Majalah OPINI

Menemukan Kembali Indonesia

Posted on: October 20, 2008

Oleh: Turnomo Rahardjo*
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undip

Dr. Turnomo Rahardjo (ist)

Dr. Turnomo Rahardjo (ist)

“KITA boleh mengatakan tahun ini (2008) merupakan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 63 tahun kemerdekaan Republik Indonesia dan penegasan INDONESIA BISA oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Namun dalam realitasnya, apakah Indonesia kita sudah bangkit, sudah merdeka, dan sudah BISA? Pertanyaan ini perlu diajukan dengan melihat kondisi negara kita sekarang ini yang tidak kunjung berubah ke arah yang lebih baik.”

MASIH banyak persoalan besar yang dihadapi bangsa ini dan penyelesaian yang diupayakan negara ini tidak kunjung tuntas. Masalah keamanan, sosial, ekonomi, politik dan moral saling terkait satu sama lain, sehingga sulit untuk mengurainya. Korupsi sudah sedemikian parah, penegakan hukum masih sebatas harapan, kualitas kesehatan masyarakat masih memprihatinkan, dan kemiskinan masih ada di mana-mana.

Itulah beberapa persoalan yang dihadapi oleh negeri ini. Imam B. Prasojo, sosiolog Universitas Indonesia, mengkhawatirkan bila berbagai persoalan itu tidak segera diatasi, maka Indonesia akan memasuki suatu keadaan yang dikenal dengan “darurat kompleks” (complex emergency), yaitu situasi yang dihadapi oleh suatu negara sudah sedemikian gawat, sehingga perlu penangan-an yang cepat dan komprehensif. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Indonesia kita sudah berada dalam keadaan “darurat kompleks” tersebut.

Persoalan besar lain yang dihadapi Indonesia kita sekarang ini adalah pertikaian antarkelompok yang intensitasnya cenderung meningkat belakangan ini. Ketika konflik yang banyak disebut orang sebagai konflik antaragama dan antaretnis (Poso, Sambas, Sampit) sudah mereda (mudah-mudahan sudah selesai dan bukan latent conflict) sekarang ini muncul benih-benih permusuhan antarkelompok yang baru.

Peringatan lahirnya Pancasila di Jakarta, 1 Juni 2008 yang lalu, diwarnai dengan tindak kekerasan fisik yang melibatkan Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM juga memicu permusuhan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dimaksudkan sebagai sarana memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memilih pemimpin mereka secara langsung juga tidak lepas dari pertikaian.

Ketidakpuasan satu kelompok terhadap kelompok yang lain diekspresikan dalam bentuk penggalang-an massa secara kolosal (mobokrasi) untuk pamer kekuatan dan tidak jarang melakukan tindakan anarkis. Ringkasnya, konflik horizontal dalam bentuk kekerasan komunal telah menjadi bagian dari di-namika Indonesia sekarang ini.

Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari permusuhan antarkelompok tersebut? Sifat dari konflik tersebut sudah mengarah pada upaya untuk ”menghilangkan” satu kelompok. Sungguh suatu hal yang ironis, ketika kita dalam banyak kesempatan sa-ling membanggakan diri sebagai bangsa yang santun, ramah, dan beradab. Namun dalam kenyataannya, kita justru melakukan tindakan yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan.

Potensi konflik yang besar dalam masyarakat pluralistik Indonesia disebabkan oleh terbelahnya masyarakat ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan identitas kultural, baik dalam lingkup kebangsaan, keagamaan, maupun afiliasi politik.

Identitas kultural yang dimaksud (Ting-Toomey, 1999:30) adalah perasaan atau emotional significance dari individu-individu untuk ikut memiliki (sense of belonging) atau berafiliasi dengan kultur tertentu. Masyarakat yang terbelah ke dalam kelompok-kelompok kemudian melakukan identifikasi kultural, yaitu menegaskan diri mereka sebagai representasi dari sebuah budaya partikular.

Menurut Rogers & Steinfatt (1999:97), identifikasi kultural ini pada gilirannya akan menentukan mereka ke dalam ingroup atu outgroup. Bagaimana setiap orang berperilaku, sebagian ditentukan oleh apakah mereka termasuk ke dalam kelompok budaya tertentu atau tidak.

Dalam sosiologi dikenal istilah crosscutting cleavage, yaitu masyarakat yang terkonsentrasi secara eksklusif berdasarkan identitas kulturalnya. Crosscutting cleavage ini memudahkan terjadinya penggalangan massa ketika terjadi konflik yang melibatkan anggota-anggota dari kelompok kultural yang berbeda. Masyarakat yang terbelah ke dalam dikotomi ingroup dan outgroup secara kultural akan relatif sulit mencapai keter-paduan sosial (social cohesion). Sebab, masing-ma-sing kelompok berada pada wilayah pergaulan yaang eksklusif, sehingga tidak intensif dalam menjalin komunikasi antarbudaya yang efektif, yaitu komunikasi yang dimaksudkan untuk mengurangi kesalahpahaman budaya (cultural misunderstanding), tetapi justru melakukan penghindaran komunikasi (communication avoidance).

Konflik antarkelompok yang datang silih berganti, dalam perspektif komunikasi antarbudaya disebabkan oleh terjadinya komunikasi yang terpolarisasi (polarized communication). Komunikasi yang terpolarisasi muncul ketika pihak-pihak yang bertikai tidak mampu untuk meyakini atau secara serius menilai pandangan satu pihak sebagai salah dan pendapat pihak lain yang benar. Perilaku komunikasi seperti ini akan menciptakan ”kita benar” dan ”mereka salah”. Komunikasi yang terpolarisasi terjadi ketika satu pihak memberi penekanan kepada kepentingan mereka sendiri dan hanya sedikit atau tidak memberi perhatian kepada kepentingan pihak lain.

Apa yang dibutuhkan untuk menemukan kembali Indonesia kita? DIALOG. Gagasan mengenai pen-tingnya dialog dikemukakan oleh seorang filsuf Rusia, Mikhail Bakhtin (Littlejohn & Foss, 2005). Ia mengontraskan antara dialog dengan monolog. Monolog terjadi ketika sebuah interaksi menjadi statis, tertutup dan mati. Monolog terjadi karena hilangnya many voices, tema-tema menjadi dogmatis dan tidak ada pengayaan bersama (mutual enrichment) dari pihak-pihak yang berinteraksi. Sebaliknya, dialog mere-presentasikan pokok persolan yang sesuai dengan konteks, berkelanjutan dan berkembang. Bakhtin memahami kehidupan sebagai dialog yang berkelanjutan (unfinizable). Beberapa persoalan pokok seperti ”Siapa saya?”, ”Siapa kita?”, ”Bagaimana sifat hubungan kita dengan orang lain?” merupa-kan isu-isu yang secara berkelanjutan dinegosiasikan dalam dialog.

Dialog menciptakan kesetaraan. Tidak ada dikotomi antara kelompok superior dengan kelompok inferior. Tidak ada kelompok mayoritas yang berhadapan dengan kelompok minoritas. Indonesia butuh jalinan persaudaraan antarkelompok. Dialog adalah jalan menuju Indonesia yang bangkit, merdeka dan BISA. (*)

Berikut Rubrik Telaah Jurusan yang bisa didownload

majalah-opini-35-hal-18

majalah-opini-35-hal-19

majalah-opini-35-hal-20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: