Majalah OPINI

Kepedulian Itu Sudah Ada…

Posted on: October 20, 2008

BERSIH_BERSIH-Murid SMP 1 Temanggung bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah (aRr. Anggita)

DALAM jangka waktu satu windu, bencana terjadi silih berganti di Indonesia. Mulai dari bencana tsunami, gempa bumi di Yogyakarta, lumpur Lapindo, hingga banjir yang selalu bertandang saat musim hujan. Kemudian, beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan kasus ilegal logging yang membuat hutan Kalimantan gundul.

Ternyata, meski banyak perusakan alam di Indonesia ini, masih banyak juga yang menganggap pelestarian lingkungan itu pen-ting. Putri, Rosa, Wahyu, Agustelev dan Musliyah adalah sebagian orang itu. Mereka tidak menganggap pelestarian sebagai sebuah hal yang berat.

Putri Oktaningtyas misalnya. Ia menyatakan bahwa berusaha membuang sampah pada tempatnya, tidak mencemari lingkung-an dengan rokok, serta menanam tumbuhan di sekitar rumah agar segar, juga merupakan kegiatan pelestarian lingkungan.

Begitu juga dengan Musliyah dan Rosa. Kegiatan kecil dan ringan seperti menghijaukan kampung, membuang sampah pada tempatnya, serta mengurangi penggunaan pupuk, bagi mereka adalah bentuk partisipasi mereka dalam melestarikan lingkungan.

Bahkan, kepedulian Agustelev dan Wahyu terhadap lingkungan membuat mereka berani menyatakan bahwa perlu diadakan pendidikan lingkungan.

“Pendidikan lingkung-an hendaknya dilakukan oleh seluruh kalangan dan usia. Pendidikan lingku-ngan perlu ditanamkan sejak usia dini, sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan selalu disiplin,” ujar Wahyu Setyaningrum, mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), angkatan 2007.

Pernyataan Wahyu Ini mendapat dukungan dari Robert J. Kodoatie. Peng-ajar S1, S2 dan S3 Teknik Sipil Universitas Diponegoro ini juga menyarankan agar pendidikan lingkung-an dimulai dari Taman Kanak-kanak (TK). “Hal ini harus dikondisikan sejak dini sampai kuliah. Jangan baru kuliah ada pendidikan lingkungan, itu sudah terlambat,” tegasnya.

Selain mendukung ada-nya pendidikan lingkungan, Agustelev juga menuntut peran serta pemerintah dalam mewujudkannya. Agustelev berpendapat, selama ini sudah ada konsep pendidikan lingkungan yang bagus di semua jenjang pendidikan. Namun menurutnya, pelaksanaan dari konsep tersebut tidak berjalan dengan benar karena adanya penyeleweng-an demi kepentingan pribadi.

“Peranan negara itu jelas. Negara itu ada presiden, ada dewan, ada majelis, ada mahasiswa, ada rakyat. Yang penting, negara harus punya kemampuan untuk me-rekrut orang-orang yang benar-benar mampu. Dalam arti, bukan hanya sekedar mampu berpikir, tetapi juga mampu menerapkan. Jadi, ada keseimbangan. Negara harus mampu merekrut orang-orang seperti itu,” tambah Agustelev Pratama.

Selama ini memang masyarakat lebih banyak berperan dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Masyarakat Tandang Ijen, Jombang, Semarang misalnya. Ibu-ibu rumah tangga di daerah ini mempunyai kegiatan sampingan, yaitu men-daur ulang sampah plastik. Kemudian kegiatan membagikan tas kertas oleh Forum Rembug Himpunan Mahasiswa Jurusan  (FRH) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip. Juga kegiatan lain yang telah dilakukan oleh Putri, Rosa, Wahyu, Agustelev dan Musliyah.

Masyarakat yang peduli lingkungan ini tidak berharap terlalu muluk atas pelaksanaan pendidikan lingkungan. Harapan-harapan me-reka cukup sederhana dan harusnya mampu dipenuhi pemerintah kita.

“(Pendidikan) Yang betul–betul berwawasan lingkungan. Jangan cuma teori dan seminar, tapi praktek lebih ba-nyak. Jangan pakai gas waktu minyak mahal. Kurangi plastik,” ucap Rosa tegas menyatakan harapannya.

“Harapan saya yang jelas satu. Buatlah konsep yang baik, pemikir yang baik, mencari pejabat yang bisa memberikan keteladanan, ini yang penting,” ujar Agustelev. ”Yang paling penting sekarang adalah menyiapkan generasi muda untuk kembali menata lingkungan. Kemudian yang kedua, sudah pasti lingkungan yang rusak harus dikembalikan. Artinya, segala sesuatu yang tidak pada tempatnya, seperti perusakan hutan dan lain–lain diatur kembali dengan tata laksana kehutanan. Semuanya itu penting.”

(Penulis: Dewanto. Reporter: Gendis, Benediktus dan Fitri. Editor : Ayu, Sita)

Berikut Halaman rubrik ini yang bisa didownload

majalah-opini-35-hal-30

majalah-opini-35-hal-31

majalah-opini-35-hal-32

*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: