-temanku.

Dan senja, aku selalu menunggunya. Saat aku berangkat ke mushola untuk mengaji. Bukan karena aku suka belajar ilmu samawi. Tapi karena sebuah senyum yang selalu kurindui. Untuk pertama kali hati berkenalan dengan hasrat pada makhluk bernama perempuan. Indah namanya, seperti juga indah senyumnya, gadis manis yang mengusik jiwaku yang masih hijau.

Di usia yang masih pagi dan jiwa masih setengah murni, tak banyak yang kami ingini. Cukuplah sekedar saling bertukar senyum. Rasa malu kami terlalu besar hingga menelan hasrat kami tuk bersama. Maka satu-satunya tempat untuk kami bercumbu mata dan memacu degup jantung hanyalah di mushola. Saat kami hendak mengaji.

Mungkin itulah yang dibilang cinta monyet. Bisa hinggap berpindah-pindah kapan saja dan dimana saja. Nyatanya tak ada lagi cemburu setelah sekian tahun berpisah, lalu kembali bersua. Dalam upacara pernikahannya yang sederhana namun indah dengan lelaki dari seberang desa. Hanya ada sedikit sekelumit senyuman mengingat kenangan kecil kami. Senyum malu-malu ketika bersitatap saat diajar Pak Kyai.

Saat pikirku mulai berkembang, pagi dan senja mengajarkan padaku lebih banyak hal. Pagi kumengerti sebagai awal hari. Di mana denyut kehidupan dimulai. Dan senja mengakhiri semuanya. Saat mentari berpulang ke peraduan, semua pelaku kehidupan pun kembali ke sarang. Pun demikan semua kan kembali berulang, esok kan kembali datang dan lagi-lagi berakhir di ujung mata senja.

Pagi dan senja seolah alarm pengingat buat kita. Kontradiksi yang menjadi ciri khas kehidupan. Selalu seiring sejalan meski mungkin tak searah. Setiap yang berawal pasti akan berakhir. Semua perjumpaan beresiko perpisahan. Setiap benih kehidupan pada akhirnya akan bertemu kematian. Dimana ada kebahagiaan maka di sana pastilah ada kesedihan. Ketika kita berani bercinta maka bersiap pulalah buat patah hati.

Hanya saja memang bukan hal mudah untuk menerima semuanya. Ikhlas menjadi kata yang mudah dilafalkan, namun selalu berat untuk dijalankan. Kita tertawa menghadapi perjumpaan, tapi lebih sering menangis saat perpisahan. Indahnya andaikan perjumpaan dan perpisahan kita hadapi dengan hati yang sama lapang. Bukankah pagi dan senja, keduanya sama indah?

Kita seringkali silau pada indah kehidupan dan takut akan kematian. Bahkan menangisinya dengan ketidakrelaan. Bukankah sesungguhnya itu hal yang tak terhindarkan? Seperti senja, ia akan selalu saja datang. Entah kita suka atau tidak. Yang berbeda hanyalah saat senja datang, kita tahu esok pagi kan kembali menjelang. Namun kematian membawa kita pergi dan tak kan kembali. Kalaupun ada pagi, maka itu adalah awal yang baru. Sesuatu yang tak bisa kita hayati dengan mata dan telinga.

Saat bahagia menyapa, kita sering terlupa buat bersyukur. Lalu ketika kesedihan menjelma, tak henti kita mengeluh dan bersumpah serapah. Bukankah keduanya pasangan yang selalu hadir berbarengan? Menjaga irama kehidupan agar tetap seimbang. Seperti pagi dan senja yang hadir silih berganti saling melengkapi.

Lalu saat jatuh cinta kita gembira tiada terkira. Seakan-akan waktu dan dunia milik kita. Terlupa bahwa satu waktu semua kan berakhir. Ketika cinta telah tercabut dari hati, maka remuklah jiwa. Seolah dunia pun telah runtuh di atas kita. Bukankah kita biasa menunggu senja seperti jua kita menanti fajar? Dan sama menikmatinya sebagai nada kehidupan yang terus mengalun sebagai perpaduan yang indah.

Setelah sekian pagi yang kulalui sepanjang hidupku, baru menemui keindahan yang sesungguhnya saat aku bersua denganmu. Di satu pagi yang ceria, berteman dingin angin. Kususuri jalan pedesaan bermusikkan kicau riang makhluk-makhluk pagi. Ketika kau muncul tiba-tiba. Seperti bayang-bayang keluar dari sebalik kabut. Kemudian menjelma nyata. Bermahkotakan embun. Dengan matamu yang bening, membawakan aura hangat fajar.

Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya. Sejatinya karena pagi yang indah maka perjumpaan itu kurasa sempurna ataukah keindahanmu yang menyempurnakan pagi itu? Yang aku tahu, pagi itu menjadi pagi terindah yang tak kan terlupa. Saat kita sama setengah terkejut. Saling bersitatap dan menikmati desir-desir di hati. Lalu bertukar satu senyuman sederhana namun cukuplah menjadi penyempurna hari kita.

Tak ada kata. Tak ada sapa. Rupanya keindahan rasa terlalu memukau kita. Terlalu rumit untuk melahirkan kata-kata. Perjumpaan yang bersahaja namun membaurkan harum bunga di kedalaman rasa. Keindahan yang lalu menjadi candu, memabukkan dan membuatku ketagihan. Membawakan hasrat untuk mengulang dan mengulang lagi. Lalu, seolah mengukir janji, perjumpaan demi perjumpaan kita lalui. Masih tanpa kata, kecuali senyuman dan tatap mata. Hanya sekilas, namun jauh di dasar hati aku merasa kita telah bertukar seribu kata. Seolah kita coba saling mengenali hati.

Hingga aku tak kuasa lagi menahan hasrat diri dan kupaksakan membuka kata. Meski kumulai hanya dengan kata ”HAI”. Tapi buatku itu lebih menyenangkan daripada obrolan seharian soal sepak bola yang kugandrungi. Berulang-ulang kuucap dan berulang pula kau jawab dengan senyum setengah malu-malu. Akhirnya kudapat namamu. Lintang.

Dan memang buatku kau bintang. Selalu kurindui di setiap malam. Tak henti kunanti pagi dan betapa aku ingin pagi lebih panjang. Biar bisa kunikmati waktuku bersamamu lebih lama. Bercanda dengan bintang-bintang yang berkedip di matamu. Mengenalmu, seperti kudapat pagi yang baru dalam hidupku.

Semakin kita dekat, kurasa kian banyak pendar-pendar warna dalam hidupku. Hingga akhirnya kita sepakat untuk berbagi senja bersama. Berdua menikmati malam mencumbui hari. Dan aku tahu. Kaulah yang aku ingin melengkapi separuh jiwaku. Denganmu ingin kuhabiskan sisa waktuku menghela nafas.

Dan ketika rasa tak lagi bisa dihela, aku katakan padamu.

”Saat pertama melihatmu aku hanya tahu bahwa aku menyukai keheningan matamu. Lalu terpesona senyum sahajamu. Meski di kedalaman hati kuberharap. Tetapi, kusangka kita tak kan lagi bertemu dan perjumpaan itu hanya buah kebetulan saja. Dan akalku berkata, ini hanyalah keindahan fatamorgana yang sesaat kan menghilang. Namun ternyata aku keliru, sebab kita terus bertemu. Lalu bunga-bunga bersemi di taman hatiku. Kian jauh mengenalmu, membuatku tahu. Kaulah bunga yang paling aku ingin mekar di tamanku dan mengharumi kamar hatiku. Lalu apa katamu?”

Kau hanya terdiam tersipu. Menunduk dan senyum malu-malu. Seolah sembunyikan rona merah di wajahmu. Namun aku tahu bahwa kita seiya. Sama ingin cinta yang sederhana. Dan aku bahagia. Kurasa lengkap sudah hari-hariku. Membuka pagi dengan senyummu dan menutup senja beriring hangat tawamu. Jadilah kita sepasang kekasih yang suka menghayati pagi dan senja bersama.

Kita jalani hari dengan banyak senyum dan tawa. Setiap hari kau ukir pelangi di langit jiwaku. Pertengkaran kecil dan sedikit cemburu yang kadang hadir, serupa riak kecil di lautan. Memperindah alunan gelombang yang menyapa di lautan rasa. Tak banyak memang kita bertukar kata, karena kita terbiasa berbicara dalam bahasa jiwa. Namun di sanalah hati kita bertukar makna sejatinya.

Hingga di satu senja yang temaram. Kau datang dengan mata berkaca-kaca. Tak banyak kata kau ucapkan. Kau hanya bilang, ”Aku harus pergi….Maafkan..” Seusai satu kecupan lembut di keningku sesaat lalu kau menghilang. Aku tak menahanmu. Aku tak bertanya. Seperti biasa, tak ada banyak kata. Seakan aku tahu tak ada yang bisa mencegahmu. Tak ada pula yang perlu kau bagi. Kau telah memilih membawa bebanmu sendiri.

Seolah menjadi gulita hatiku. Kemana perginya pagi? Kenapa malam kurasa kian panjang? Di setiap pagi, mengingat perjumpaan kita membuatku tersenyum. Bersyukur pernah mengenal keindahan itu. Namun ketika senja hadir. Aku terjatuh dalam kesyahduan. Bukankah semua yang terbit pada akhirnya memang akan tenggelam? Namun mengapa begitu sulit untuk menerimanya? Dan kehilangan membuat semuanya seakan-akan menjadi sia-sia tak bermakna. Meski sesungguhnya ada banyak nilai di sana.

Hitungan waktu telah berganti tahun. Seperti kata sang bijak, biarkan waktu kan menjawab. Luka ini mungkin telah mengering. Namun kenangan takkan pernah menghilang. Ada banyak bab dalam novel hidup kita. Ada banyak episode dalam kisah hidup kita. Ada episode yang indah dan penuh tawa. Ada episode yang berlinang air mata. Hanya terkadang kesedihan terasa lebih panjang. Dan membuat kita lupa bahwa kita pernah pula mengurai kebahagiaan. Tapi bukankah semuanya akan berakhir jua?

Kenangan, adakalanya terlupa dan terbiaskan oleh waktu. Namun hakikatnya ia selalu tersimpan dalam hati kita. Di sisiku mungkin telah ada yang lain. Tetapi kenangan kita tak kan terlupa. Mungkin kita telah membuka satu pagi yang indah bersama dan lalu kau menutupnya dengan senja yang syahdu. Namun, selalu saja ada pagi yang lain menunggu kita.

Dan bukankah sebenarnya kita semua hanya menunggu senja menjemput malam? Mengantar kita pada penghujung terang? Mestikah yang berakhir selalu berujung tangis? Tak bisakah kita buat perpisahan menjadi indah? Seperti senja. Aku hanya berharap satu. Dimana pun dan dengan siapa pun dirimu kini. Kau dan aku masih sama, selalu mengantar senja dengan senyum bahagia. Seperti dulu.

Bukankah kita selalu tersenyum saat pagi datang?

(Pinto Bass)

berikut halaman dari rubrik ini yang bisa didownload*

majalah-opini-35-hal-48

majalah-opini-35-hal-49

*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: