Majalah OPINI

Mahasiswa Versus Masyarakat

Posted on: October 20, 2008

Oleh : Lailatul Qomariyah
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah OPINI

Lailatul Qomariah (dok/opini)

Lailatul Qomariah (dok/opini)

ADA realitas tak terbantahkan yang menunjukkan tidak semua mahasiswa memiliki ketersadaran akan perannya di masyarakat, terutama bangsa ini. Memprihatinkan sekali ketika penulis melihat seorang mahasiswa yang kembali ke dalam masyarakat, tapi merasa terasing dengan lingkungan yang telah membesarkannya.

Mereka hidup dengan status sosial baru yang tidak lagi menyentuh masyarakat, terutama kelas bawah. Masyarakat yang seharusnya mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan dari mereka para golongan terpelajar. Mereka hidup di menara gading tanpa memahami keadaan masyarakatnya. Akibatnya, masyarakat kita menjadi terkotak-kotak antara rakyat biasa dengan golongan terpelajar, antara yang modern dengan yang tradisional.

Hal ini disebabkan mahasiswa Indonesia terhinggapi virus pragmatisme dan apatisme. Di sisi lain, sistem pendidikan yang berlaku cenderung mendukung tersebarnya virus pragmatisme dan apatisme karena sepertinya hanya membentuk mahasiswa yang pintar dan terampil serta berorientasi kerja untuk memenuhi permintaan pasar.Virus ini telah sukses menggiring mahasiswa ke sisi tragis mahasiswa. Tragis karena virus ini telah berhasil “membunuh” atau setidaknya “membonsai” karakter khas mahasiswa, yakni idealisme dan daya kritis.

Kita menyaksikan mahasiswa yang terasing dari masyarakatnya. Mereka berusaha lulus cepat, tetapi hanya untuk mengisi barisan pencari kerja, tidak peduli dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, individualis bahkan hedonis. Mahasiswa seperti inilah yang disebut oleh Hariman Siregar dengan mahasiswa mental kerupuk.

Mereka mungkin tercerahkan secara akademis atau intelektual, tetapi mereka belum tercerahkan secara moral dan politik. Mereka bukannya tak bermoral atau tak berpolitik. Namun moralitas tersebut pasif, tidak memiliki elemen vital yang melahirkan gerak. Kalau pun mereka berpolitik, aktivitas politiknya didasari anggapan bahwa politik itu 100% kotor, jijik, dan tidak mungkin ada politik yang bersih.

Dari sinilah dibutuhkan sebuah rekayasa sosial yang konseptual dan sistematis untuk melakukan pencerahan moral dan politik terhadap mahasiswa, sehingga mereka menyadari tanggung jawabnya yang bukan sekedar tanggung jawab akademis, namun juga tanggung jawab sosial, moral, politis serta kesejarahan. Keseluruhan tanggung jawab tersebut inheren dalam diri mahasiswa seiring dengan berubahnya status dan identitas menjadi mahasiswa. Keseluruhan tanggung jawab tersebut merupakan konsekuensi identitas mahasiswa.

Yang Tercerahkan

Mahasiswa adalah generasi pemimpin yang akan menjalankan negeri ini. Mereka yang menciptakan gagasan-gagasan besar, menjadi motor penggerak dan menggulirkan perubahan di negeri ini. Merujuk pendapat Ali Syari’ati, kepemimpinan suatu bangsa harus dipegang oleh orang-orang yang tercerahkan (rau-syanfikr). Siapa yang tercerahkan itu? Dialah orang yang sadar akan keadaan kemanusiaan (human condition) di masanya, serta setting kesejarahannya dan kemasyarakatannya. Kesadaran tersebut dengan sendirinya akan memberi tanggung jawab sosial. Jika ia seorang mahasiswa maka ia akan menjadi golongan yang berpengaruh terhadap lingkungannya.

Orang yang tercerahkan bukanlah golongan ilmuwan, filsuf, seniman, mistikus, pendeta, ustad, ataupun ulama yang terbelenggu dalam konsep-konsep abstrak dan tenggelam dalam penyelidikan-penyelidikan dan penemuan-penemuan ilmiah atau batiniah mereka sendiri.

Mereka adalah individu-individu yang sadar dan bertanggung jawab, untuk membangkitkan karunia Tuhan yang mulia, yaitu kesadaran diri dari masyarakat. Hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi kekuatan dinamis dan kreatif. Perubahan itu, pada akhirnya, akan melahirkan jenius-jenius besar yang kelak akan menciptakan peradaban, kebudayaan, dan tokoh-tokoh yang besar.

Orang yang tercerahkan harus bertindak layaknya nabi bagi masyarakatnya. Dia harus menyerukan kesadaran, kebebasan, dan keselamatan bagi rakyat yang tuli dan tersumbat, menggelorakan suatu keyakinan baru di dalam hati mereka dan menunjukkan kepada mereka arah sosial dalam masyarakat mereka yang mandeg.

Mereka mempunyai tanggung jawab yang pasti: memahami status quo, menemukan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam dan daya manusia untuk memperbaiki kehidupan material rakyat. Mereka mengajarkan kepada masyarakat bagaimana caranya berubah dan akan ke mana perubahan itu. Mereka menjalankan misi ‘menjadi’ dan merintis jalan dengan menjawab pertanyaan, ‘ akan menjadi apa kita ini?’

Orang yang tercerahkan bukanlah seorang ilmuwan yang telah belajar ke luar negeri, yang dengan pengetahuannya bisa mengisi kuliah di mana-mana, bukan pula seorang yang ahli dalam berbagai bidang keilmuan, tetapi tidak memahami kondisi masyarakatnya. Dengan keahlian yang mereka tidak dengan sendirinya membawanya ke titik pemahaman akan penderitaan batin masyarakatnya atau memungkinkannya untuk melahirkan kesadaran diri pada rakyat, mengarahkan tujuan dan cita-cita bersama mereka.

Orang yang tercerahkan bukan pula seorang ulama yang hanya berlindung di balik eksistensi keyakinan agamanya. Mereka melakukan upacara-upacara keagamaan, memberi slogan-slogan, dan melakukan indoktrinasi kepada masyarakat sehingga masyarakat tenggelam dalam keadaannya sendiri. Orang-orang yang menindas rakyat atas nama agama, membenarkan pemerintahan yang korup atas nama agama, dan meraih kekuasaan atas nama agama juga.

Tanggung jawab besar orang yang tercerahkan adalah menentukan penyebab keterbelakangan, kebobrokan, dan kemandegan masyarakatnya. Mereka harus mampu mendidik masyarakatnya yang bodoh dan masih tertidur, mengenai alasan-alasan dasar bagi nasib sosiohistoris mereka yang tragis. Dengan mengetahui kondisi masyarakatnya, ia harus mampu menentukan pemecahan-pemecahan rasional yang akan memungkinkan rakyatnya membebaskan diri dari status quo.

Berdasarkan pemanfaatan yang tepat atas sumber-sumber daya terpendam di dalam masyarakatnya dan diagnosis yang tepat pula atas penderitaan rakyat. Dia harus bisa menemukan hubungan sebab-akibat antara kesengsaran, penyakit sosial, kelainan-kelainan serta berbagai faktor internal maupun eksternal lainnya. Akhirnya, orang yang tercerahkan harus mengalihkan pemahaman, tidak hanya dalam komunitasnya saja, tetapi juga  ke dalam masyarakat secara keseluruhan.

Peran rausyanfikr dalam perubahan masyarakat dalam pemikiran Ali Syari’ati, sebangun dengan apa yang pernah dibayangkan oleh Antonio Gramsci tentang intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual menjadi dua kategori, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi. Sebaliknya, intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili.

Intelektual organik itu, menurut Gramsci, tidak harus mereka yang fasih berbicara dan berpenampilan seorang intelektual, tetapi lebih dari itu, yaitu mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasehat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak. Dari mana kita harus memulai? (*)

berikut halaman rubrik ini yang bisa didownload*

majalah-opini-35-hal-43

majalah-opini-35-hal-44

*karena ukuran yang cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: