Majalah OPINI

Menyoal Pendidikan yang Berbasis Gender

Posted on: October 20, 2008

Oleh : Rahmi Nuraini
Litbang Opini 2008/2009 dan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi


SEMESTER
lalu penulis mengikuti kuliah Komunikasi Gender sebagai mata kuliah pilihan. Yang menarik adalah mata kuliah ini dianggap sebagai mata kuliah yang sulit. Hingga tidak banyak mahasiswa yang berniat untuk mengambilnya. Dalam perkuliahan pun banyak hal menarik yang membuat penulis menjadi lebih tertarik untuk mendalami masalah gender. Masalah yang seringkali dianggap sebagai ancaman karena berani mempertanyakan sebuah kemapanan.

Gender sendiri merupakan pelabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Dasar sosialisasi ini secara kuat telah membentuk ideologi gender, melalui kontruksi sosial yang melembaga. Misalnya, perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, jantan. (Fakih, 2006 : 8).

Perempuan dikontruksikan sebagai makhluk yang perlu dilindungi, kurang mandiri, tidak rasional, hanya mengandalkan perasaan, dan lain-lain. Konsekuensinya, muncul batasan-batasan yang menempatkan perempuan pada ruang penuh dengan aturan baku yang perlu dijalankan. Padahal, banyak sisi positif dari perempuan yang membedakannya dengan laki-laki dan jarang diekspos. Yaitu watak dan karakter perempuan yang terbuka, tekun, penyabar dan jujur.

Perempuan dan laki-laki dibedakan atas dasar kepantasannya. Kemudian dibuatkan label yang ditempelkan pada masing-masing jenis untuk membedakan dan menciptakan pandangan stereotif bagi laki-laki dan perempuan. Pandangan stereotip ini kemudian mengaburkan pandangan terhadap manusia secara pribadi, karena memasukkan setiap jenis manusia dalam kotak stereotip.

Oleh karena itu, seorang pribadi baik perempuan dan laki-laki dianggap tidak pantas apabila “keluar dari kotak tersebut”. Ia akan merasa bersalah, apabila tidak memenuhi kehendak sosial dan label yang diciptakan. Pandangan ini terus dibakukan melalui tradisi berabad-abad, sehingga dianggap kodrat yang tidak dapat diubah. Seolah-olah ciri perempuan dan laki-laki sudah terkunci mati.

Pada dasarnya, selama pandangan ini tidak mengarah pada hubungan yang tidak adil, tidak menjadi masalah. Namun ternyata, perbedaan ini menciptakan diskriminasi yang timpang dengan pihak perempuan pada posisi yang dirugikan. Dalam buku Analisis Sosial dan Tranformasi Sosial (2006, 13) disebutkan bahwa ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yaitu marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi dalam keputusan politik, pembentukan stereotip dalam pelabelan negatif, kekerasan, pembebanan kerja yang lebih panjang serta sosialisasi nilai peran gender.

Diskriminasi ini apabila tidak dipersoalkan akan menjadi keras dan keji, akhirnya sampai pada tindakan yang tidak manusiawi (dehumanisasi) bagi perempuan dan bahkan bagi laki-laki.

Marginalisasi perempuan, telah menempatkan atau menggeser perempuan ke pinggiran. Akibatnya, perempuan selalu dinomorduakan apabila ada kesempatan untuk memimpin. Perempuan selalu menjadi second class yang dinomorduakan ketika bersanding dan berkompetisi dengan laki-laki, hingga muncul kejenuhan-kejenuhan dari perempuan untuk memperjuangkan kepentingannya. Akhirnya, tak banyak yang bertahan di garda depan menyuarakan nasib perempuan. Sementara yang lain menyerah dengan berkompromi atau lebih buruk menerima konstruksi sebagai kodrat yang terberi.

Media pun dalam hal ini turut memperkuat konstruksi perempuan yang demikian, baik melalui tayangan maupun iklan yang dibuat. Misalnya, bagaimana perempuan dikonstruksi harus menjadi cantik melalui iklan-iklan kosmetik dan bagaimana perempuan harus menjadi ibu rumah tangga yang baik melalui iklan-iklan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, tidak banyak pihak yang sadar akan hegemoni gender yang telah menyetir kehidupan perempuan. Dari sini, perlu diupayakan pendidikan yang berbias gender, yaitu dengan tidak melakukan pembedaan atas perempuan dan laki-laki serta berupaya membongkar strereotip yang timpang.

Sebenarnya pendidikan berbasis gender jangan diterjemahkan sebagai upaya perempuan melawan laki-laki. Bukan demikian. Namun, bagaimana perempuan dapat mendapatkan kesetaraan nonkodrati. Yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan  perlindungan, pelayanan dan kesejahteraan kaum perempuan.

Senada dengan empat agenda yang menjadi fokus pemerintah dalam mengupayakan persamaan gender. Pertama, perlindungan terhadap kaum perempuan dari kekerasan, kejahatan dan tindakan yang ekstrim. Kedua, peningkatan kualitas hidup perempuan sesuai dengan indeks pembangunan manusia. Ketiga, memajukan dan mengembangkan kaum perempuan di segala bidang baik politik, ekonomi maupun sosial. Keempat memastikan bahwa tatanan kehidupan UU dan peraturan lainnya harus adil, tidak bias gender, dan tidak diskriminatif.

Jika perempuan tidak diberikan kesempatan berprestasi dan berkontribusi kepada bangsa dan negara, sebagaimana juga kaum lelaki, program pemerintah tersebut tidak akan mungkin tercapai.

Pendidikan gender sendiri merupakan salah satu upaya dalam mendekonstruksi ideologi, yaitu mempertanyakan kembali segala sesuatu yang menyangkut nasib perempuan di mana saja, pada tingkat dan bentuk apa saja, berbasis pendidikan kritis (critical education). Pendidikan ini dapat membantu perempuan memahami pengalaman dan menolak ideologi serta norma yang dipaksakan pada mereka (Weiler, 1988 dalam Fakih, 2006 : 152). Di mana tujuan akhirnya adalah untuk melahirkan gagasan dan nilai baru yang menjadi dasar bagi transformasi gender. (*)

(http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=733)

Berikut Halaman rubrik kolom yang bisa didownload*

majalah-opini-35-hal-41

majalah-opini-35-hal-42

*karena ukuran yan cukup besar lebih baik halaman didownlad untuk lebih memudahkan anda membacanya. untuk mendownload halaman ini silahkan klik kanan pada halaman majalah yang ingin anda simpan, lalu save link as muncul kotak silahkan disave di folder yang anda inginkan.

1 Response to "Menyoal Pendidikan yang Berbasis Gender"

Pemahaman itu bisa dengan mudah diterapkan dalam kehidupan barat dengan pola pikirnya.

Namun saya rasa di Indonesia masih amat jauh dari kemampuan untuk menyetarakan jender, sebab hambatan bukan saja dari kaum laki-laki namun seringkali timbul dari sikap-sikap yang ditunjukkan oleh perempuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: