Majalah OPINI

Sekolah Alam AR-RIDHO : Belajar Bersama Alam Kreativitas Adalah Kata Kuncinya

Posted on: October 20, 2008

SEKOLAH ini terlihat sederhana. Di depan bangunan sekolah, kita akan disambut dengan gapura sederhana bernuansa pedesaan. Nama sekolah yang tertera di gapura pun tak terlihat jika kita tidak mendekat sekitar 10 meter. Sekolah alam AR-RIDHO namanya.

SEKOLAH alam AR-RIDHO berdiri pada tahun 2000. Awalnya, sekolah ini merupakan Taman Kanak-kanak (TK) biasa. Namun, besarnya keinginan untuk mengembangkan kemampuan siswa-siswanya, membuat Nurul Hamdi beserta istrinya, Mia Inayati, membangun Sekolah Dasar (kelas 1 sampai dengan 6) dan Sekolah Menengah Pertama (kelas 1 sampai dengan 2) yang berbeda dari sekolah pada umumnya.

Terinspirasi Al-Qur’an, seperti ajaran mencermati, mempelajari, merenungi, dan memberdayakan alam sekitar, maka Nurul Hamdi menerjemahkan bahwa manusia harus akrab dengan alam.

“Para penemu itu akrab dengan alam, contohnya Albert Einstein, kalau apel tidak jatuh di atas kepalanya, ya dia tidak dapat ilmunya,” ujarnya ramah.

Menurut bapak yang menjadi dosen di POLINES ini, model belajar di lembaga pendidikan formal sekarang tidak natural lagi. ”Ketika ada di kelas, 90 % mahasiswa bukan pencipta sesuatu. Namun berposisi sebagai penghafal materi pelajaran yang baik. Mereka pandai melaksanakan perintah. Hanya beberapa gelintir mahasiswa yang mengerti inovasi-kreasi,” tambahnya. Ia berpendapat bahwa ciri khas manusia adalah berpikir dan berlogika. Ciri ini harus dilatih sejak awal. Jika tidak, maka manusia itu akan keluar dari fitrahnya sebagai manusia.

Ia juga menyatakan bahwa ada pengaruh pendidikan dasar yang tidak mengembangkan potensi manusia tetapi menggerakkan potensi manusia. ”Akibatnya, kita tidak berkembang,” tegasnya. Dia mencontohkan orang yang diajarkan untuk menghitung tetapi tidak pandai berlogika. Misalnya, rumus luas segi empat adalah sisi x sisi. Ketika diperintahkan menghafal, pasti dilakukan dengan baik. Namun, ketika di dalamnya diletakkan bangunan, mereka menjadi terbata-bata menjawab rumus luas bangunan yang baru.

Prinsip-prinsip itulah yang dite-rapkan Nurul Hamdi di Sekolah alam AR-RIDHO. Sekolah ini berusaha untuk mendidik generasi muda menjadi lebih handal dan memelihara siswa untuk menjadi manusia orisinil yang berpikir adalah hakikat manusia untuk bertemu dengan Tuhannya. Siswa belajar untuk dekat dengan penciptanya dan menghasilkan karya di sekolah ini.

Disinggung mengenai status lulusan Sekolah Alam AR-RIDHO, pria yang berjenggot ini berujar tidak ada masalah. ”Kita kan sekolah swasta, yang SD saja akreditasi A. Sedang yang SMP akreditasi belum diloloskan pemerintah. Tapi kita sudah ada izin formal atau izin operasionalnya. Jadi status lulusan disamakan.”

Model pembelajaran sekolah alam ini pun ternyata cukup unik. Hari aktif belajar dari Senin hingga Jumat. Siswa TK pulang pukul 11.00, siswa SD setelah Dzuhur, sedangkan Siswa SMP seusai Ashar. Setiap hari Sabtu untuk siswa SD dan hari Kamis untuk siswa SMP, ada kelas khusus. Kegiatan di kelas ini menyerupai kelas minat dan bakat. Setiap siswa diperbolehkan memilih bidang pelajaran yang disukainya. Ada bidang tata busana, memasak, fotografi, olah tanaman, teater, dan lain sebagainya.

Para siswa pun sangat menikmati proses pembelajaran di sini. Rahma, salah satu siswa SD kelas 3A mengatakan hari sekolah paling menyenangkan adalah hari Sabtu. ”Enaknya pas waktu meluncur itu lho, waktu meluncur ke bawah,” ujarnya dengan malu-malu saat menceritakan pengalamannya ber-flying fox.

Pada dasarnya anak-anak seusia mereka memang suka bermain bersama teman sebayanya. Sekolah ini tidak menghilangkan kultur itu. Selain itu, Nurul Hamdi, menerapkan prinsip bahwa, 50 % waktu sekolah dihabiskan di lapangan. Inilah yang unik dari sekolah alam ini.

Penerapan model belajar di luar sekolah ini salah satunya dengan merawat kebun. Kegiatan ini dimulai dengan menanam tanaman. Siswa lah yang menyiapkan segalanya. Mulai dari alat, benih, dan sebagainya. Kemudian, mereka menyepakati jenis tanaman yang akan ditanam. Di sini siswa berlatih memakai logika dan melakukan aktivitas berpikir. Terakhir, mereka melakukan diskusi dengan teman tentang bagaimana tanaman akan ditanam dan diperlakukan.

Setelah beberapa hari, siswa harus menulis laporan (collecting data) dari kegiatan yang mereka lakukan. Tidak ada satu ukuran baku yang harus dipatuhi. Siswa melakukan semua kegiatan berdasarkan cara mereka masing-masing. Misalnya, cara mengukur tanaman. Karena sebelumnya tidak dijelaskan tentang cara mengukur menggunakan penggaris misalnya, ada siswa yang mengukur nya dengan menggunakan benang.

Aktivitas seperti ini secara tidak sadar merupakan mata pelajaran praktek bagi siswa. Diskusi seba-gai praktek belajar Bahasa Indonesia, menulis laporan sebagai latihan menulis, dan menghitung pertumbuhan tanaman sebagai cara menyenangkan belajar matematika. Jadi, kebun itu merupakan sarana penghantar pelajaran, seolah-olah siswa adalah penemu cilik.

Sekolah ini memang membudayakan siswanya menjadi seorang ilmuwan. Jika ada bakat tersembunyi pada siswa, pasti segera terlihat. Nurul Hamdi mencontohkan satu peristiwa. Dulu pernah ada siswa yang menceritakan tanamannya yang patah dalam buku laporannya. Dalam buku laporan, siswa itu menuliskan rasa sesalnya karena ketidaktekunannya merawat tanaman, dan siswa itu berjanji untuk tidak me-ngulanginya. Peristiwa ini merupakan pertanda bahwa siswa ini memiliki bakat dan minat ke arah sastra.

Sekolah alam yang beralamat di Jalan Kelapa Sawit 1 blok A4 ini ternyata juga mempunyai segudang prestasi. Piala untuk juara menulis resensi tingkat Jawa Tengah ada di ruang tamu kepala sekolah. Sebagai Kepala Sekolah di sekolah ini, Nurul Hamdi cukup bangga akan hal ini.

”Kalau lombanya mengasah kreativitas anak pasti kita ikut berpartisipasi. Lomba jenis Cerdas Cermat tidak kami ikuti, karena itu bukan bidang kami, sifatnya hafalan. Kita juga pernah menang lomba gambar. Yang menang juga anak sekolah ini. Gambarnya memiliki makna yang cukup dalam. Siswa itu menggambar sebuah pulau yang dihuni anak kecil dan ayahnya. Saat disuruh menjelaskan gambar, siswa itu berceritanya ayah dan anak sedang melakukan penelitian di pulau. Mereka mendarat menggunakan helikopter,” terang Nurul Hamdi. ”Sungguh jarang terpikirkan oleh anak-anak seusia mereka,” tambahnya.

Jumlah keseluruhan guru di sekolah ini ada tiga puluh lima orang. Sepuluh orang mengajar di kelas taman kanak-kanak, delapan belas orang di sekolah dasar, dan tujuh orang berada di kelas sekolah menengah pertama. Mia Inayati, istri Nurul Hamdi sekaligus direktur sekolah alam ini optimis sekolahnya akan berkembang lebih baik. Bahkan ia menyatakan guru-guru mulai kewalahan menghadapi siswa yang bertambah banyak tiap tahunnya.

Sebenarnya banyak sekali cara seseorang untuk mendapatkan ilmu. Tak hanya dari sekolah formal yang sering kita jumpai di lingkungan sekitar. Rumah dan keluarga adalah tempat paling potensial manusia mendapatkan ilmu. Tentu saja tergantung dari niat individu tersebut untuk mendapatkan ilmu. Yang terpenting adalah kreativitas manusia harus dikembangkan, karena setiap manusia memilki bakat tersembunyi yang tak dapat diduga kehebatannya.

(Penulis : Nina, Editor : Ayu, Sita).

1 Response to "Sekolah Alam AR-RIDHO : Belajar Bersama Alam Kreativitas Adalah Kata Kuncinya"

buat crew OPINI,
thx berat dah datang dan capek2 menulis ttg kita.
semoga bermanfaat dan memberi pencerahan pendidikan kita.

tetep semangat menulis ya…!
salam buat temen2 Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

October 2008
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Tentang Kami

LPM OPINI adalah Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang Berdiri tanggal 23 April 1985. LPM OPINI Berlalamtkan di Jl. Imam Bardjo no 1 Semarang. LPM OPINI hadir ke tengah-tengah para pembacanya. Sebagai sebuah LPM OPINI yang independen, berdiri sendiri dan menjadikan prinsip-prinsip jurnalistik dalam setiap peliputan beritanya. dengan menganut UU Pers sebagai acuan dan Kode etik wartawan Indonesia, LPM OPINI terus berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan terbaru. Sebagai sebuah media informasi di lingkungan FISIP, LPM OPINI mencoba untuk terus eksis dan berkreasi, Menyumbangkan ide-ide kritis, dan kreatif terhadap permsalahan yang aktual dan terkini. kritik saran silahkan kirimkan ke opini_fisipundip@yahoo.com

Blog Stats

  • 70,546 hits

Top Clicks

  • None

Rubrik & Edisi

%d bloggers like this: