Majalah OPINI

Kekayaan Alam: Jangan Diekspoitasi Secara Berlebihan, Tetapi Juga Jangan Apatis

Posted on: October 20, 2008

ROBERT J. Kodoatie adalah pengajar S1, S2, dan S3 Teknik Sipil Universitas Diponegoro dengan spesialisasi Bidang Pengairan. Makalahnya tentang bahaya global warming pernah dipaparkan dalam Seminar Global Warming yang diselenggarakan oleh LPM Opini bekerja sama dengan BBC Indonesia. Crew OPINI berkesempatan mewawancarainya.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pendidikan lingkungan?

Salah satu hal mendasar yang harus dilakukan walaupun dalam jangka panjang dimulai dari TK, SD. Namun, sekolah sekarang tidak ada yang mengarah ke situ. Hal ini harus dikondisikan sejak dini sampai kuliah. Jangan baru kuliah ada pendidikan lingkungan, itu sudah terlambat. Jadi, harus diperkenalkan pendidikan lingkungan untuk pelestarian lingkungan.

Macam-macam bencana harus diperkenalkan pada tingkat TK, SD, SMA karena hal ini jadi penting mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki segala macam bencana. Tidak ada negara yang selain Indonesia yang mengenal segala macam bencana. Jadi, harus diperkenalkan sejak dini bagaimana bencana itu. Jangan kuliah baru dikenalkan.

Bagaimana operasionalisasi pendidikan lingkungan? Kepada siapa sajakah dan sejak kapan?

Sebagai contohnya dari TK, mudahnya, “jangan membuang sampah sembarangan, buanglah pada tempatnya”. Jadi nanti pakem, : ”Wah, nggak boleh buang sampah sembarangan, kata Bu Guru harus di situ.” Pendidikan seperti sekarang kurang, dulu ada lho!

Pendidikan budi pekerti, namun tidak berbasis lingkungan. Hal-hal demikian membuat kurangnya hormat pada alam, pada lingkungan. Alam jangan dieksplor secara berlebihan, namun juga jangan apatis, “Sudahlah, biarlah itu bukan tanggung jawab saya, tapi pemerintah”.  Hal  ini terjadi karena tidak diarahkan sejak dini.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pendidikan formal yang ada  di Indonesia? Sudahkah berpihak pada pelestarian lingkungan?

Ada salah satu yang saya anggap harus diubah mindsetnya, selama ini guru ngomong terus sehingga hanya terjadi komunikasi satu arah. Pengalaman saya di luar negeri seperti Kanada dan Amerika sudah ditanamkan komunikasi dua arah, yaitu diskusi. Sebagai contoh, di SD saja ada ruangan kursi duduknya melingkar yang setiap hari ganti. SMP murid mendatangi guru, bukan guru mendatangi murid. Sistemnya juga SKS, jadi murid juga dapat memilih mata kuliah sendiri, tapi ada yang wajib juga. Seharusnya Indonesia sudah mengarah ke situ dengan segala resiko. Dalam kurikulumnya juga harus terdapat pendidikan lingkungan, dari SD sampai kuliah.

Waktu saya penelitian di Amerika, di tempat yang sepi tidak ada orang, para peneliti membawa buah-buahan. Mereka mengupasnya, tapi kulitnya dikantongi, tidak dibuang sembarangan. Sehingga saya mengusulkan agar pada pendidikan mendasar seperti TK, SD, SMP yang menjadi proses pembentukan diri kita ada pendidikan lingkungan, jangan hanya tempelan saja. Mengenalkan alam bahwa alam harus kita hormati. Setelah itu kaitannya dengan bencana, yaitu bencana alam dan bencana alam akibat ulah manusia, seperti banjir, di mana anak dapat memahami secara mudah.

Apakah pendidikan di Indonesia sudah mengarah atau berpihak pada pendidikan lingkungan ?

Pendidikan lingkungan di Indonesia belum ada. Pendidikan lingkungan juga harus menye-luruh seperti penanganan bencana secara preventif dan represif.

Bagaimana  Indonesia menanggulangi bencana alam?

Kita selalu tidak siap terhadap bencana, selalu kedodoran ketika sudah terjadi. Coba, sekarang apa sudah ada persiapan untuk kekeringan? Padahal, nanti kekeringan akan parah. Harusnya kita sudah mempersiapkan sejak dini. Banjir dengan tingkat yang tinggi, maka kekeringan akan parah, secara teori pakemnya begitu. Harusnya pemerintah sudah memikirkan cukup nggak airnya untuk rakyat. Padahal, bangsa Indonesia semua bencana itu ada. Kita selalu bereaksi setelah ada bencana dan selalu kedodoran. Berarti itu kan represif, bukan preventif. Seharusnya ada standar-standar, pakem yang harus kita ikuti.

Seperti  di luar negeri, ketika kecelakaan terjadi, maka ambulans dan pemadam kebakaran akan datang. Itu sudah menjadi standar. Waktu saya kos di apartemen dan terjadi kebakaran, maka saya tidak boleh masuk kamar saya. Kamar saya sudah menjadi milik petugas dan mereka mempunyai kunci. Itu  yang dinamakan SOP (Standard Operational Procedure). Seharusnya di Indonesia ada SOP atau standar-standar untuk penanggulangan bencana. Mungkin bukunya ada secara teori, tapi tidak pernah disosialisasikan.

Bagaimana pendapat Anda mengenai sekolah alam?

Nggak, itu hanya aplikasinya. Secara universal itu berlaku untuk sekolah-sekolah TK, SD, yang umum secara spesifik tertentu. Itu bagian dari pola pikir kita tentang sekolah secara menyeluruh seperti itu. Secara umumnya, pendidikan lingkungan harus ditanamkan semenjak TK. Secara spesifiknya mungkin bisa diaplikasikan langsung pada alam. Pendidikan yang dilakukan harusnya dengan cara yang mudah, karena berpikir   secara mudah jauh lebih nyaman daripada berpikir secara susah.

(Penulis : Dewanto, Editor : Ayu, Lala)

Berikut halaman rubrik wawancara ekslusif yang bisa didownload

majalah-opini-35-hal-33

majalah-opini-35-hal-34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: